<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#direktif</title>
	<atom:link href="http://direktif.web.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://direktif.web.id</link>
	<description>Catatan dan Pengalaman di lingkungan Teknologi Informasi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Apr 2012 16:44:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Presentasi &#8220;Keluarga dan Media Baru&#8221;</title>
		<link>http://direktif.web.id/2012/04/keluarga-dan-media-baru/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=keluarga-dan-media-baru</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2012/04/keluarga-dan-media-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 02:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[media baru]]></category>
		<category><![CDATA[pornografi]]></category>
		<category><![CDATA[presentasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Minggu, 15 April, saya diundang untuk menyampaikan materi berkaitan dengan anak dan risiko pornografi. Penyelenggara acara adalah orang tua (lebih spesifik, &#8220;ibu-ibu&#8221;) Sekolah Alam Bandung dan merupakan bagian dari tema keorangtuaan (parenting). Ibu Erlyza Prasty yang mengontak saya pada awalnya, &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2012/04/keluarga-dan-media-baru/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu, 15 April, saya diundang untuk menyampaikan materi berkaitan dengan anak dan risiko pornografi. Penyelenggara acara adalah orang tua (lebih spesifik, &#8220;ibu-ibu&#8221;) Sekolah Alam Bandung dan merupakan bagian dari tema keorangtuaan (<i>parenting</i>). Ibu <a href="https://www.facebook.com/erlyza">Erlyza Prasty</a> yang mengontak saya pada awalnya, lewat Facebook. Bertempat di Rumah Bermain &#8220;Bumblebee&#8221;, Jalan Cipedes Tengah, Bandung, acara dimulai sesuai rencana, pukul&nbsp;9 dan usai sekitar pukul&nbsp;16.30. Saya menjadi salah satu dari tiga pembawa materi, bersama Ibu Rani Razak Noe&#8217;man dan Pak <a href="https://www.facebook.com/profile.php?id=100002531364572">Aldino Adry Baskoro</a>. Ibu Rani, dari Komunitas Cinta Keluarga, adalah penyaji materi berkaitan dengan keluarga dan belakangan ini lebih spesifik menangani sejumlah kasus dampak pornografi; sedangkan Pak Aldino guru kelas&nbsp;6 di Sekolah Alam Bandung &#8212; saya sudah kenal baik sejak anak kedua saya duduk di bangku kelas&nbsp;6.</p>

<p><span id="more-147"></span></p>

<p>Dikaitkan dengan pornografi, acara ini kesempatan kedua: di bulan Juni 2010 lalu, saya pernah diundang <a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/4698258598/">berdiskusi <i>Cyber Ethics</i></a> di forum Masjid Salman <abbr title="Institut Teknologi Bandung">ITB</abbr> bersama <a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/4693875367/">Danrivanto Budhijanto</a>, staf ahli <acronym title="Kementrian Komunikasi dan Informatika">Kominfo</acronym>. Setelah mendapat pengantar dari panitia lewat surel, saya berikan kata kunci yang tepat: &#8220;Internet Sehat&#8221;. Selain karena acara ini berlatar belakang akses Internet oleh anggota keluarga, manfaat Internet lebih berpotensi sebagai harapan daripada kemurungan &#8220;Internet sebagai media bermasalah untuk keluarga&#8221;.</p>

<p>Saya coba mengumpulkan bahan-bahan terkait dari situs <a href="http://ictwatch.com/internetsehat">Internet Sehat</a>, namun tampaknya situs ini menjadi kliping berita media massa dan album foto kegiatan, sedangkan penjelasan dan bahan tulisan hampir tidak ada. Daripada mempermasalahkan aktivitas pihak lain, saya teringat koleksi infografis di Pinterest &#8212; situs jejaring sosial berbasis media grafis yang mulai dapat saya nikmati. Benarlah, lewat koleksi infografis beberapa teman atau <a href="http://pinterest.com/search/?q=infographics">lewat kata kunci &#8220;infographics&#8221;</a>, tampil fakta yang disajikan dalam gaya poster, dalam jumlah banyak.  Hal ini saya anggap sebagai <a href="https://plus.google.com/u/0/100145856129045595138/posts/EPUtjfqVPyh">kesempatan pertama merasakan langsung manfaat Pinterest</a>.</p>

<p>Praktis perangkat lunak daring banyak membantu saya: presentasi disusun di Google Documents, koleksi tautan terkait saya sediakan di Springpad.</p>

<p>Materi pertama tentang kondisi nyata di Indonesia, yakni anak-anak dan ancaman nyata pornografi. Bu Rani memulai dengan globalisasi dan kompetisi yang kian ketat di masa mendatang, dengan kontradiksi risiko &#8220;generasi yang hilang&#8221; sebagai dampak buruk aneka media yang membawa materi buruk, terutama pornografi. Ilustrasi penjelasan diambilkan dari koleksi potongan acara televisi &#8212; sinetron, percakapan, hingga berita; tambahan lain yang menjadi sorotan adalah Internet, sebagai media baru. Sejumlah kasus nyata yang terjadi di masyarakat memang mengindikasikan terjadi pergeseran signifikan dari sisi kecepatan perolehan informasi &#8212; yang berarti juga memiliki risiko membawa materi yang tidak patut. Pergeseran ini sayangnya belum diimbangi &#8220;ketahanan&#8221; publik dalam bentuk pemahaman dan daya tapis.</p>

<blockquote><p><i>Smartphone is getting smarter and cheaper, while most of its users stay not yet so smart enough.</i></p></blockquote>

<p>Tiga jam kami mendengarkan paparan Bu Rani, termasuk beberapa simulasi untuk lebih menghargai anak-anak, melihat kelebihan dibanding kekurangan mereka, dan diakhiri dengan harapan besar agar orang tua bersungguh-sungguh, &#8220;berperang menghadapi kemunduran yang terjadi di negeri ini&#8221;. Termasuk sindiran tentang Indeks Pengembangan Manusia (<cite>Human Development Index</cite>) yang menempatkan Indonesia di bawah Palestina; dengan ungkapan lain: jika hendak berperang, di Indonesia lebih diperlukan, melawan musuh yang merusak dan tidak tampak. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_Human_Development_Index#Medium_human_development">Catatan dari Wikipedia</a>: Indonesia berada di peringkat ke-124 dengan tanda peningkatan, sedangkan Palestina di peringkat ke-114 dengan kondisi datar.</p>

<blockquote><p>Jika dikatakan Indonesia lebih liberal daripada negara liberal sekalipun, yang lebih tepat adalah &#8220;di sini masih jahiliyah&#8221;.</p></blockquote>

<p>Saya bawakan materi berjudul <cite>Keluarga dan Media Baru: Akses Internet dengan Sehat</cite>. Presentasi saya juga diawali dengan isu globalisasi yang sering diangkat sebagai pertanda gamblang abad&nbsp;XXI; untuk keperluan tsb. isu utama di awal abad ini diambilkan dari poin-poin di Wikipedia.</p>

