<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#direktif</title>
	<atom:link href="http://direktif.web.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://direktif.web.id</link>
	<description>Catatan dan Pengalaman di lingkungan Teknologi Informasi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 05:10:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Menemani Pemasar Produk</title>
		<link>http://direktif.web.id/2012/02/pemasar-produk/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pemasar-produk</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2012/02/pemasar-produk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 05:10:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[divisi]]></category>
		<category><![CDATA[pemasaran]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>
		<category><![CDATA[TI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa pekan terakhir ini saya ikut menemani teman memasarkan produk kantor kami, sebuah aplikasi untuk pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan tempat pemasaran kami di perusahaan menengah ke bawah atau UKM, keadaan pertama yang kami temui adalah produk untuk &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2012/02/pemasar-produk/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam beberapa pekan terakhir ini saya ikut menemani teman
memasarkan produk kantor kami, sebuah aplikasi untuk pengelolaan
Sumber Daya Manusia (<abbr>SDM</abbr>). Dengan tempat pemasaran kami di
perusahaan menengah ke bawah atau <abbr title="Usaha Kecil dan Menengah">UKM</abbr>,
keadaan pertama yang kami temui adalah produk untuk penjualan (<abbr title="Point of Sales">POS</abbr>)
paling dulu dipenuhi, karena pintu gerbang kedatangan pelanggan dan
pendapatan; dilanjutkan dengan aplikasi akuntansi, sekali lagi
tentang duit. <abbr>SDM</abbr> setelah itu, jika karyawan sudah meningkat,
kesejahteraan perusahaan membaik, dan syukur-syukur kesadaran penuh
pemilik usaha akan aset penting berupa <abbr>SDM</abbr>.</p>

<p>Hal kedua yang menarik adalah perwakilan perusahaan yang kami temui
saat presentasi. Jika kami disambut oleh perwakilan divisi
kepegawaian atau <abbr>SDM</abbr>, boleh dikata diskusi lebih lancar karena
antara tim pemasar kami dan calon pembeli sama-sama perlu.
Tawar-menawar biasanya terjadi pada fasilitas yang disediakan
aplikasi dan relevansi terhadap keperluan urgen calon pembeli.
Terlalu lengkap terkadang tidak menyelesaikan masalah (memberangus
nyamuk menggunakan meriam?), jika kurang tentu mengecewakan, harga
dapat sangat jatuh. Tarik-ulur ini pada penyesuaian, fleksibilitas,
dan layanan migrasi serta purna-jual.</p>

<p><span id="more-131"></span></p>

<p>Yang dapat menjadi lebih sulit jika yang dihadapi perwakilan dari
divisi Teknologi Informasi (<abbr>TI</abbr>), lebih-lebih jika ybs. dianggap
lebih mengerti perkomputeran dan memiliki porsi besar dalam
penentuan.  Lebih sulit karena evaluasi yang dilakukan sering
menjadi terlalu jauh dan condong pada kaitan dengan teknologi
mutakhir. Sebagai contoh, yang klasik kami dengar pertanyaan: apakah
aplikasi ini sudah berbasis Web? Bukan karena divisi kepegawaian
benar-benar memerlukan, melainkan karena web itulah yang dianggap
pencapaian tertinggi teknologi sekarang dan pemeliharaan di komputer
klien nyaris nol. Tidak ada instalasi ulang, yang tentu saja
memudahkan pekerjaan divisi <abbr>TI</abbr>.</p>

<p>Aplikasi adalah web, tidak peduli ada model antarmuka
<i>master-detail</i> yang perlu <i>query</i> kompleks atau interaksi
dengan papan ketik intensif operator di lapangan. Kata akhirnya,
<q>Lah, Google atau Facebook bisa menyediakan seperti itu</q>.
Seharusnya kami tersanjung dipadankan dengan mereka, sambil meringis
membayangkan teknologi yang perlu diantisipasi. Belum tentu mereka
siap juga, terutama untuk pemeliharaan nanti.</p>

<p>Bagaimana hal ini diatasi? Perlu dipelajari siapa saja yang
sebenarnya akan menggunakan layanan dari aplikasi tsb. Operator di
divisi kepegawaian jelas sepanjang hari, selama hari kerja (mungkin
hingga lembur), habis-habisan di depan aplikasi tsb. Kualitas
informasi ditentukan oleh kualitas data masukan mereka dan sangat
jarang mereka berada di luar kantor selama pemasukan data. Bahkan di
kantor pun, kelompok ini biasanya duduk manis di meja kerjanya.</p>

