Lagi-lagi Google

Kemarin sore saya berkesempatan diundang makan malam teman pengembang aplikasi berbasis GIS. Di tengah pembicaraan bebas diselingi beberapa trik ringan optimasi untuk server Apache, model pengaksesan ke dua basisdata untuk aplikasi di atas Code Igniter, saya menceritakan “kedigdayaan” dan kepraktisan penggunaan layanan Google Apps untuk email yang telah membantu banyak organisasi.

Dia menambahi dengan pengalaman kerepotan salah seorang pengelola layanan email kantor yang disusun sendiri. Sejak penyiapan infrastruktur agar server email tsb. siap mengirim dan menerima, hingga kemudian komplain-komplain dari pengguna pasal kecepatan dan galat sistem. Saya pernah mendengar penuturan serupa di tempat lain, Pakai webmail di kantor sendiri kok malah lebih lambat? Belum lagi keterbatasan ukuran lampiran yang dapat dikirimkan.

Continue reading →

Perubahan Setelan Subdomain di ZoneEdit

Bermula dari laporan teman yang menggunakan salah satu situs web kami untuk aplikasi pelacakan (tracking), subdomain www gagal diakses. Saya coba banding-bandingkan hasil antara menggunakan www dan tidak, ternyata memang ada perbedaan hasilnya dan ini persoalan di DNS.

Hasil pemeriksaan lanjutan: domain tsb. dikelola lewat ZoneEdit dan dilanjutkan dengan kunjungan ke situs ZoneEdit, tampilan berubah. Penjelasan dari layar log masuk, mereka sedang melakukan migrasi pengguna dan sebagian yang belum selesai tetap dapat mengakses antarmuka lewat legacy.zoneedit.com. Hasil query DNS dengan perintah host diketahui bahwa subdomain www diarahkan ke subdomain ZoneEdit. Agak janggal dan berakibat kegagalan diakses oleh pengunjung terutama yang selalu menambahi www di depan.

Continue reading →

Meletakkan Server di Kantor Sendiri

Di tahun 2002 hingga 2005 saya pernah mengurus server yang melayani akses dari publik dan ditempatkan di rumah. Server tersebut berupa komputer personal biasa, AMD Athlon seingat saya, dipasangi Debian dan bertugas utama menjalankan server web Apache, beberapa aplikasi web yang ditulis di atas PHP, sebagian kecil Perl, dan untuk keperluan komputer desktop saya. Alasan awalnya sederhana: dana hanya untuk beli komputer, tinggal di negara dengan koneksi Net bagus (terakhir kami dapat 4 Mbps downstream), dan petualangan kecil-kecilan.

Infrastruktur lain juga mendukung: tidak pernah ada gangguan aliran listrik, suhu ruang server terjaga dengan cara jendela dibuka: udara dingin subtropis menyediakan temperatur sekitar suhu ruang server selama sembilan bulan dalam setahun dan tiga bulan musim panas memang sedikit mengkhawatirkan — untunglah, selamat. Di musim dingin, justru saya yang harus mengenakan jaket tebal di ruangan tsb. dan Ismail Fahmi — yang sering datang untuk bergabung menulis program miliknya — perlu melapisi jari-jemarinya dengan sarung tangan yang terbuka di ujung.

Continue reading →