<iframe class="scribd_iframe_embed" src="http://www.scribd.com/embeds/90233560/content?start_page=1&#038;view_mode=list&#038;access_key=key-1alxbvrp3uszdypzio0o" data-auto-height="true" data-aspect-ratio="1.33333333333333" scrolling="no" id="doc_84413" width="100%" height="600" frameborder="0"></iframe>

<p>Penekanan berikutnya yang saya angkat adalah faktor skala: saat ini kita, sebagai penduduk Indonesia dan warga dunia, berhadapan dengan angka-angka yang luar biasa besar, terutama berkaitan dengan jumlah penduduk dan aktivitas yang dihasilkan, yang sudah tentu membawa dampak terhadap jumlah pengguna dan frekuensi akses media baru. Hal ini termasuk tanggapan saya terhadap pernyataan yang sering saya dengar, seperti, &#8220;sekarang ini maksiat kian banyak dan merajalela&#8221;.  Perlu kita sadari: <em>seberapa banyak</em> dibanding peningkatan jumlah manusia sebagai pelakunya; dan juga <em>seberapa luas</em> dibanding jelajah manusia yang juga kian luas. Demikian pula tentang kualitas persoalan: perlu digunakan acuan sebagai indikator untuk pernyataan <em>peningkatan</em>.</p>

<p>Proses dan kemajuan lebih penting diangkat daripada status kondisi, untuk hal ini saya ajukan sejumlah inisiatif dan langkah praktis berkaitan dengan akses media baru yang baik di lingkungan anak-anak, baik di rumah atau di sekolah. Saran dan langkah-langkah praktis yang ditulis di sejumlah situs web dan pengalaman saya bersama anak-anak dikelompokkan dalam kategori ini. Saya ulang pula ajakan untuk tertib, taat aturan main, dan bersikap jujur di ranah maya, karena seharusnya urusan akhlak baik yang benar berlaku untuk semua orang dan di semua tempat. Hal-hal seperti ini diangkat sebagai &#8220;apresiasi terhadap anak&#8221;, bukan pengawasan yang berlebihan.</p>

<p>Terakhir adalah langkah praktis pengenalan alat bantu yang mendukung. Penting disadari bahwa alat bantu bekerja sesuai fungsinya dan bukan &#8220;obat segala penyakit&#8221;. Fungsi mereka membantu langkah orang tua dan pendidik menjalankan misinya, dengan demikian bukan bersikap &#8220;terima beres&#8221; pada alat bantu. <a href="http://nawala.org">Nawala Nusantara</a> dan pengaya (<i>add-on</i>) di peramban Firefox saya tampilkan sebagai teladan. Sila juga dibandingkan dengan jenis atau merk lain.</p>

<blockquote>
<p>Pornografi sudah jelas bukan sahabat anak-anak.</p>
</blockquote>

<p>Acara sehari tsb. ditutup dengan pemaparan pandangan dan pengalaman Pak Aldino, yang telah melakukan langsung sehari-hari di kelas&nbsp;6. Salah satu prestasi Pak Al adalah menghentikan seorang siswa dari kecanduan menonton sinetron; kami beri aplaus untuk kesabaran dan ketekunannya menangani kasus per kasus yang ditemui.</p>

<p>Diawali dengan rujukan yang dijadikan acuan di kelas, sehingga terdapat definisi tegas namun tetap mengakomodasi kondisi sekitar tentang aurat misalnya, yang dijadikan titik-pangkal diskusi dan penanganan pornografi di kelas. Metode yang digunakan pun bervariasi antara mencegah dan mengatasi, isu bersama sekelas atau kasus yang melibatkan hanya satu-dua siswa.</p>

<p>Ditambah keterangan kepala sekolah yang juga hadir, mereka bersepakat bahwa terjadi ekskalasi ekses dari akses Net dalam periode dua-tiga tahun terakhir. Tampaknya hal ini berkorelasi terhadap jejaring sosial yang kian marak, pun teknologi ponsel yang meningkat, sedangkan harga kian terjangkau. <q>Ponsel KW pun sudah canggih!</q> Termasuk secara spesifik Blackberry disebut dalam beberapa ilustrasi.</p>

<p>Sekali lagi, alat tetaplah alat, <q>Bukan alat ini yang kalian (anak-anak) anggap salah, tetapi kalian sendiri yang harus memahami penggunaan alat</q>, demikian pesan di kelas yang diulang oleh Pak Aldino. Beberapa kasus persinggungan anak dengan pornografi juga terjadi dari orang tua yang lalai, kurang peduli, atau memang tidak paham persoalan atau teknologi. Ini dapat menggelisahkan jika diingat beberapa kasus yang sudah terjadi karena keteledoran tsb.</p>

<p>Acara diakhiri dengan ajakan bersama untuk memerangi kemunduran ini dan orang tua sebagai benteng utama untuk keluarga. Saya ucapkan terima kasih kepada panitia yang telah menggagas dan melaksanakan pemaparan dan diskusi bersama: sebagian yang saya kenal tampak aktif di media sosial, dengan demikian dapat lebih aktif menyuarakan ide dan ajakan.</p>

<p>Bahan presentasi juga <a href="https://docs.google.com/presentation/d/1FPR5j881ySZH1mDcER3WFPwz9-srVQpqVrDEJTsQnRE/edit">saya sediakan di Google Documents</a>, sedangkan dalam penyusunannya, saya memanfaatkan beberapa dokumen, dan saya tulis dalam bentuk <a href="http://sprng.me/dvo3b">senarai di Springpad</a>. Sila digunakan jika diperlukan dan saya tunggu masukan-balik dengan tangan terbuka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2012/04/keluarga-dan-media-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CameraAwesome dan tentang Pengembangan di Android</title>
		<link>http://direktif.web.id/2012/03/cameraawesome/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=cameraawesome</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2012/03/cameraawesome/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2012 16:12:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Android]]></category>
		<category><![CDATA[CameraAwesome]]></category>
		<category><![CDATA[iPhone]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan]]></category>
		<category><![CDATA[platform]]></category>
		<category><![CDATA[Scoble]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Salah seorang teman yang kerap menjadi narasumber diskusi TI di kantor adalah penggemar Apple sejati: walaupun dia belum memiliki produk Apple satu pun, apresiasinya terhadap kebijakan di Apple (terutama di era Steve Jobs) dan perolehan pundi-pundi perusahaan selalu disampaikan dengan &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2012/03/cameraawesome/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah seorang teman yang kerap menjadi narasumber diskusi <abbr title="Teknologi Informasi">TI</abbr> di kantor adalah penggemar
Apple sejati: walaupun dia belum memiliki produk Apple satu pun,
apresiasinya terhadap kebijakan di Apple (terutama di era Steve
Jobs) dan perolehan pundi-pundi perusahaan selalu disampaikan dengan
semangat menggelora. Cocok dengan penjelasan tentang ekosistem suatu
merk, yaitu dibela oleh pihak-pihak yang cocok dengan produk tsb.</p>

<p>Demikian pula anggapannya terhadap kondisi pengembangan aplikasi di
iPhone dan ponsel berbasis Android. Lingkungan terbatas di iPhone
memudahkan pengembangan aplikasi karena tidak perlu mengakomodasi
terlalu banyak variasi; sebaliknya di Android, yang memang dilepas
bebas, pengembang aplikasi perlu bertimbang-rasa pada lebih banyak
hal. Walaupun, tentu, penyokong Android akan mengajukan dalih bahwa
hal tsb. diurus sistem operasi.</p>