<p>Barulah kelompok pembaca laporan, para manajer di atasnya, yang
perlu akses dari tempat-tempat yang berbeda, pun perangkat kerja
mereka (<i>gadget</i>) juga lebih canggih. Yang mereka lihat adalah
laporan akhir dan risalah. Koreksi pun minim, malah mungkin
disampaikan dengan cara lain, misalnya disebutkan secara lisan atau
lewat surel. Karena kelompok manajer ini penting dipuaskan dari
pengadaan perangkat lunak, aplikasi semacam <i>dashboard</i>
berbasis web cocok disediakan untuk mereka. Ini relatif mudah
dibanding jenis aplikasi entri data kompleks.</p>

<p>Jadi divisi <abbr>TI</abbr> merepotkan saat pengadaan aplikasi? Buat kami yang
membuat dan menjual memang betul merepotkan. Namun saya juga sadar,
terakhir membeli ponsel juga mensyaratkan adanya <abbr title="Global Positioning System">GPS</abbr>, walaupun kenyataannya dalam sepekan
paling dipakai sekali-dua kali, atau malah lebih jarang lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2012/02/pemasar-produk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Langkah Verifikasi untuk Akun di Google</title>
		<link>http://direktif.web.id/2012/01/dua-langkah-verifikasi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=dua-langkah-verifikasi</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2012/01/dua-langkah-verifikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 03:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[akun]]></category>
		<category><![CDATA[Dua Langkah Verifikasi]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[keamanan]]></category>
		<category><![CDATA[verifikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Pertengahan Desember lalu Google menawarkan fasilitas penambahan keamanan akun baru, Verifikasi Dua Langkah (Two Step Verification). Saya tertarik fasilitas ini dan segera mengaktifkan. Proses aktivasi relatif mudah dan tambahan verifikasi dikirimkan lewat pesan singkat (SMS). Saya sempat meragukan penggunaan SMS &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2012/01/dua-langkah-verifikasi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertengahan Desember lalu Google menawarkan fasilitas penambahan
keamanan akun baru, Verifikasi Dua Langkah (<a href="http://support.google.com/accounts/bin/static.py?hl=en&amp;page=guide.cs&amp;guide=1056283">Two Step
Verification</a>).
Saya tertarik fasilitas ini dan segera mengaktifkan. Proses aktivasi
relatif mudah dan tambahan verifikasi dikirimkan lewat pesan singkat
(<abbr title="Short Message Service">SMS</abbr>). Saya sempat
meragukan penggunaan <abbr>SMS</abbr> ini berdasarkan dua hal:
operator kartu ponsel yang saya gunakan tidak bekerja sama dengan
pengiriman <abbr>SMS</abbr> lewat Gmail (memang tidak ada hubungan langsung,
hanya prasangka) dan kedua, pernah saya gunakan untuk verifikasi
tambahan di layanan lain (jika tidak salah Facebook), kode yang
dikirimkan tidak diterima.</p>

<p>Prasangka tsb. muncul karena setelah saya aktifkan tidak ada
tanda-tanda kode diterima. Ternyata kode pertama aktivasi baru
diterima sekitar setengah hari kemudian. Konyolnya, saya sempat
mengulang permintaan pengiriman kode (karena menunggu lama tsb.),
sehingga kode yang dikirim pertama menjadi tidak berlaku. Namun hal
ini pertanda penggunaan <abbr>SMS</abbr> untuk keperluan ini dapat saya gunakan.
Pakai!</p>

<p><span id="more-125"></span></p>

<p>Alhasil setelah aktivasi, setiap kali saya berpindah, menggunakan
komputer lain, <abbr>SMS</abbr> kode tambahan dikirim dan seketika. Jadi sudah
dapat diandalkan, kendati untuk ponsel saya yang memisahkan antara
layar untuk <abbr>SMS</abbr> dan aplikasi, ada pekerjaan ekstra: tutup dulu
peramban, baca <abbr>SMS</abbr>, catat, dan kembali masuk ke layanan Google.
Seperti penjelasan umum bahwa keamanan berbanding terbalik dengan
kepraktisan.</p>

