Pindahan

Sejak tahun 2004 saya memiliki akun di DreamHost dan kemungkinan satu atau dua tahun setelahnya saya berlangganan salah satu layanan mereka. Dianggap murah-meriah karena banyak kebebasan diberikan: bebas nama domain, bebas membuat akun pengguna, bebas ukuran penyimpanan, dan bebas lalu-lintas koneksi. Tentu, di dunia yang fana ini, termasuk di dunia maya, tidak ada sesuatu yang benar-benar tak-terbatas, lebih tepatnya: batas yang disediakan mereka (tersurat atau tersirat) masih jauh di atas keperluan kami, saya dan teman-teman yang akhirnya memanfaatkan layanan hosting di DreamHost.

DreamHost pada tahun 2004, diambil lewat Wayback Machine

Perpanjangan demi perpanjangan langganan per dua tahun senantiasa diusahakan lancar, namun tetap ada pertimbangan akal sehat: apakah kegiatan saya di layanan hosting ini sepadan dengan ongkos yang dibelanjakan. Awal dan paling penting, tujuan saya berbelanja tempat hosting adalah untuk kegiatan blog, atau sesekali diperluas sedikit, untuk media sosial.

“Masih nge-blog?,” adalah pertanyaan yang kerap terngiang, lebih mengharukan lagi jika saudara penanya adalah pemirsa pada tahun-tahun silam –sudah masuk kategori “jadul” untuk generasi sekarang. Saya jawab sejujurnya: masih diusahakan. Bukan jawaban pemanis bibir atau penggembira harapan, namun memang masih merasa terpanggil untuk kembali aktif menulis. Facebook, Twitter, apalagi WhatsApp bukan termasuk tempat tulisan panjang dan serius, walaupun posting panjang di Facebook lumrah saja dan tidak ada jaminan di blog pribadi termasuk kategori serius. Namanya juga persepsi, diterima saja!

Beberapa bulan lalu di salah satu grup WhatsApp, salah seorang anggota menulis tentang usaha mereka menyediakan layanan awan (cloud) dan benar-benar secara fisik dibangun di Indonesia. Ini impresi yang baik, mengingat jumlah penyelenggara layanan tsb. yang benar-benar menekuni sendiri secara teknis belum cukup banyak atau kalah pamor dibanding dengan para perintis di mancanegara. Tergerak untuk mengapresiasi usaha mereka. Terakhir dan penting: harga yang disodorkan mereka terjangkau.

Kembali pada DreamHost yang pada perpanjangan tahun 2021 ini menyodorkan kenaikan harga. Alasan mereka dapat diterima, yakni sudah bertahun-tahun tidak ada kenaikan –namun di sisi saya tetap berubah karena dalam kurs dolar Amerika Serikat. Dihitung, nilai akhirnya terasa besar, berlebih untuk keperluan penyelenggaraan berbagai situs web yang sejauh ini belum sampai dapat dipanen. Belum ada acara monetisasi secara langsung!

Agar berimbang, berikut pertimbangan dengan bertahan di DreamHost:

  1. Kenaikan harga sebenarnya masih dalam kategori pantas, sayangnya situs yang dikelola di sana belum berhasil mengimbangi kenaikan tsb.
  2. Fasilitas yang diperoleh, yakni ruang penyimpanan, lalu-lintas data, dan akun pemakai serta nama domain sudah seperti tak-terbatas untuk skala hosting bersama (shared hosting).
  3. Terlalu lama menikmati kemapanan. Praktis nyaris semua urusan diselesaikan lewat panel web mereka.

Pertimbangan agar harus pindah:

  1. Rencana pindah ini sudah lama dan tertunda selalu.
  2. Harga layanan hosting di tempat lain lebih sesuai –tidak selalu lebih murah– dengan kondisi keperluan saya yang belum terlalu padat. Dengan kata lain: pemakaian di DreamHost tidak optimal selama ini.
  3. Terdapat sejumlah keperluan lebih dari sekadar shared hosting, semisal akses ke sistem dengan akun root.

Setelah bertimbang-timbang beberapa hari (dan waktu mendekati habis!), akun di IDCloudHost dibuat dan ikut skema pembayaran bulanan. Perihal skema pembayaran ini juga meringankan, mengikuti sejumlah tagihan bulanan lainnya, kendati skema beberapa bulan sekaligus dapat menguntungkan karena tenang dalam beberapa periode mendatang dan semisal ada kenaikan harga, baru berdampak pada siklus pembayaran berikutnya nanti.

Tampilan IdCloudhost pada hari ini, 2 November 2021

Baiklah, paket minimal pun dihitung cukup, pasang Ubuntu 20.04 LTS yang memang sudah terbiasa dipakai di laptop. Selanjutnya, terjadi arus impor bahan mentah dari negeri jauh di sana lewat scp.

Seperti halnya memiliki server fisik sendiri, semua disiapkan swakarya! Ini tantangan berikutnya dan akan dilanjut pada tulisan mendatang, insyaallah.