<p><span id="more-138"></span></p>

<p>Keragaman spesifikasi gawai (<i>gadget</i>) dapat menjadi dilema:
bakuan dasar perlu dituruti agar aplikasi dapat diterima di aneka
spesifikasi, namun pada saat bersamaan nilai lebih kekhususan gawai
kurang termanfaatkan. Hal ini yang tercetus di tulisan Robert Scoble
kemarin di Google Plus <a href="https://plus.google.com/111091089527727420853/posts/1UqAt2HUfzt">tentang aplikasi CameraAwesome dari
SmugMug</a>.</p>

<blockquote>
<p>Dia (Don MacAskill dari Smugmug) berpikir bahwa kesulitan
mengembangkan untuk suatu platform itulah alasan tunggal kamu tidak
melihat aplikasi seperti Instagram di Android dan mengapa kamu harus
menunggu CameraAwesome datang di piranti berbasis Android milikmu.
</p>
</blockquote>

<p>Demikian disebut Scoble.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2012/03/cameraawesome/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menemani Pemasar Produk</title>
		<link>http://direktif.web.id/2012/02/pemasar-produk/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pemasar-produk</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2012/02/pemasar-produk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 05:10:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[divisi]]></category>
		<category><![CDATA[pemasaran]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[TI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa pekan terakhir ini saya ikut menemani teman memasarkan produk kantor kami, sebuah aplikasi untuk pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan tempat pemasaran kami di perusahaan menengah ke bawah atau UKM, keadaan pertama yang kami temui adalah produk untuk &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2012/02/pemasar-produk/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam beberapa pekan terakhir ini saya ikut menemani teman
memasarkan produk kantor kami, sebuah aplikasi untuk pengelolaan
Sumber Daya Manusia (<abbr>SDM</abbr>). Dengan tempat pemasaran kami di
perusahaan menengah ke bawah atau <abbr title="Usaha Kecil dan Menengah">UKM</abbr>,
keadaan pertama yang kami temui adalah produk untuk penjualan (<abbr title="Point of Sales">POS</abbr>)
paling dulu dipenuhi, karena pintu gerbang kedatangan pelanggan dan
pendapatan; dilanjutkan dengan aplikasi akuntansi, sekali lagi
tentang duit. <abbr>SDM</abbr> setelah itu, jika karyawan sudah meningkat,
kesejahteraan perusahaan membaik, dan syukur-syukur kesadaran penuh
pemilik usaha akan aset penting berupa <abbr>SDM</abbr>.</p>

<p>Hal kedua yang menarik adalah perwakilan perusahaan yang kami temui
saat presentasi. Jika kami disambut oleh perwakilan divisi
kepegawaian atau <abbr>SDM</abbr>, boleh dikata diskusi lebih lancar karena
antara tim pemasar kami dan calon pembeli sama-sama perlu.
Tawar-menawar biasanya terjadi pada fasilitas yang disediakan
aplikasi dan relevansi terhadap keperluan urgen calon pembeli.
Terlalu lengkap terkadang tidak menyelesaikan masalah (memberangus
nyamuk menggunakan meriam?), jika kurang tentu mengecewakan, harga
dapat sangat jatuh. Tarik-ulur ini pada penyesuaian, fleksibilitas,
dan layanan migrasi serta purna-jual.</p>

<p><span id="more-131"></span></p>

<p>Yang dapat menjadi lebih sulit jika yang dihadapi perwakilan dari
divisi Teknologi Informasi (<abbr>TI</abbr>), lebih-lebih jika ybs. dianggap
lebih mengerti perkomputeran dan memiliki porsi besar dalam
penentuan.  Lebih sulit karena evaluasi yang dilakukan sering
menjadi terlalu jauh dan condong pada kaitan dengan teknologi
mutakhir. Sebagai contoh, yang klasik kami dengar pertanyaan: apakah
aplikasi ini sudah berbasis Web? Bukan karena divisi kepegawaian
benar-benar memerlukan, melainkan karena web itulah yang dianggap
pencapaian tertinggi teknologi sekarang dan pemeliharaan di komputer
klien nyaris nol. Tidak ada instalasi ulang, yang tentu saja
memudahkan pekerjaan divisi <abbr>TI</abbr>.</p>

<p>Aplikasi adalah web, tidak peduli ada model antarmuka
<i>master-detail</i> yang perlu <i>query</i> kompleks atau interaksi
dengan papan ketik intensif operator di lapangan. Kata akhirnya,
<q>Lah, Google atau Facebook bisa menyediakan seperti itu</q>.
Seharusnya kami tersanjung dipadankan dengan mereka, sambil meringis
membayangkan teknologi yang perlu diantisipasi. Belum tentu mereka
siap juga, terutama untuk pemeliharaan nanti.</p>

<p>Bagaimana hal ini diatasi? Perlu dipelajari siapa saja yang
sebenarnya akan menggunakan layanan dari aplikasi tsb. Operator di
divisi kepegawaian jelas sepanjang hari, selama hari kerja (mungkin
hingga lembur), habis-habisan di depan aplikasi tsb. Kualitas
informasi ditentukan oleh kualitas data masukan mereka dan sangat
jarang mereka berada di luar kantor selama pemasukan data. Bahkan di
kantor pun, kelompok ini biasanya duduk manis di meja kerjanya.</p>

<p>Barulah kelompok pembaca laporan, para manajer di atasnya, yang
perlu akses dari tempat-tempat yang berbeda, pun perangkat kerja
mereka (<i>gadget</i>) juga lebih canggih. Yang mereka lihat adalah
laporan akhir dan risalah. Koreksi pun minim, malah mungkin
disampaikan dengan cara lain, misalnya disebutkan secara lisan atau
lewat surel. Karena kelompok manajer ini penting dipuaskan dari
pengadaan perangkat lunak, aplikasi semacam <i>dashboard</i>
berbasis web cocok disediakan untuk mereka. Ini relatif mudah
dibanding jenis aplikasi entri data kompleks.</p>