<p>Kendala berikutnya aplikasi pengelolaan pesan (<i>messaging</i>)
dari Nokia dan juga klien Gmail untuk Nokia yang <a href="https://plus.google.com/u/0/100145856129045595138/posts/CcieVJBLo6F">tidak menyediakan
tempat untuk memasukkan kode dari <abbr>SMS</abbr></a>. Sementara, sebulan ini, saya stop
pemakaian mereka dan beralih kembali via web; tetapi, saya baca
kembali dengan seksama penggunaan Verifikasi Dua Langkah ini di
halaman akun pengguna Google, terdapat keterangan bahwa untuk
aplikasi yang belum mendukung penggunaan kode yang dikirim lewat
<abbr>SMS</abbr>, disediakan kata sandi tambahan yang kita buat lagi dan
dimaksudkan bersifat temporer, terdapat di bagian
<cite>Application-specific passwords</cite>.</p>

<p>Sudah barang tentu, penambahan fasilitas seperti ini jangan sampai
melenakan pengguna dengan memberi perasaan aman yang semu. Tetap
saja aturan dasar seperti kewaspadaan menggunakan komputer di ruang
publik misalnya, harus diperhatikan. Setidaknya dengan Verifikasi
Dua Langkah terdapat lapis pengaman tambahan terhadap akun pengguna
di Google.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2012/01/dua-langkah-verifikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Masa Depan&#8221; untuk Pengembang</title>
		<link>http://direktif.web.id/2012/01/masa-depan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=masa-depan</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2012/01/masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 00:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[pengembang]]></category>
		<category><![CDATA[perangkat lunak bebas]]></category>
		<category><![CDATA[produk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Jadi bagaimana cara menyiasati &#8220;masa depan&#8221; untuk seorang pengembang? Saya sempat berdiskusi ringan dengan salah seorang senior di Bandung. Saya jelaskan hasil percakapan saya tentang usaha rintisan yang saya peroleh dari beberapa acara terakhir. Teman pengembang ini percaya bahwa jika &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2012/01/masa-depan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi bagaimana cara menyiasati &#8220;masa depan&#8221; untuk seorang pengembang? Saya sempat berdiskusi ringan dengan salah seorang senior di Bandung. Saya jelaskan hasil percakapan saya tentang <a href="http://direktif.web.id/2011/12/tentang-investasi/">usaha rintisan yang saya peroleh dari beberapa acara terakhir</a>.</p>

<p>Teman pengembang ini percaya bahwa jika dibuat produk yang bebas digunakan oleh banyak orang (taruhlah dengan lisensi &#8220;perangkat lunak bebas&#8221;) dan memang membawa manfaat bagi penggunanya, suatu saat si pembuat akan &#8220;memetik hasilnya&#8221;. Semacam panen yang merupakan kumulasi dari nilai produk yang telah dibuat dan bermanfaat tsb. Dari mana perhitungan tsb.? Ini lebih pada faktor keyakinan daripada perhitungan matematis suatu model bisnis; kendati, tidak tertutup kemungkinan sebenarnya suatu model bisnis yang mendekati keyakinan tsb. dapat disusun.</p>

<p><span id="more-119"></span></p>

<p>Ada dua hal penting di sini:</p>

<ol>
<li>Siasat yang perlu dipikirkan dan dijalankan selama masa bercocok tanam &#8212; sebelum musim panen tiba. Untuk pengembang junior barangkali tertolong oleh tingkat keperluan sehari-hari yang &#8212; mungkin &#8212; lebih sedikit. Oleh karena itu, jika keyakinan ini dijalankan saat masih kuliah misalnya, sangat mungkin pada saat ybs. lulus, hasil sudah dapat dipetik. Demikian pula di beberapa negara sosialis terdapat jaring pengaman sosial yang membantu warganya jika berpenghasilan kurang dari batas bawah. Di Indonesia? Mau tidak mau harus dipikirkan siasat menghadapi musim paceklik, lebih-lebih jika sudah ada tanggungan seperti keluarga.</li>
<li>Seberapa besar hasil dari panen yang akan dipetik? Bagaimanapun, terbersit hitung-hitungan antara hasil dibanding pengeluaran secara keseluruhan. Kecuali memang sudah berniat memilih total menjadi pengusaha untuk diri sendiri, bersikap menghitung hasil berbekal kondisi saat ini dan melakukan langkah penting investasi tsb. adalah keniscayaan. Jawaban moderat adalah dengan membagi waktu agar keduanya tetap dapat diraih, namun tidak selalu semudah itu. Komitmen penuh pada dua rencana besar berpotensi &#8220;tanggung&#8221; dijalankan.</li>
</ol>

