Di akhir tahun lalu kantor kami kedatangan tim survei yang dilakukan oleh teman-teman di Bandung High Tech Valley (BHTV). Kuesioner yang diajukan berasal dari salah satu instansi pemerintah daerah (saya lupa, Pemkot Bandung atau Pemda Jawa Barat). Pertanyaan terakhir tentang harapan pelaku bisnis terhadap iklim usaha, di Bandung secara khusus sebagai ibukota Provinsi Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya. Bos di kantor — ya, ini UKM, bos sendiri yang menjawab survei — merespon sudah bosan dengan korupsi.
Barangkali ini jawaban klise, namun saya tetap berharap dengan sangat bahwa tidak perlu menjadi pahlawan untuk lantang menolak korupsi, melainkan sepatutnya menjadi keniscayaan sehari-hari. Terutama bagi kami, para pelaku usaha kecil (jika Anda merasa tergerak, langsung ubah menjadi kita!). Korupsi sering menjengkelkan: sudah harus akrobat menyiasati hidup, masih juga dicekik di sana dan di sini dengan pat-gulipat angka. Bahkan pengalaman saya sendiri, secara pribadi, sering sebal dengan tipu-tipu recehan seperti permainan tanda tangan, daftar hadir, dan sejenisnya. Kesannya sepele dan semacam “menipu untuk kebaikan” (white lies), namun mana ada seperti itu? Lebih mengerikan lagi, jika kita menyepelekan suatu bentuk kemungkaran, dampaknya akan menjadi akut dan sudah berbatas sangat tipis dengan kejahatan yang lebih besar lagi.
Bukan, bukan saya sok suci, sudah imun dari hal buruk seperti korupsi. Justru sebaliknya, karena merasakan betapa mengerikan tinggal di negara yang seperti tidak peduli lagi dengan kebusukan lewat korupsi, seringkali masa depan terasa gelap. Seolah-olah kita menganggukkan setuju untuk semua kompromi terhadap keadaan di luar dan kemudian mencari berbagai pembenaran.
Recent Comments