<p>Jadi divisi <abbr>TI</abbr> merepotkan saat pengadaan aplikasi? Buat kami yang
membuat dan menjual memang betul merepotkan. Namun saya juga sadar,
terakhir membeli ponsel juga mensyaratkan adanya <abbr title="Global Positioning System">GPS</abbr>, walaupun kenyataannya dalam sepekan
paling dipakai sekali-dua kali, atau malah lebih jarang lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2012/02/pemasar-produk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Langkah Verifikasi untuk Akun di Google</title>
		<link>http://direktif.web.id/2012/01/dua-langkah-verifikasi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=dua-langkah-verifikasi</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2012/01/dua-langkah-verifikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 03:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[akun]]></category>
		<category><![CDATA[Dua Langkah Verifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[keamanan]]></category>
		<category><![CDATA[verifikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Pertengahan Desember lalu Google menawarkan fasilitas penambahan keamanan akun baru, Verifikasi Dua Langkah (Two Step Verification). Saya tertarik fasilitas ini dan segera mengaktifkan. Proses aktivasi relatif mudah dan tambahan verifikasi dikirimkan lewat pesan singkat (SMS). Saya sempat meragukan penggunaan SMS &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2012/01/dua-langkah-verifikasi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertengahan Desember lalu Google menawarkan fasilitas penambahan
keamanan akun baru, Verifikasi Dua Langkah (<a href="http://support.google.com/accounts/bin/static.py?hl=en&amp;page=guide.cs&amp;guide=1056283">Two Step
Verification</a>).
Saya tertarik fasilitas ini dan segera mengaktifkan. Proses aktivasi
relatif mudah dan tambahan verifikasi dikirimkan lewat pesan singkat
(<abbr title="Short Message Service">SMS</abbr>). Saya sempat
meragukan penggunaan <abbr>SMS</abbr> ini berdasarkan dua hal:
operator kartu ponsel yang saya gunakan tidak bekerja sama dengan
pengiriman <abbr>SMS</abbr> lewat Gmail (memang tidak ada hubungan langsung,
hanya prasangka) dan kedua, pernah saya gunakan untuk verifikasi
tambahan di layanan lain (jika tidak salah Facebook), kode yang
dikirimkan tidak diterima.</p>

<p>Prasangka tsb. muncul karena setelah saya aktifkan tidak ada
tanda-tanda kode diterima. Ternyata kode pertama aktivasi baru
diterima sekitar setengah hari kemudian. Konyolnya, saya sempat
mengulang permintaan pengiriman kode (karena menunggu lama tsb.),
sehingga kode yang dikirim pertama menjadi tidak berlaku. Namun hal
ini pertanda penggunaan <abbr>SMS</abbr> untuk keperluan ini dapat saya gunakan.
Pakai!</p>

<p><span id="more-125"></span></p>

<p>Alhasil setelah aktivasi, setiap kali saya berpindah, menggunakan
komputer lain, <abbr>SMS</abbr> kode tambahan dikirim dan seketika. Jadi sudah
dapat diandalkan, kendati untuk ponsel saya yang memisahkan antara
layar untuk <abbr>SMS</abbr> dan aplikasi, ada pekerjaan ekstra: tutup dulu
peramban, baca <abbr>SMS</abbr>, catat, dan kembali masuk ke layanan Google.
Seperti penjelasan umum bahwa keamanan berbanding terbalik dengan
kepraktisan.</p>

<p>Kendala berikutnya aplikasi pengelolaan pesan (<i>messaging</i>)
dari Nokia dan juga klien Gmail untuk Nokia yang <a href="https://plus.google.com/u/0/100145856129045595138/posts/CcieVJBLo6F">tidak menyediakan
tempat untuk memasukkan kode dari <abbr>SMS</abbr></a>. Sementara, sebulan ini, saya stop
pemakaian mereka dan beralih kembali via web; tetapi, saya baca
kembali dengan seksama penggunaan Verifikasi Dua Langkah ini di
halaman akun pengguna Google, terdapat keterangan bahwa untuk
aplikasi yang belum mendukung penggunaan kode yang dikirim lewat
<abbr>SMS</abbr>, disediakan kata sandi tambahan yang kita buat lagi dan
dimaksudkan bersifat temporer, terdapat di bagian
<cite>Application-specific passwords</cite>.</p>

<p>Sudah barang tentu, penambahan fasilitas seperti ini jangan sampai
melenakan pengguna dengan memberi perasaan aman yang semu. Tetap
saja aturan dasar seperti kewaspadaan menggunakan komputer di ruang
publik misalnya, harus diperhatikan. Setidaknya dengan Verifikasi
Dua Langkah terdapat lapis pengaman tambahan terhadap akun pengguna
di Google.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2012/01/dua-langkah-verifikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Masa Depan&#8221; untuk Pengembang</title>
		<link>http://direktif.web.id/2012/01/masa-depan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=masa-depan</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2012/01/masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 00:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[pengembang]]></category>
		<category><![CDATA[perangkat lunak bebas]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Jadi bagaimana cara menyiasati &#8220;masa depan&#8221; untuk seorang pengembang? Saya sempat berdiskusi ringan dengan salah seorang senior di Bandung. Saya jelaskan hasil percakapan saya tentang usaha rintisan yang saya peroleh dari beberapa acara terakhir. Teman pengembang ini percaya bahwa jika &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2012/01/masa-depan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi bagaimana cara menyiasati &#8220;masa depan&#8221; untuk seorang pengembang? Saya sempat berdiskusi ringan dengan salah seorang senior di Bandung. Saya jelaskan hasil percakapan saya tentang <a href="http://direktif.web.id/2011/12/tentang-investasi/">usaha rintisan yang saya peroleh dari beberapa acara terakhir</a>.</p>

<p>Teman pengembang ini percaya bahwa jika dibuat produk yang bebas digunakan oleh banyak orang (taruhlah dengan lisensi &#8220;perangkat lunak bebas&#8221;) dan memang membawa manfaat bagi penggunanya, suatu saat si pembuat akan &#8220;memetik hasilnya&#8221;. Semacam panen yang merupakan kumulasi dari nilai produk yang telah dibuat dan bermanfaat tsb. Dari mana perhitungan tsb.? Ini lebih pada faktor keyakinan daripada perhitungan matematis suatu model bisnis; kendati, tidak tertutup kemungkinan sebenarnya suatu model bisnis yang mendekati keyakinan tsb. dapat disusun.</p>

<p><span id="more-119"></span></p>

<p>Ada dua hal penting di sini:</p>

<ol>
<li>Siasat yang perlu dipikirkan dan dijalankan selama masa bercocok tanam &#8212; sebelum musim panen tiba. Untuk pengembang junior barangkali tertolong oleh tingkat keperluan sehari-hari yang &#8212; mungkin &#8212; lebih sedikit. Oleh karena itu, jika keyakinan ini dijalankan saat masih kuliah misalnya, sangat mungkin pada saat ybs. lulus, hasil sudah dapat dipetik. Demikian pula di beberapa negara sosialis terdapat jaring pengaman sosial yang membantu warganya jika berpenghasilan kurang dari batas bawah. Di Indonesia? Mau tidak mau harus dipikirkan siasat menghadapi musim paceklik, lebih-lebih jika sudah ada tanggungan seperti keluarga.</li>
<li>Seberapa besar hasil dari panen yang akan dipetik? Bagaimanapun, terbersit hitung-hitungan antara hasil dibanding pengeluaran secara keseluruhan. Kecuali memang sudah berniat memilih total menjadi pengusaha untuk diri sendiri, bersikap menghitung hasil berbekal kondisi saat ini dan melakukan langkah penting investasi tsb. adalah keniscayaan. Jawaban moderat adalah dengan membagi waktu agar keduanya tetap dapat diraih, namun tidak selalu semudah itu. Komitmen penuh pada dua rencana besar berpotensi &#8220;tanggung&#8221; dijalankan.</li>
</ol>

