Godaan Alat-alat Bantu

Menjelang akhir dasawarsa 1980-an, saat pengolah kata mulai digunakan sejumlah terbatas pemilik komputer pribadi, saya ingat Kompas Minggu pernah menurunkan tulisan khusus tentang perangkat lunak tsb. Dengan foto monitor komputer menampilkan WordStar, tulisan utama di Kompas Minggu menyajikan kemudahan penggunaan pengolah kata, namun di sisi lain juga dipilihkan seorang penulis sohor yang menolak penggunaan pengolah kata. Dalih yang digunakan: aneka fasilitas pengolah kata menjadikannya sibuk mengotak-atik fasilitas tsb. dan mengurangi proses kreatif penulisan.

Jangan heran: mendapati sebuah alat bantu yang sangat memudahkan perataan paragraf di sisi kiri dan kanan sudah mencengangkan saat itu. Saya yang tidak pernah merasakan mesin ketik listrik — dan hanya berbekal cara yang diajarkan di mata pelajaran mengetik untuk mendapatkan paragraf rata kanan — seperti melompat jauh di depan WordStar. Ada hal benar yang disampaikan penulis di atas: kemudahan mengetik dan mengoreksi menjadikan proses “berpikir matang sebelum jari mengetik” berkurang. Yang penting ketik dulu. Mirip dengan penggunaan kamera digital hari-hari ini: bidik, jepret, jika perlu dikoreksi dapat diulang atau dipilihkan dari sekian jepretan; dan bahkan penyuntingan setelah sesi pemotretan pun menolong.

Continue reading →