<p>Saya berpendapat bahwa untuk keperluan pribadi dalam batas minimal, strategi secara khusus tidak terlalu diperlukan. Buat saja aplikasi yang bagus dan bermanfaat, niscaya akan ada cara &#8220;kita dibayar&#8221; suatu saat. Berapa batas minimal untuk hidup ini? Kami tertawa jika ukurannya adalah memiliki mobil mewah seperti Bentley; usulan teman pengembang tsb. adalah kesanggupan menyekolahkan anak-anak. Mohon diingat juga bahwa penyelenggaraan pendidikan yang ditanggung pemerintah Republik Indonesia adalah pendidikan dasar sembilan tahun. Di atas itu terdapat ekskalasi biaya, terutama untuk uang masuk. Tapi, baiklah, indikator ini dapat dijadikan pegangan terhadap keyakinan &#8220;tetap akan dibayar suatu waktu nanti&#8221;.</p>

<p>Pada sisi lain, jika yang diharapkan adalah hasil yang lebih besar, tampaknya tidak cukup sekadar meletakkan produk, digunakan oleh publik, dan uang datang. Perlu perubahan mendasar dari seorang pengembang aplikasi menjadi pengusaha. Matt Mullenweg di belakang WordPress adalah contoh nyata dari pengembang perangkat lunak bebas yang berubah menjadi pengusaha layanan berbasis produk yang dibuat dan sukses dengan perubahan tsb. Tim bisnis dibentuk, kerjasama digalang; titik ini sering disebut kritikal dalam proses pembentukan kewirausahaan.</p>

<p>Dengan demikian, sudah terlihat di sini tentang pilihan tetap sebagai pengembang atau beralih menjadi pengusaha. Dua hal yang berkaitan namun dapat berbeda cara pandang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2012/01/masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Investasi</title>
		<link>http://direktif.web.id/2011/12/tentang-investasi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tentang-investasi</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2011/12/tentang-investasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 23:44:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[investor]]></category>
		<category><![CDATA[rintisan]]></category>
		<category><![CDATA[start-up]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang menyebut sebagai &#8220;investor malaikat&#8221; (angel investor), ada juga &#8220;investor gila&#8221;. Intinya adalah pihak investor yang jeli, mengendus potensi produk, dan berani nekat menggelontorkan pundi-pundi. Venture Capital (VC) atau modal ventura, istilah yang lebih resmi digunakan. Di awal-awal ramai-ramai &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2011/12/tentang-investasi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang menyebut sebagai &#8220;investor malaikat&#8221; (<i>angel
investor</i>), ada juga &#8220;investor gila&#8221;. Intinya adalah pihak
investor yang jeli, mengendus potensi produk, dan berani nekat
menggelontorkan pundi-pundi. Venture Capital (VC) atau modal
ventura, istilah yang lebih resmi digunakan. Di awal-awal
ramai-ramai Ventura dua dasawarsa lalu, anggapan yang sudah muncul
untuk pengajuan dari sektor <abbr title="Teknologi Informasi">TI</abbr> 
adalah bahwa industri ini tidak layak disebut <abbr title="Usaha Kecil dan Menengah">UKM</abbr> karena berisi orang-orang yang
berpendidikan. Pengusaha tahu atau pedagang kelontong misalnya,
dianggap lebih tepat diayomi Ventura.</p>

<p>Setelah itu tetap ada kesulitan laten menjelaskan aset perusahaan
<abbr>TI</abbr>, yaitu penilaian terhadap aset dalam bentuk perangkat lunak.
Seperti dijelaskan di buku-buku teks, perangkat lunak yang terdiri
atas program, data, dan dokumentasi tidak selalu mudah dikonversi
dalam penilaian.</p>

<p><span id="more-109"></span></p>

<p>Bagaimana hari-hari ini? Di <acronym title="Indonesia ICT Awards">INAICTA</acronym>&nbsp;2011 lalu saya menyaksikan acara
seminar yang tampak menonjolkan peluang untuk perusahaan rintisan
(<i>start-up</i>). Ditampilkan beberapa teladan yang sudah mengalami
manis-asam gula-garam selama merintis usaha, termasuk inisiatif dari
pihak investor.</p>

