Blog Berbasis Halaman Statis

Ini penyakit lama jika sudah mulai peduli menulis blog kembali:
otak-atik alat bantu. Ya, mesin blog atau blog engine.
Bertepatan pula, beberapa hari lalu Rizqi Jamaluddin menulis tentang
[alat bantu baru yang digunakan][rizqi], [Kirby][kirby]. Tambah bikin penasaran.

Lebih dari sekadar Kirby, alat bantu blog berbasis berkas
(file-based) menggiurkan dibandingkan pendekatan klasik
basisdata yang lebih umum diterima. Sebenarnya semacam retrospeksi,
kembali ke gaya lama, karena secara umum situs web dimulai dari
halaman statis representasi berkas HTML. Selanjutnya materi yang dinamis diimbangi
dengan halaman web yang dihasilkan secara dinamis pula, lewat
pemrograman dan langkah selanjutnya dibantu basis data.

Continue reading →

01: Memilih Alat Bantu

Selama menemani pemrogram menyelesaikan satu pekerjaan di tempat mitra bisnis kantor, terbetik keinginan menulis kode untuk menyederhanakan aplikasi yang sudah dan sedang dibuat. Ada beberapa hal yang tampak dapat disederhanakan, walaupun saya tidak patut menyepelekan. Alasan latar belakangnya bermacam-macam, lebih baik berfokus pada pengalaman teknis, yang akan dapat juga dijadikan tulisan bersambung – mengapa tidak?

Bagian pertama: alat bantu apa yang dapat saya pilih?

Pertimbangan penting: aplikasi ini berjalan di server Windows, bergaya tampilan desktop klasik. Rincian: Windows Server 2003 – belum ada tanda-tanda akan diganti dengan Windows Server 2008 (saya malah baru menyadari ini generasi berikutnya); basis data pun masih dibiarkan Oracle versi lama, 8.05.

Continue reading →

Godaan Alat-alat Bantu

Menjelang akhir dasawarsa 1980-an, saat pengolah kata mulai
digunakan sejumlah terbatas pemilik komputer pribadi, saya ingat
Kompas Minggu pernah menurunkan tulisan khusus tentang perangkat
lunak tsb. Dengan foto monitor komputer menampilkan
[WordStar](http://en.wikipedia.org/wiki/WordStar “‘WordStar’ di Wikipedia”),
tulisan utama di Kompas Minggu menyajikan kemudahan penggunaan
pengolah kata, namun di sisi lain juga dipilihkan seorang penulis
sohor yang menolak penggunaan pengolah kata. Dalih yang digunakan:
aneka fasilitas pengolah kata menjadikannya sibuk mengotak-atik
fasilitas tsb. dan mengurangi proses kreatif penulisan.

Jangan heran: mendapati sebuah alat bantu yang sangat memudahkan
perataan paragraf di sisi kiri dan kanan sudah mencengangkan saat
itu. Saya yang tidak pernah merasakan mesin ketik listrik — dan
hanya berbekal cara yang diajarkan di mata pelajaran mengetik untuk
mendapatkan paragraf rata kanan — seperti melompat jauh di depan
WordStar. Ada hal benar yang disampaikan penulis di atas: kemudahan
mengetik dan mengoreksi menjadikan proses “berpikir matang sebelum
jari mengetik” berkurang. Yang penting ketik dulu. Mirip dengan
penggunaan kamera digital hari-hari ini: bidik, jepret, jika perlu
dikoreksi dapat diulang atau dipilihkan dari sekian jepretan; dan
bahkan penyuntingan setelah sesi pemotretan pun menolong.

Continue reading →