Berbeda dengan persiapan yang cukup lengkap untuk blog-mikro di perjalanan menggunakan ponsel, saya terlalu yakin mengandalkan Gnome NetworkManager untuk laptop dan koneksi via IM2 selama mudik lebaran akhir September lalu. Ternyata bermasalah!

Sebelum menaikkan versi Ubuntu di laptop menjadi 8.10, Intrepid Ibex, saya masih berlama-lama dengan Gutsy Gibbon (7.10). Untuk keperluan akses ke modem Huawei E320 berbulan-bulan saya percayakan pada Vodafone Mobile Connect. Tidak ada masalah dan jauh lebih nyaman dibanding menelisik sekian setelan di konfigurasi Wvdial.

Interpid lebih memudahkan lagi: saat instalasi untuk jaringan, saya langsung ditanya lokasi negara, terpampang daftar penyedia layanan, saya pilih Indosat, dan cukup mengganti nama titik-akses, Access Point Name (APN), memasukkan identitas dan sandi akses, beres. Kecuali sejumlah kegagalan akses yang langsung mengunci sistem (dan belum terpecahkan hingga hari ini, walau jarang terjadi), saya gunakan NetworkManager Gnome ini di Bandung dan Jakarta. Tidak sempat diuji untuk koneksi di kondisi nyata “dunia ketiga”, yaitu Daerah Tingkat II.

Blog-mikro Selama Perjalanan Mudik Lebaran

| 6 Comments | No TrackBacks

Pada liburan lebaran tahun 2008 lalu, saya sudah mencoba menulis laporan perjalanan via blog-mikro. Eksperimen tahun lalu dilakukan dengan Sony Ericsson K510i untuk rute perjalanan Bandung-Mojokerto-Porong-Jember. Ongkos Rp 10/kB untuk XL saat itu membuat saya iri dibandingkan IM3 yang sepersepuluhnya.

Di tahun 2009 ini, semula saya tidak berencana mengulang eksperimen tahun lalu, namun pada pertengahan Ramadan 1430 H, paket Rame XL menggoda untuk dicoba. Saya pasang target:

  1. eksperimen dilakukan dengan ongkos layanan terjangkau,
  2. alat bantu selama eksperimen memanfaatkan yang sudah tersedia,
  3. materi mikro-blog berupa reportase subjektif,
  4. kepraktisan dan keberlangsungan reportase dijadikan prioritas.

Pada mulanya, seperti banyak situs Web informasi saat itu, media dalam format daring (online media) menampilkan berita searah. Situs Web berita — yang memang pengembangan dari edisi cetak, kecuali Detik.com — benar-benar memindahkan bentuk di atas kertas ke layar. Pada era perubahan halaman Web menjadi lebih benar secara semantik, perubahan besar yang terjadi adalah perbaikan penggunaan kode HTML mereka. Salah satu pendorongnya adalah ketinggalan telak pada hasil pencarian Google yang lebih awal memberi bobot signifikan pada aspek semantik Web.

Fasilitas komentar pembaca termasuk belakangan dipasangkan di media daring. Barangkali karena di edisi cetak respon dari pembaca sudah diakomodasi di rubrik Surat Pembaca, dengan gaya yang berbeda dibanding komentar di halaman Web. Akhirnya komentar per halaman — untuk berita, rubrik, opini, berita foto — ditambahkan. Seingat saya, Gatra Online yang lebih awal mulai menyediakan tempat komentar per halaman berita.

Comic Agustus 2009: Blog Foto yang Menawan Hati

| 9 Comments | No TrackBacks

Setelah rencana berkali-kali yang gagal dilaksanakan di grup Bandung Photoblogger Flickr, akhirnya pelaku blog-foto di Bandung bertemu di acara Comic untuk bulan Agustus. Acara dilaksanakan kemarin sore di Ruang Sekar, Kantor Telkom Jalan Supratman. Tema yang diangkat untuk acara diskusi santai ini adalah Photoblogging: Jurnal lewat Foto, dibawakan oleh Eric Setiawan dan Budi Sukmana. Budi menyampaikan presentasi pengantar selama 15 menit dilanjutkan dengan tanya-jawab dan obrolan, termasuk godaan Lomografi oleh Puti Karina Puar.