<p>Usai acara saya berkesempatan mengobrol panjang dengan <a href="https://www.facebook.com/wisnu.manupraba">Wisnu
Manupraba</a>, teman dari Bandung juga, yang sekarang sedang sibuk
membesarkan <a href="http://www.ngomik.com">Ngomik</a>. Pengalamannya dengan pendanaan investor sbb.:</p>

<ol>
<li>Dari sebagian kisah yang berlanjut baik, umumnya adalah untuk
individu atau kelompok baru yang belum mendapatkan bentuk. Dengan
demikian, tidak selalu mudah untuk tim yang sudah mapan atau
mulai memiliki kultur sendiri.</li>
<li>Calon investor yang dianggap prospektif mengajak diskusi produk
yang dibuat dan peluang ke depan; sedangkan yang sedikit konyol
langsung menanyakan berapa lama akan balik modal. Wisnu sendiri
lebih menghargai kelompok prospektif walaupun di akhir gagal
berkongsi.</li>
</ol>

<p>Sebulan kemudian saya bertemu <a href="https://www.facebook.com/endanasution">Enda Nasution</a> yang sekarang
membesarkan <a href="http://salingsilang.com">Saling Silang</a> di acara
<a href="http://direktif.web.id/2011/11/asean-blogger/">Konferensi Narablog ASEAN</a>, yang
salah satunya mengangkat isu usaha rintisan untuk wilayah regional.
Saya tanyakan isu investor ini dan poin dari Enda:</p>

<ol>
<li>Investor memang sedang datang dalam jumlah banyak ke Indonesia,
setelah isyarat (dan promosi) prospek bisnis <abbr>TI</abbr> di sini, terutama
gambaran potensi pengembang. Ini dapat menjadi <i>boom</i> dan
dapat berisiko jika ternyata kenyataan di lapangan berbeda.</li>
<li>Sejalan dengan penjelasan Shinta Dhanuwardoyo dari Bubu di
acara tsb. tentang pentingnya profil pendiri usaha rintisan &#8211;
bukan hanya gagasannya &#8212; Enda menjelaskan bahwa dalam
beberapa kasus kerja sama investor dan usaha rintisan malah dapat
berubah menjadi kepentingan investor untuk mengarahkan <abbr title="Sumber Daya Manusia">SDM</abbr>
perusahaan tsb. mengerjakan rencananya. Jika hal ini
bertolak-belakang dengan gagasan yang semula diangkat, praktis
jadilah rekrutmen <abbr>SDM</abbr> secara kolektif &#8212; sudah dalam bentuk tim
pula. Hal ini menjadi logis dilihat dari kesulitan rekrutmen staf <abbr>TI</abbr> hari-hari ini, karena
jumlahnya di bawah kebutuhan.</li>
</ol>

<p>Terakhir cerita dari <a href="https://www.facebook.com/rendy.maulana">Rendy Maulana</a> yang dengan konservatif dia
sebutkan bisnis harus tetap bertumpu pada keuletan diri sendiri.
Sulit berharap kecocokan dari pihak lain, walau mungkin
jumlah pendanaan yang diperlukan bukan angka yang besar bagi pihak
lain tsb. Oh ya, Rendy ini <a href="http://www.qwords.com">juragan tempat
<i>hosting</i></a> yang awet
dengan bisnisnya, jadi barangkali dia lebih tepat mendudukkan
dirinya sebagai investor sekarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2011/12/tentang-investasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASEAN Blogger 2011 Conference</title>
		<link>http://direktif.web.id/2011/11/asean-blogger/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=asean-blogger</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2011/11/asean-blogger/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 01:36:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ASEAN]]></category>
		<category><![CDATA[Asean Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[konferensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Pertengahan Oktober lalu, Raden Ajeng menelepon saya, menanyakan kesediaan datang di acara narablog ASEAN. Saya ingat bulan Ramadan lalu saya juga mendapat undangan lewat surel untuk hadir di acara pameran foto dan ramah-tamah narablog ASEAN di Jakarta; saya memutuskan absen &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2011/11/asean-blogger/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertengahan Oktober lalu, <a href="https://www.facebook.com/ajengkol">Raden Ajeng</a> menelepon saya, menanyakan
kesediaan datang di acara narablog <acronym title="Association of Southeast Asian Nations">ASEAN</acronym>.
Saya ingat bulan Ramadan lalu saya juga mendapat undangan lewat
surel untuk hadir di acara pameran foto dan ramah-tamah narablog
<acronym>ASEAN</acronym> di Jakarta; saya memutuskan absen saat itu. Lewat telepon itu
pula, Mbak Ajeng menjelaskan rencana acara dan fasilitas yang
diberikan untuk undangan. Saya menyanggupi, setelah itu sempat tidak
ada kabar perkembangan, dan akhirnya baru Ahad, 13&nbsp;November
saya dihubungi lagi oleh panitia, menyatakan saya akan berangkat ke
Asean Blogger&nbsp;2011 Conference.</p>

