“Indonesia Dot Com” di Akhir Tahun

Kompas Minggu terakhir untuk tahun 2010 kemarin berisi koleksi tulisan “renungan akhir tahun” tentang Indonesia masa kini berkait dengan era media digital. Bre Redana yang memang memiliki spesialisasi tulisan kehidupan dan gaya hidup urban mengawali dengan [Menuju Indonesia.com](http://cetak.kompas.com/read/2010/12/26/04355487/menuju.indonesia.com) di halaman depan dan menorehkan catatan “Selamat Tahun Baru” dengan gayanya di [Dunia Artifisial](http://cetak.kompas.com/read/2010/12/26/03323755/dunia.artifisial.kita). Sebagai kelengkapan, paparan dari sisi sosial budaya dicetuskan di [Robohnya Batas Kita](http://cetak.kompas.com/read/2010/12/26/03493366/robohnya.batas.kita) oleh Sarie Febriane dan Putu Fajar Arcana, aspek bisnis dengan pendekatan contoh kasus yang membumi di [Rendang Pun “Berselancar” di Internet](http://cetak.kompas.com/read/2010/12/26/03392011/rendang.pun.berselancar.di.internet), dan tidak tertinggal fiksi mini yang menjadi metafor pengaruh Twitter di penutup dasawarsa pertama abad ini, [Kembali pada Komunalitas](http://cetak.kompas.com/read/2010/12/26/03060355/kembali.pada.komunalitas).

Karena ini ihwal media, dengan slogan akbar, media itu sendirilah
pesannya
(medium is the message), penjelasan beberapa
pakar lewat literatur dan wawancara melengkapi kajian urban kita
tentang Indonesia masa depan. Pengertian “urban” pun sudah meluas di
Pulau Jawa, karena seperti ditengarai Syumanjaya di tahun 1980-an,
“Kota Jawa”, bukan pulau lagi. Suatu pulau dalam pengertian
geografi yang mengakomodasi dunia nyata dan ranah maya dengan sama
gaduhnya.

Continue reading →