What Is Photoblog?

Bertambah lengkap dengan kedatangan Dicky Juwono, provokasi untuk menyediakan blog-foto kali ini “menyentuh perasaan.” Hal ini terlihat dari aliran diskusi di Twitter satu jam setelah presentasi yang berisi cetusan keinginan hadirin untuk mulai “menenteng kamera ke mana-mana” — sebuah motivasi khas blog-foto.

Speedy di Bandung (Respon untuk Arie)

| 8 Comments | No TrackBacks

Arie Kusuma Atmaja menanyai saya ihwal Speedy di Bandung. Betul, saya pengguna Speedy sejak periode awal mereka membuka layanan Internet di Bandung. Dimulai dengan keperluan Internet di rumah, setelah itu di kantor. Praktis pada pemakaian pertama tanpa gangguan yang berarti — kecuali sempat tersedak ringan saat Paket Personal dipakai melebihi kuota dan dipaksa pindah ke paket yang lebih tinggi. Berikutnya, pemakaian Speedy di kantor yang sempat melewati liku-liku mencari solusi dengan menerka-nerka.

Saya sempat menuliskan permasalahan Speedy secara sporadis di Plurk, sebagai gumam tukang awas modem di kantor (secara resmi disebut “administrator jaringan lokal”) terutama pada musim hujan lalu. Indikasi paling mencolok saat itu adanya interupsi di modem (semacam kejutan, voltage spike?) setiap kali kilat menyambar jauh di sana.

Layanan Pemendek URL dan Siteous

| 5 Comments | No TrackBacks

Saya kenal dan mulai menggunakan jasa pemendek URL lima tahun lalu, TinyURL. Saat itu TinyURL diperlukan untuk membantu penulisan URL dalam email. Selain memang tidak nyaman melihat URL yang super-panjang (apalagi saat itu tautan permanen yang rapi belum populer seperti sekarang), beberapa klien email memenggal URL di dalam pesan email dengan semena-mena, tidak jarang menjadi cacat dan gagal digunakan.

Hari-hari ini jasa pemendekan URL laris-manis, antara lain disebabkan oleh popularitas blog-mikro yang memang berlomba meringkas pesan sepanjang ukuran SMS. Secara logis, URL yang pertama harus dibuat super-pendek, karena dia diperlukan oleh komputer, bukan manusia. Pengguna dan klien alat bantu Twitter terlihat paling getol menampilkan variasi layanan pemendek URL. Untuk produk dalam negeri, dengan sedikit kegaduhan, akhirnya Siteous yang ditulis dan dikelola Adham Somantrie, diluncurkan.

Jejaring Sosial dan Usia Calon Pengguna

| 5 Comments | No TrackBacks

Jejaring sosial kian ramai dan menarik di sekitar kita, tidak ada yang menyangkal. Bagaimana dengan anak-anak?

Sekitar setengah tahun lalu kedua anak saya — kelas 7 dan 5 — menyebut Friendster dengan merujuk pada teman-teman di sekolahnya. Saya yang sedang memikirkan kegiatan produktif untuk mereka di ranah maya — tanpa pikir panjang — tertarik. Karena saya sudah meninggalkan Friendster, saya jelaskan hal umum tentang jejaring sosial dan secara persuasif mengarah ke Facebook. Melihat saya sering menulis di Plurk, timbul juga pertanyaan dari mereka, “Untuk apa sebenarnya menulis di sana?”

Sebelumnya mereka sudah punya akun di Yahoo! Messenger dan lebih awal lagi di MSN. Alasan yang paling sederhana: keperluan mereka bercakap-cakap dengan teman lewat penyeranta. MSN populer di Groningen, Belanda, dan mereka pindah ke YM setelah memiliki teman daring di Bandung. Saya ingat pendaftaran di Yahoo! saat itu lewat fasilitas “di bawah pantauan orang tua.” Jika tidak keliru, Yahoo! Kids memungkinkan hal tersebut: akun anak-anak dibuat dengan supervisi akun orang tua.