<p>Konferensi narablog <acronym>ASEAN</acronym> 2011 berlangsung di Nusa Dua, Bali, pada
tanggal 16&nbsp;November. Tampaknya merupakan bagian dari perhelatan
akbar Indonesia untuk <acronym>ASEAN</acronym> kali ini, karena berlangsung bersamaan
dengan SEA Games dan <abbr title="Konferensi Tingkat Tinggi">KTT</abbr>
kepala negara <acronym>ASEAN</acronym>, termasuk pertemuan mereka dengan Presiden
Amerika Serikat, yang juga dilangsungkan di Nusa Dua, Bali.
Kabarnya, acara lain, seperti pertemuan para ahli keamanan jaringan,
juga berlangsung pekan sebelumnya. Jadi sangat mungkin acara-acara
berbasis komunitas diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan
&#8220;perhelatan <acronym>ASEAN</acronym>&#8221; sebagai perwujudan paling praktis persahabatan
warga <acronym>ASEAN</acronym>.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/6346184723/" title="AseanBlogger #04: Welcome to the Island of Thousand Temples by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm7.staticflickr.com/6113/6346184723_5bb0f4799b.jpg" width="500" height="375" alt="AseanBlogger #04: Welcome to the Island of Thousand Temples"/></a></p>

<p><span id="more-96"></span></p>

<p>Kabar lain yang sempat saya dengar adalah keinginan agar <acronym>ASEAN</acronym> kian
solid hingga seperti Uni Eropa, yang antara lain sanggup mewujudkan
kemudahan lalu-lintas antarnegara untuk warga di dalamnya. Apakah
narablog dapat diharapkan membantu sosialisasi keinginan besar ini?
Masih di awang-awang buat saya, karena memang baru kali ini saya
datang di pertemuan narablog berskala <acronym>ASEAN</acronym>. Sebagai catatan,
tahun-tahun lalu saya sempat hadir di acara besar keamanan jaringan
(<abbr title="Asia Pacific Computer Emergency Response Team">APCERT</abbr>) dan
anugerah perangkat lunak
(<abbr title="Asia Pacific Information and Communications Technology Awards">APICTA</abbr>),
keduanya mencakup beberapa negara Asia-Pasifik.</p>

<p>Akhirnya saya benar-benar bertemu panitia di bandara Ngurah Rai,
Denpasar, Bali, berlanjut dengan kedatangan rombongan narablog
Pontianak, perwakilan Lampung, dan Jakarta. Secara bergelombang para
undangan sudah berdatangan di Bali pada hari tsb. Termasuk
perwakilan dari negara-negara <acronym>ASEAN</acronym>. Hingga acara berlangsung
keesokan harinya, perwakilan Singapura dan Myanmar yang berhalangan
datang. Karena untuk Indonesia diundang dari banyak kota besar &#8211;
membentang dari Padang hingga Ambon, praktis dari sekitar
200&nbsp;undangan, Indonesia tampak dominan.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/6361965147/" title="Attending Bali Blogger Community 4th Anniversary by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm7.staticflickr.com/6046/6361965147_13982931b7.jpg" width="500" height="333" alt="Attending Bali Blogger Community 4th Anniversary"/></a></p>