<p>Saya berpendapat bahwa untuk keperluan pribadi dalam batas minimal, strategi secara khusus tidak terlalu diperlukan. Buat saja aplikasi yang bagus dan bermanfaat, niscaya akan ada cara &#8220;kita dibayar&#8221; suatu saat. Berapa batas minimal untuk hidup ini? Kami tertawa jika ukurannya adalah memiliki mobil mewah seperti Bentley; usulan teman pengembang tsb. adalah kesanggupan menyekolahkan anak-anak. Mohon diingat juga bahwa penyelenggaraan pendidikan yang ditanggung pemerintah Republik Indonesia adalah pendidikan dasar sembilan tahun. Di atas itu terdapat ekskalasi biaya, terutama untuk uang masuk. Tapi, baiklah, indikator ini dapat dijadikan pegangan terhadap keyakinan &#8220;tetap akan dibayar suatu waktu nanti&#8221;.</p>

<p>Pada sisi lain, jika yang diharapkan adalah hasil yang lebih besar, tampaknya tidak cukup sekadar meletakkan produk, digunakan oleh publik, dan uang datang. Perlu perubahan mendasar dari seorang pengembang aplikasi menjadi pengusaha. Matt Mullenweg di belakang WordPress adalah contoh nyata dari pengembang perangkat lunak bebas yang berubah menjadi pengusaha layanan berbasis produk yang dibuat dan sukses dengan perubahan tsb. Tim bisnis dibentuk, kerjasama digalang; titik ini sering disebut kritikal dalam proses pembentukan kewirausahaan.</p>

<p>Dengan demikian, sudah terlihat di sini tentang pilihan tetap sebagai pengembang atau beralih menjadi pengusaha. Dua hal yang berkaitan namun dapat berbeda cara pandang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2012/01/masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Investasi</title>
		<link>http://direktif.web.id/2011/12/tentang-investasi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tentang-investasi</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2011/12/tentang-investasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 23:44:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[rintisan]]></category>
		<category><![CDATA[start-up]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang menyebut sebagai &#8220;investor malaikat&#8221; (angel investor), ada juga &#8220;investor gila&#8221;. Intinya adalah pihak investor yang jeli, mengendus potensi produk, dan berani nekat menggelontorkan pundi-pundi. Venture Capital (VC) atau modal ventura, istilah yang lebih resmi digunakan. Di awal-awal ramai-ramai &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2011/12/tentang-investasi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang menyebut sebagai &#8220;investor malaikat&#8221; (<i>angel
investor</i>), ada juga &#8220;investor gila&#8221;. Intinya adalah pihak
investor yang jeli, mengendus potensi produk, dan berani nekat
menggelontorkan pundi-pundi. Venture Capital (VC) atau modal
ventura, istilah yang lebih resmi digunakan. Di awal-awal
ramai-ramai Ventura dua dasawarsa lalu, anggapan yang sudah muncul
untuk pengajuan dari sektor <abbr title="Teknologi Informasi">TI</abbr> 
adalah bahwa industri ini tidak layak disebut <abbr title="Usaha Kecil dan Menengah">UKM</abbr> karena berisi orang-orang yang
berpendidikan. Pengusaha tahu atau pedagang kelontong misalnya,
dianggap lebih tepat diayomi Ventura.</p>

<p>Setelah itu tetap ada kesulitan laten menjelaskan aset perusahaan
<abbr>TI</abbr>, yaitu penilaian terhadap aset dalam bentuk perangkat lunak.
Seperti dijelaskan di buku-buku teks, perangkat lunak yang terdiri
atas program, data, dan dokumentasi tidak selalu mudah dikonversi
dalam penilaian.</p>

<p><span id="more-109"></span></p>

<p>Bagaimana hari-hari ini? Di <acronym title="Indonesia ICT Awards">INAICTA</acronym>&nbsp;2011 lalu saya menyaksikan acara
seminar yang tampak menonjolkan peluang untuk perusahaan rintisan
(<i>start-up</i>). Ditampilkan beberapa teladan yang sudah mengalami
manis-asam gula-garam selama merintis usaha, termasuk inisiatif dari
pihak investor.</p>

<p>Usai acara saya berkesempatan mengobrol panjang dengan <a href="https://www.facebook.com/wisnu.manupraba">Wisnu
Manupraba</a>, teman dari Bandung juga, yang sekarang sedang sibuk
membesarkan <a href="http://www.ngomik.com">Ngomik</a>. Pengalamannya dengan pendanaan investor sbb.:</p>

<ol>
<li>Dari sebagian kisah yang berlanjut baik, umumnya adalah untuk
individu atau kelompok baru yang belum mendapatkan bentuk. Dengan
demikian, tidak selalu mudah untuk tim yang sudah mapan atau
mulai memiliki kultur sendiri.</li>
<li>Calon investor yang dianggap prospektif mengajak diskusi produk
yang dibuat dan peluang ke depan; sedangkan yang sedikit konyol
langsung menanyakan berapa lama akan balik modal. Wisnu sendiri
lebih menghargai kelompok prospektif walaupun di akhir gagal
berkongsi.</li>
</ol>

<p>Sebulan kemudian saya bertemu <a href="https://www.facebook.com/endanasution">Enda Nasution</a> yang sekarang
membesarkan <a href="http://salingsilang.com">Saling Silang</a> di acara
<a href="http://direktif.web.id/2011/11/asean-blogger/">Konferensi Narablog ASEAN</a>, yang
salah satunya mengangkat isu usaha rintisan untuk wilayah regional.
Saya tanyakan isu investor ini dan poin dari Enda:</p>

<ol>
<li>Investor memang sedang datang dalam jumlah banyak ke Indonesia,
setelah isyarat (dan promosi) prospek bisnis <abbr>TI</abbr> di sini, terutama
gambaran potensi pengembang. Ini dapat menjadi <i>boom</i> dan
dapat berisiko jika ternyata kenyataan di lapangan berbeda.</li>
<li>Sejalan dengan penjelasan Shinta Dhanuwardoyo dari Bubu di
acara tsb. tentang pentingnya profil pendiri usaha rintisan &#8211;
bukan hanya gagasannya &#8212; Enda menjelaskan bahwa dalam
beberapa kasus kerja sama investor dan usaha rintisan malah dapat
berubah menjadi kepentingan investor untuk mengarahkan <abbr title="Sumber Daya Manusia">SDM</abbr>
perusahaan tsb. mengerjakan rencananya. Jika hal ini
bertolak-belakang dengan gagasan yang semula diangkat, praktis
jadilah rekrutmen <abbr>SDM</abbr> secara kolektif &#8212; sudah dalam bentuk tim
pula. Hal ini menjadi logis dilihat dari kesulitan rekrutmen staf <abbr>TI</abbr> hari-hari ini, karena
jumlahnya di bawah kebutuhan.</li>
</ol>

