Aplikasi Pelacak Kebiasaan

Mengapa kita perlu “melacak” kebiasaan? [Tulisan pada bulan Mei 2015][belle] oleh Belle Beth Cooper di LifeHacker dapat dijadikan pertimbangan.

Saya telah melacak kebiasaan-kebiasaan saya –dan menghentikannya, selama beberapa tahun lalu, namun tatkala saya melewati bagian singkat tidak melacak kebiasaan-kebiasaan, saya tidak mengerjakan kebiasaan-kebiasaan itu juga. Sesuatu seperti proses memeriksa suatu kebiasaan setiap hari dan menjaga log kemajuan memang meningkatkan motivasi dan kemampuan saya untuk menyelesaikan kebiasaan tsb. setiap hari.

Continue reading →

2015

Hanya enam jam lagi, kami yang berada di zona waktu WIB akan memasuki tahun 2016. Tak terelakkan.

Yang menyedihkan: blog ini tidak memiliki satu tulisan pun untuk tahun 2015. Tidak perlu dicari-cari alasan sebagai pemakluman, karena hal ini sudah jelas-jelas keteledoran dan jauh dari disiplin.

Dengan berjingkat-jingkat, bertekad, dan berniat keras, #direktif tetap akan dihidupkan dengan tulisan. Insya Allah.

Tidak perlu alasan juga, ya, karena hal-hal seperti ini seharusnya kewajaran sehari-hari. Sama sekali tidak ada kaitan dengan pergantian tahun atau resolusi yang kerap menjadi tren di media sosial.

Demikian.

Kantong Tanaman untuk Kelola Sampah

Tulisan ini diniatkan sebagai kelanjutan tulisan tahun 2011 tentang pengelolaan sampah di kantor. Jika di tulisan sebelumnya kantor kami disebut memiliki lahan luas di belakang, sehingga saya dapat mengubur sampah organik dengan rotasi terhadap beberapa galian, sejak satu setengah bulan lalu kantor kami pindah ke lokasi baru yang berbeda sama sekali: lahan kosong terbatas.

Sampah tetap diproduksi dari kegiatan kantor. Tradisi lama untuk sampah saset camilan atau minuman harus dipertahankan: tempat sampah khusus sudah disiapkan sejak awal di lokasi baru. Bersama dengan kertas, jenis ini sudah terdefinisi jelas, tinggal diteruskan. Karena tidak memiliki pepohonan lagi sekarang, sampah daun kering jauh lebih sedikit. Sampah sisa makanan berjumlah tetap, hanya saja sekarang kami tidak memiliki binatang yang menghabiskan sisa makanan tsb. –sebelumnya penjaga kantor memelihara ayam dan sisa makanan habis dilahap ayam.

Salah seorang kenalan dekat menceritakan inisiatifnya menggunakan komposter untuk sampah buangan dapur di rumahnya. Semua tinggal dimasukkan ke dalam tong komposter, diciprati cairan pemercepat pembusukan, dan kira-kira 3 bulan kemudian setelah komposter penuh, pupuk kompos hasilnya dapat dipanen. Ini solusi praktis, di beberapa toko penyedia komposter, Kencana Online misalnya untuk Bandung, tersedia dengan harga kisaran Rp 700 ribu untuk ukuran sedang. Harga yang layak dibandingkan manfaatnya; walaupun buat yang suka kerajinan, membuat sendiri wadah komposter juga dimungkinkan dengan memanfaatkan tong bekas.

Continue reading →