Meletakkan Server di Kantor Sendiri

Di tahun 2002 hingga 2005 saya pernah mengurus server yang melayani akses dari publik dan ditempatkan di rumah. Server tersebut berupa komputer personal biasa, AMD Athlon seingat saya, dipasangi Debian dan bertugas utama menjalankan server web Apache, beberapa aplikasi web yang ditulis di atas PHP, sebagian kecil Perl, dan untuk keperluan komputer desktop saya. Alasan awalnya sederhana: dana hanya untuk beli komputer, tinggal di negara dengan koneksi Net bagus (terakhir kami dapat 4 Mbps downstream), dan petualangan kecil-kecilan.

Infrastruktur lain juga mendukung: tidak pernah ada gangguan aliran listrik, suhu ruang server terjaga dengan cara jendela dibuka: udara dingin subtropis menyediakan temperatur sekitar suhu ruang server selama sembilan bulan dalam setahun dan tiga bulan musim panas memang sedikit mengkhawatirkan — untunglah, selamat. Di musim dingin, justru saya yang harus mengenakan jaket tebal di ruangan tsb. dan Ismail Fahmi — yang sering datang untuk bergabung menulis program miliknya — perlu melapisi jari-jemarinya dengan sarung tangan yang terbuka di ujung.

Continue reading →

“Indonesia Dot Com” di Akhir Tahun

Kompas Minggu terakhir untuk tahun 2010 kemarin berisi koleksi tulisan “renungan akhir tahun” tentang Indonesia masa kini berkait dengan era media digital. Bre Redana yang memang memiliki spesialisasi tulisan kehidupan dan gaya hidup urban mengawali dengan Menuju Indonesia.com di halaman depan dan menorehkan catatan “Selamat Tahun Baru” dengan gayanya di Dunia Artifisial. Sebagai kelengkapan, paparan dari sisi sosial budaya dicetuskan di Robohnya Batas Kita oleh Sarie Febriane dan Putu Fajar Arcana, aspek bisnis dengan pendekatan contoh kasus yang membumi di Rendang Pun “Berselancar” di Internet, dan tidak tertinggal fiksi mini yang menjadi metafor pengaruh Twitter di penutup dasawarsa pertama abad ini, Kembali pada Komunalitas.

Karena ini ihwal media, dengan slogan akbar, media itu sendirilah pesannya (medium is the message), penjelasan beberapa pakar lewat literatur dan wawancara melengkapi kajian urban kita tentang Indonesia masa depan. Pengertian “urban” pun sudah meluas di Pulau Jawa, karena seperti ditengarai Syumanjaya di tahun 1980-an, “Kota Jawa”, bukan pulau lagi. Suatu pulau dalam pengertian geografi yang mengakomodasi dunia nyata dan ranah maya dengan sama gaduhnya.

Continue reading →