<p>Terakhir cerita dari <a href="https://www.facebook.com/rendy.maulana">Rendy Maulana</a> yang dengan konservatif dia
sebutkan bisnis harus tetap bertumpu pada keuletan diri sendiri.
Sulit berharap kecocokan dari pihak lain, walau mungkin
jumlah pendanaan yang diperlukan bukan angka yang besar bagi pihak
lain tsb. Oh ya, Rendy ini <a href="http://www.qwords.com">juragan tempat
<i>hosting</i></a> yang awet
dengan bisnisnya, jadi barangkali dia lebih tepat mendudukkan
dirinya sebagai investor sekarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2011/12/tentang-investasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASEAN Blogger 2011 Conference</title>
		<link>http://direktif.web.id/2011/11/asean-blogger/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=asean-blogger</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2011/11/asean-blogger/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 01:36:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ASEAN]]></category>
		<category><![CDATA[Asean Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[konferensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Pertengahan Oktober lalu, Raden Ajeng menelepon saya, menanyakan kesediaan datang di acara narablog ASEAN. Saya ingat bulan Ramadan lalu saya juga mendapat undangan lewat surel untuk hadir di acara pameran foto dan ramah-tamah narablog ASEAN di Jakarta; saya memutuskan absen &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2011/11/asean-blogger/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertengahan Oktober lalu, <a href="https://www.facebook.com/ajengkol">Raden Ajeng</a> menelepon saya, menanyakan
kesediaan datang di acara narablog <acronym title="Association of Southeast Asian Nations">ASEAN</acronym>.
Saya ingat bulan Ramadan lalu saya juga mendapat undangan lewat
surel untuk hadir di acara pameran foto dan ramah-tamah narablog
<acronym>ASEAN</acronym> di Jakarta; saya memutuskan absen saat itu. Lewat telepon itu
pula, Mbak Ajeng menjelaskan rencana acara dan fasilitas yang
diberikan untuk undangan. Saya menyanggupi, setelah itu sempat tidak
ada kabar perkembangan, dan akhirnya baru Ahad, 13&nbsp;November
saya dihubungi lagi oleh panitia, menyatakan saya akan berangkat ke
Asean Blogger&nbsp;2011 Conference.</p>

<p>Konferensi narablog <acronym>ASEAN</acronym> 2011 berlangsung di Nusa Dua, Bali, pada
tanggal 16&nbsp;November. Tampaknya merupakan bagian dari perhelatan
akbar Indonesia untuk <acronym>ASEAN</acronym> kali ini, karena berlangsung bersamaan
dengan SEA Games dan <abbr title="Konferensi Tingkat Tinggi">KTT</abbr>
kepala negara <acronym>ASEAN</acronym>, termasuk pertemuan mereka dengan Presiden
Amerika Serikat, yang juga dilangsungkan di Nusa Dua, Bali.
Kabarnya, acara lain, seperti pertemuan para ahli keamanan jaringan,
juga berlangsung pekan sebelumnya. Jadi sangat mungkin acara-acara
berbasis komunitas diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan
&#8220;perhelatan <acronym>ASEAN</acronym>&#8221; sebagai perwujudan paling praktis persahabatan
warga <acronym>ASEAN</acronym>.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/6346184723/" title="AseanBlogger #04: Welcome to the Island of Thousand Temples by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm7.staticflickr.com/6113/6346184723_5bb0f4799b.jpg" width="500" height="375" alt="AseanBlogger #04: Welcome to the Island of Thousand Temples"/></a></p>

<p><span id="more-96"></span></p>

<p>Kabar lain yang sempat saya dengar adalah keinginan agar <acronym>ASEAN</acronym> kian
solid hingga seperti Uni Eropa, yang antara lain sanggup mewujudkan
kemudahan lalu-lintas antarnegara untuk warga di dalamnya. Apakah
narablog dapat diharapkan membantu sosialisasi keinginan besar ini?
Masih di awang-awang buat saya, karena memang baru kali ini saya
datang di pertemuan narablog berskala <acronym>ASEAN</acronym>. Sebagai catatan,
tahun-tahun lalu saya sempat hadir di acara besar keamanan jaringan
(<abbr title="Asia Pacific Computer Emergency Response Team">APCERT</abbr>) dan
anugerah perangkat lunak
(<abbr title="Asia Pacific Information and Communications Technology Awards">APICTA</abbr>),
keduanya mencakup beberapa negara Asia-Pasifik.</p>

<p>Akhirnya saya benar-benar bertemu panitia di bandara Ngurah Rai,
Denpasar, Bali, berlanjut dengan kedatangan rombongan narablog
Pontianak, perwakilan Lampung, dan Jakarta. Secara bergelombang para
undangan sudah berdatangan di Bali pada hari tsb. Termasuk
perwakilan dari negara-negara <acronym>ASEAN</acronym>. Hingga acara berlangsung
keesokan harinya, perwakilan Singapura dan Myanmar yang berhalangan
datang. Karena untuk Indonesia diundang dari banyak kota besar &#8211;
membentang dari Padang hingga Ambon, praktis dari sekitar
200&nbsp;undangan, Indonesia tampak dominan.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/6361965147/" title="Attending Bali Blogger Community 4th Anniversary by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm7.staticflickr.com/6046/6361965147_13982931b7.jpg" width="500" height="333" alt="Attending Bali Blogger Community 4th Anniversary"/></a></p>

<p>Acara resmi pertama Selasa, 15 November, sore adalah memenuhi
undangan ulang tahun keempat Bali Blogger Community
(<abbr>BBC</abbr>). Dijamu
di acara di taman terbuka di kompleks galeri, acara ini diharapkan
menjadi semacam &#8220;pemecah kebekuan&#8221; (<i>ice breaker</i>) di antara
peserta, sekaligus perkenalan dengan komunitas narablog Bali.
Selamat berulang tahun keempat, <abbr>BBC</abbr>, semoga lancar dengan regenerasi
pegiat blog di sana.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/6361980997/" title="Advisor by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm7.staticflickr.com/6045/6361980997_044b59bb73.jpg" width="500" height="333" alt="Advisor"/></a></p>

<p>Sehari 16 November adalah acara utama konferensi. Berlangsung di
Museum Pasifika, Nusa Dua, perhelatan dimulai sekitar pukul
9&nbsp;<abbr title="Waktu Indonesia Tengah">WITA</abbr>, dibuka oleh
<acronym title="Menteri Komunikasi dan
Informatika">Menkominfo</acronym>, Tifatul Sembiring. Materi pembuka oleh Hazairin Pohan,
penasihat <acronym>ASEAN</acronym> Blogger Community Chapter Indonesia. Berlatar
belakang diplomat, paparan Pak Hazairin berselang-seling antara
konsep di belakang <acronym>ASEAN</acronym> dan gerakan blog sekarang.</p>

<p>Sesi pertama diakhiri dengan paparan kondisi blogosfer di
negara-negara <acronym>ASEAN</acronym> oleh perwakilan masing-masing. Indonesia dapat
berbangga dengan angka-angka yang memang fantastis &#8212; terutama untuk
media sosial yang sudah berskala dunia, namun jangan lengah karena
semangat yang ditunjukkan perwakilan negara-negara lain di kawasan
ini sangat impresif. Vietnam yang melesat dengan produk lokal dan
persoalan huruf mereka adalah teladan kerja keras swasembada layanan
Net. Begitu pula Kamboja dan Laos yang berjuang keras dari lapis
infrastruktur saat ini. Sudah pasti dengan Thailand dan Malaysia,
dua pemain besar dalam banyak hal di seputar <acronym>ASEAN</acronym>. Tidak
tertinggal, Brunei si kecil surga koneksi: dengan jumlah pengguna
yang sedikit, tampaknya mereka juara dalam hal rata-rata lebarpita
yang dicapai.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/6361137267/" title="Group C Discussion by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm7.staticflickr.com/6116/6361137267_98a7d688df.jpg" width="500" height="333" alt="Group C Discussion"/></a></p>

