Godaan Alat-alat Bantu

Menjelang akhir dasawarsa 1980-an, saat pengolah kata mulai
digunakan sejumlah terbatas pemilik komputer pribadi, saya ingat
Kompas Minggu pernah menurunkan tulisan khusus tentang perangkat
lunak tsb. Dengan foto monitor komputer menampilkan
[WordStar](http://en.wikipedia.org/wiki/WordStar “‘WordStar’ di Wikipedia”),
tulisan utama di Kompas Minggu menyajikan kemudahan penggunaan
pengolah kata, namun di sisi lain juga dipilihkan seorang penulis
sohor yang menolak penggunaan pengolah kata. Dalih yang digunakan:
aneka fasilitas pengolah kata menjadikannya sibuk mengotak-atik
fasilitas tsb. dan mengurangi proses kreatif penulisan.

Jangan heran: mendapati sebuah alat bantu yang sangat memudahkan
perataan paragraf di sisi kiri dan kanan sudah mencengangkan saat
itu. Saya yang tidak pernah merasakan mesin ketik listrik — dan
hanya berbekal cara yang diajarkan di mata pelajaran mengetik untuk
mendapatkan paragraf rata kanan — seperti melompat jauh di depan
WordStar. Ada hal benar yang disampaikan penulis di atas: kemudahan
mengetik dan mengoreksi menjadikan proses “berpikir matang sebelum
jari mengetik” berkurang. Yang penting ketik dulu. Mirip dengan
penggunaan kamera digital hari-hari ini: bidik, jepret, jika perlu
dikoreksi dapat diulang atau dipilihkan dari sekian jepretan; dan
bahkan penyuntingan setelah sesi pemotretan pun menolong.

Continue reading →