Mendambakan Koneksi Internet yang Baik di Sembarang Waktu

| 7 Comments | No TrackBacks

Ini adalah fenomena besar yang barangkali sangat mudah dijelaskan: koneksi Internet seluler yang saya gunakan hampir selalu lebih bagus di pagi hari, sekitar subuh hingga jam berangkat ke kantor. Seringkali kita di Indonesia tidak perlu penjelasan muluk-muluk untuk kejadian seperti ini, seperti halnya sedikit kecerobohan sudah cukup untuk menjelaskan terjadinya musibah.

Barangkali setelah pukul 4 dini hari, para tukang unduh, penonton film Youtube, pemrogram yang sibuk mengakses pustaka dan dokumentasi, dan kelompok-kelompok gerilyawan malam lain, sudah usai dengan misi suci pasca-jam kerja. Seperti “After Dark”, merk utilitas penghemat layar monitor generasi awal.

Era Facebook

| 6 Comments | No TrackBacks

Era Facebook telah datang di negeri kita. Akhir 2008 dan awal 2009 menyambut kedatangan Facebook untuk sejuta umat. Setelah periode terbatas di sekitar pecandu Web, usai eksperimen tim pemenangan para politisi dengan memasukkan jago-jago mereka bertualang mencari kawan (ingat: tiada kawan atau lawan yang abadi dalam politik!), eksodus besar dari Friendster disertai sedikit hasutan untuk bergabung di tempat baru, hari-hari ini Facebook disebut sama kerapnya dengan Blackberry dan kemarin sudah dikartunkan di Benny dan Mince, Kompas Minggu.

Jumlah pemakai Facebook masih dianggap lebih sedikit dibanding Friendster, namun ukuran yang lebih layak saat ini adalah tingkat pertumbuhan dan aktivitas. Selain itu, beberapa pemakai Facebook yang lebih akhir bergabung malah menjadi “pendakwah” aktif dengan pertanyaan pembuka di telepon atau Yahoo! Messenger, “Sudah punya Facebook?” Barisan ini ditambah sejumlah tag foto-foto jadul (jaman dulu) yang secara provokatif mendatangkan pengguna baru lewat tag dan undangan.

Hari yang Cerah...

| 2 Comments | No TrackBacks

Catatan: Hari yang Cerah terinspirasi dari judul lagu Peterpan, grup musik asal Bandung, Hari yang Cerah untuk Jiwa yang Sepi. Judul itu juga digunakan untuk foto yang saya ambil di depan gedung PAU Mikroelektronika, ITB, dengan membuka lensa lebih lama, agar terang-benderang.

Hari Yang Cerah...

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Google Friend Connect

Recent Comments

  • Fitri: informasinyaberguna skali. trima kasih. read more
  • bolehngeblog:Blog Ilmu Pengetahuan dan Bisnis: informasinya bagus sekali..trims..kunjungi juga Bolehngeblog, karena ada juga informasi ttg read more
  • gajah_pesing: kunjungan perdana mohon izin baca-baca blognya, terima kasih read more
  • Sigit brandal poppies: Gmn kceptan pke flashmdem,stabil ga? read more
  • IJ Styles: Ini tidak baik, bahwa tidak semua tempat memiliki sinyal 3G read more
  • komuter: ubuntu…. saya juga gagalgagalterus tuh… sekarang balik ke jendela read more
  • DeNi: Ikut baca dan salam kenal ti Karawang ya bos :) read more
  • indra: koneksi nya LEMOT.. iklan nya palzu semua.. masih cepat sepeda read more
  • cristina: Pak Akmal… thanks banget ya, udah mengulas tulisan saya. Trafik read more
  • Ikhlasul Amal: @jarwadi: belum, selama ini saya hanya menggunakan Vodafone Mobile Connect read more
OpenID accepted here Learn more about OpenID
Powered by Movable Type 4.261