<p>Sebelum rehat siang, kami dipilah menjadi tiga kelompok diskusi dan
merumuskan dokumen yang menjadi bahan deklarasi. Dengan waktu yang
terbatas, anggota setiap kelompok tampak bersemangat membawakan
aspirasinya dan secara umum representasi dari negara yang diwakili.
Semua masukan ini ditampung dan dalam format yang lebih ringkas
diskusi dilanjutkan oleh tim perumus di acara siang, menjelang
penyusunan deklarasi.</p>

<p>Acara berlanjut setelah rehat siang dengan pembawa materi beragam,
perwakilan Google, tentang usaha rintisan (<i>start-up</i>) oleh
perwakilan BUBU, media sosial oleh Virtual Consulting, dan berlanjut
dengan sesi berikutnya ihwal kebebasan berekspresi dan terakhir
Wajanbolic oleh Onno W. Purbo hingga menjelang pukul 18.</p>

<p>Tantangan besar dalam menyelenggarakan acara dengan peserta yang
bervariasi adalah mengakomodasi semua harapan atau setidaknya
mengangkat suasana dengan isu yang diterima secara kolektif. Dalam
hal ini Konferensi perlu diisi materi yang mewakili kepentingan di
negara-negara <acronym>ASEAN</acronym> atau setidaknya bersuasana <acronym>ASEAN</acronym>.</p>

<p>Pembahasan deklarasi memangkas rencana rehat sore, menjadi
perdebatan hangat antara dua kubu besar: kelompok yang mencukupkan
isi deklarasi dengan poin-poin global dan mendasar tentang narablog
di <acronym>ASEAN</acronym> dan kelompok yang ingin lebih bebas menulis poin-poin
hingga rincian. Hingga akhir acara, formulasi belum selesai total,
namun sudah mengerucut ke finalisasi, dan acara harus distop karena
penutupan Konferensi sudah akan dimulai.</p>

<p>Hingga penerbangan pulang ke Soekarno-Hatta, Jakarta, keesokan
malam, saya bertemu dan beramah-tamah dengan beberapa pegiat
blogosfer, walaupun lebih bersifat spontan.</p>

<p>Terima kasih kepada panitia yang telah mengundang saya mengikuti
acara narablog <acronym>ASEAN</acronym> kali ini. Sudah barang tentu, tindak lanjut
usai perhelatan yang penting dan menunggu di depan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2011/11/asean-blogger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Server Surel dari Lapangan</title>
		<link>http://direktif.web.id/2011/11/kisah-server-surel/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kisah-server-surel</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2011/11/kisah-server-surel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 10:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[email]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[server]]></category>
		<category><![CDATA[surel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Berkesempatan bertemu dengan tim teknis dari salah satu penyelenggara layanan Internet di Bandung, hari Rabu lalu, saya mengulang pertanyaan lama, Masih adakah klien mereka yang menyediakan server surel sendiri? Seperti saya duga sebelum bertanya, jawaban mereka sama dengan kondisi yang &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2011/11/kisah-server-surel/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berkesempatan bertemu dengan tim teknis dari salah satu
penyelenggara layanan Internet di Bandung, hari Rabu lalu, saya
mengulang pertanyaan lama, <q>Masih adakah klien mereka yang
menyediakan server <acronym title="surat elektronik">surel</acronym> sendiri?</q></p>

<p>Seperti saya duga sebelum bertanya, jawaban mereka sama dengan
kondisi yang pernah saya tulis <a href="http://arc03.direktif.web.id/arc/2010/05/teknologi-gmail" title="Teknologi di Dapur Gmail: Bagaimana Yang Lain?">tentang server
surel</a>.</p>

<p><span id="more-91"></span></p>

<ol>
<li><p>Pengelolaan server surel sendiri itu lebih repot, dari sisi penyediaan <abbr title="Sumber Daya Manusia">SDM</abbr> hingga urusan tambahan antisipasi terhadap gangguan seperti <i>spam</i>, <i>scam</i>, virus. Saya ingat server kantor kami: di saat-saat terakhir masih mengurus surel sendiri, kesibukan tingginya justru memindai pesan yang akan datang atau yang sudah masuk.</p></li>
<li><p>Pengalihan urusan server surel ke pihak ketiga (Gmail lagi!) dianggap lebih murah. Ini seperti <a href="https://plus.google.com/u/0/100267411930603824933/posts/YbAEc75Eiph">pertimbangan Riyogarta</a>, membayar untuk ukuran penyimpanan lebih besar pun masih terjangkau dan lebih efisien dibanding poin (1).</p></li>
</ol>

<p>Selain itu ada faktor tambahan: surel memang sudah mulai kurang
populer dibanding dulu. Frekuensi kedatangan tidak seramai dulu,
terutama untuk keperluan personal, karena beberapa penyampaian pesan
sudah digantikan oleh jejaring sosial atau mikroblog.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2011/11/kisah-server-surel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyongsong Hari Blogger Nasional</title>
		<link>http://direktif.web.id/2011/10/hari-blogger/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=hari-blogger</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2011/10/hari-blogger/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 14:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[narablog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Tiga hari mendatang, 27 Oktober, Hari Blogger Nasional (dapatkah disebut &#8220;Hari Narablog Nasional&#8221;?). Saat dicanangkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Mohammad Nuh, di tahun 2007, Pesta Blogger pertama, saya membayangkan: sebenarnya tanggal tsb. diperoleh dari upaya &#8220;mendekati Hari Sumpah Pemuda&#8221;, &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2011/10/hari-blogger/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga hari mendatang, 27 Oktober, Hari Blogger Nasional (dapatkah disebut &#8220;Hari Narablog Nasional&#8221;?). Saat <a href="http://www.detikinet.com/read/2007/10/27/173146/845629/447/menkominfo-27-oktober-hari-blogger-nasional" title="Menkominfo: 27 Oktober, Hari Blogger Nasional">dicanangkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika</a>, Mohammad Nuh, di tahun 2007, Pesta Blogger pertama, saya membayangkan: sebenarnya tanggal tsb.  diperoleh dari upaya &#8220;mendekati Hari Sumpah Pemuda&#8221;, dan jadilah tanggal 27 Oktober 2007 hari Sabtu &#8212; libur akhir pekan yang cocok untuk perhelatan besar. Tidak terlalu mengherankan juga, karena banyak peristiwa penting di dunia ini terjadi &#8220;begitu saja&#8221; dan menjadi peringatan berikutnya.</p>

<p>Untuk kali ini, tahun 2011, Pesta Blogger, yang seharusnya dihelat
kelima kali, tidak ada. Sejak sekitar bulan Juli-Agustus lalu,
seingat saya bersamaan dengan Ramadan, terdapat perubahan besar:
Pesta Blogger berganti menjadi On|Off. Keributan sempat terjadi di
Twitter saat itu dan berlanjut dengan beberapa tulisan di blog yang
bersuasana sentimental. Sesuatu yang wajar, jika diingat kelompok
dan seksi sibuk yang telah mengupayakan Pesta-pesta sebelumnya dan
di banyak tempat, jika sudah berhubungan dengan penggalangan massa,
romantisme menjadi pengikat.</p>

<p><span id="more-79"></span></p>

<p>Sebenarnya boleh saja Hari Blogger Nasional tiga hari lagi
diperingati tanpa Pesta Blogger &#8212; lebih-lebih jika kita merasa
memaknai tanggal tersebut sebagai salah satu momentum. Memang tidak
akan ada perhelatan akbar seperti empat kali kesempatan yang lalu,
akan tetapi jika dianggap pertemuan dalam satu kota lebih akrab dan
hangat, mengapa tidak?</p>

<p>Persiapan terlalu dekat? Spontanitas dapat menggugah hati dan tidak
perlu terlalu terpaku tanggal juga. Bergeser barang satu hingga tiga
hari masih akan dimaklumi.</p>

<p>Kenangan indah yang tampaknya akan hilang adalah tradisi penyambutan
di Bundaran HI Jakarta, yang dinamai Muktamar Blogger. Kabarnya
tradisi ini muncul untuk menyambut teman-teman dari daerah yang
sudah datang di ibukota sehari sebelum acara Pesta Blogger.
Barangkali agar afdol, kontingen yang telah menginjak ibukota
diajak mengitari Bundaran HI. Saya sendiri belum pernah mengikuti
Muktamar, karena jemaah dari Bandung tetap dapat menikmati Pesta
Blogger di Jakarta dengan berangkat satu kafilah ba&#8217;da subuh.</p>

<p>Demikianlah, saya mendului mengucapkan selamat Hari Blogger
Nasional. Dirayakan bersahaja dengan meneguhkan semangat kita
berbagi lewat aneka media blog pun sudah merupakan perayaan yang
membawa kebaikan. Saya pribadi masih membuka diri untuk berbicara
menjelaskan blog, mengajak hadirin, dan menyemangati lewat
pertemuan.</p>

<p>Sebagai kenang-kenangan, saya tetap menyediakan <a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/sets/72157622554583761">kumpulan foto Pesta
Blogger</a>
dan <a href="http://www.flickr.com/groups/589879@N22/">grup Pesta Blogger</a> di Flickr. Sila gunakan grup tsb. jika ingin
mengumpulkan foto-foto perayaan Hari Blogger Nasional kali ini,
walaupun tanpa label <tt>pb2011</tt>. Pada perayaan tahun-tahun lalu
saya mengundang teman-teman pemasang foto untuk menjadikan
<tt>pb2011</tt> sebagai &#8220;tag panas&#8221; (Hot Tags) di Flickr, walaupun
hanya satu hari saja, dan berhasil.</p>

<p>Catatan: di situs web Pesta Blogger, <tt>pestablogger.com</tt>, jika
didatangi langsung akan diarahkan ke <tt>www.onoffid.org/</tt>,
namun tautan Pesta Blogger tetap disediakan sebagai bagian dari menu
di ON|OFF. Berjalinan dan berkelit, barangkali begitulah dalam hidup
ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2011/10/hari-blogger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2011-10-22</title>
		<link>http://direktif.web.id/2011/10/2011-10-22/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=2011-10-22</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2011/10/2011-10-22/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Oct 2011 01:57:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[#direktif]]></category>
		<category><![CDATA[AppFlower]]></category>
		<category><![CDATA[framework]]></category>
		<category><![CDATA[hack]]></category>
		<category><![CDATA[kerangka kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Kabar Kamis sore: AppFlower menarik digunakan sebagai kerangka-kerja di atas PHP dan ExtJS. Disebut &#8220;lebih tinggi&#8221; daripada kerangka-kerja semacam Code Igniter. Cocok buat saya? Hanya seorang pemrogram waktu-senggang atau mendadak datang minat. Sudah diunduh dalam format VMWare, VMDK, dicoba di &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2011/10/2011-10-22/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kabar <strong>Kamis sore</strong>: <a href="http://www.appflower.com">AppFlower</a> menarik digunakan sebagai kerangka-kerja
di atas <abbr title="PHP Hypertext Processor">PHP</abbr> dan ExtJS.
Disebut &#8220;lebih tinggi&#8221; daripada kerangka-kerja semacam Code Igniter.
Cocok buat saya? Hanya seorang pemrogram waktu-senggang atau
mendadak datang minat.</p>

<p>Sudah diunduh dalam format VMWare, VMDK, dicoba di komputer teman di
atas VirtualBox dan berjalan dengan baik. Belum diperiksa lebih
mendalam, tampilan pertama hanya berlaku untuk satu pengguna &#8211;
walaupun beberapa projek dapat dibuat olehnya. Apakah hal ini
berkait dengan lisensi atau ada konfigurasi untuk beberapa pengguna
simultan, belum tahu.</p>

<p>Basisdata terkenal didukung, baik keluarga Free Software atau
komersial, namun salah satu keperluan kami, DB2, malah belum. Nah!</p>

<p><span id="more-71"></span></p>

<p>AppFlower termasuk perangkat lunak berlisensi ganda: <abbr title="GNU Public License">GPL</abbr> untuk pekerjaan GPL juga dan
komersial untuk pekerjaan komersial. Namun dengan pembayaran per
pengembang, cukup aman untuk tidak membebani calon konsumen.</p>

<p><strong>Jumat sore</strong>: kecurigaan akan adanya penyusupan di subdirektori
tema WordPress blog ini akhirnya terbukti melumpuhkan <tt>#direktif</tt>. Sebelumnya,
ada laporan dari <a href="https://www.facebook.com/willypermana">Willy Permana</a> akan kejanggalan hasil tampilan Lynx,
ternyata memang terjadi kekacauan di dapur yang akan membelokkan
akses ke blog ini ke situs lain berisi merk obat-obatan liar jika
diakses dengan peramban non-grafis, termasuk bot Google. Hasil dari
halaman pencarian Google dan Google Webmaster mengindikasikan hal
tsb.</p>

<p><a href="http://direktif.web.id/wp-content/uploads/2011/10/facebook.com-2011-10-22-85120.jpg"><img src="http://direktif.web.id/wp-content/uploads/2011/10/facebook.com-2011-10-22-85120.jpg" alt="" title="Pembelokan akses untuk Lynx" width="510" height="305" class="aligncenter size-full wp-image-72" /></a></p>

<p>Setelah dicari-cari tak ditemukan tempat para pembokong bersembunyi,
akhirnya isi basisdata WordPress dibuatkan salinan, begitu pula subdirektori
terkait, dan instalasi WordPress baru. Demikianlah, jadi mohon
maklum jika tampilan berubah, karena memang mendulukan tulisan ini
dibanding mengatur dapur kembali. Begitu pula jika terdapat dokumen
atau foto belum ditampilkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2011/10/2011-10-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