<p>Acara resmi pertama Selasa, 15 November, sore adalah memenuhi
undangan ulang tahun keempat Bali Blogger Community
(<abbr>BBC</abbr>). Dijamu
di acara di taman terbuka di kompleks galeri, acara ini diharapkan
menjadi semacam &#8220;pemecah kebekuan&#8221; (<i>ice breaker</i>) di antara
peserta, sekaligus perkenalan dengan komunitas narablog Bali.
Selamat berulang tahun keempat, <abbr>BBC</abbr>, semoga lancar dengan regenerasi
pegiat blog di sana.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/6361980997/" title="Advisor by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm7.staticflickr.com/6045/6361980997_044b59bb73.jpg" width="500" height="333" alt="Advisor"/></a></p>

<p>Sehari 16 November adalah acara utama konferensi. Berlangsung di
Museum Pasifika, Nusa Dua, perhelatan dimulai sekitar pukul
9&nbsp;<abbr title="Waktu Indonesia Tengah">WITA</abbr>, dibuka oleh
<acronym title="Menteri Komunikasi dan
Informatika">Menkominfo</acronym>, Tifatul Sembiring. Materi pembuka oleh Hazairin Pohan,
penasihat <acronym>ASEAN</acronym> Blogger Community Chapter Indonesia. Berlatar
belakang diplomat, paparan Pak Hazairin berselang-seling antara
konsep di belakang <acronym>ASEAN</acronym> dan gerakan blog sekarang.</p>

<p>Sesi pertama diakhiri dengan paparan kondisi blogosfer di
negara-negara <acronym>ASEAN</acronym> oleh perwakilan masing-masing. Indonesia dapat
berbangga dengan angka-angka yang memang fantastis &#8212; terutama untuk
media sosial yang sudah berskala dunia, namun jangan lengah karena
semangat yang ditunjukkan perwakilan negara-negara lain di kawasan
ini sangat impresif. Vietnam yang melesat dengan produk lokal dan
persoalan huruf mereka adalah teladan kerja keras swasembada layanan
Net. Begitu pula Kamboja dan Laos yang berjuang keras dari lapis
infrastruktur saat ini. Sudah pasti dengan Thailand dan Malaysia,
dua pemain besar dalam banyak hal di seputar <acronym>ASEAN</acronym>. Tidak
tertinggal, Brunei si kecil surga koneksi: dengan jumlah pengguna
yang sedikit, tampaknya mereka juara dalam hal rata-rata lebarpita
yang dicapai.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/6361137267/" title="Group C Discussion by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm7.staticflickr.com/6116/6361137267_98a7d688df.jpg" width="500" height="333" alt="Group C Discussion"/></a></p>

<p>Sebelum rehat siang, kami dipilah menjadi tiga kelompok diskusi dan
merumuskan dokumen yang menjadi bahan deklarasi. Dengan waktu yang
terbatas, anggota setiap kelompok tampak bersemangat membawakan
aspirasinya dan secara umum representasi dari negara yang diwakili.
Semua masukan ini ditampung dan dalam format yang lebih ringkas
diskusi dilanjutkan oleh tim perumus di acara siang, menjelang
penyusunan deklarasi.</p>

<p>Acara berlanjut setelah rehat siang dengan pembawa materi beragam,
perwakilan Google, tentang usaha rintisan (<i>start-up</i>) oleh
perwakilan BUBU, media sosial oleh Virtual Consulting, dan berlanjut
dengan sesi berikutnya ihwal kebebasan berekspresi dan terakhir
Wajanbolic oleh Onno W. Purbo hingga menjelang pukul 18.</p>

<p>Tantangan besar dalam menyelenggarakan acara dengan peserta yang
bervariasi adalah mengakomodasi semua harapan atau setidaknya
mengangkat suasana dengan isu yang diterima secara kolektif. Dalam
hal ini Konferensi perlu diisi materi yang mewakili kepentingan di
negara-negara <acronym>ASEAN</acronym> atau setidaknya bersuasana <acronym>ASEAN</acronym>.</p>

<p>Pembahasan deklarasi memangkas rencana rehat sore, menjadi
perdebatan hangat antara dua kubu besar: kelompok yang mencukupkan
isi deklarasi dengan poin-poin global dan mendasar tentang narablog
di <acronym>ASEAN</acronym> dan kelompok yang ingin lebih bebas menulis poin-poin
hingga rincian. Hingga akhir acara, formulasi belum selesai total,
namun sudah mengerucut ke finalisasi, dan acara harus distop karena
penutupan Konferensi sudah akan dimulai.</p>

<p>Hingga penerbangan pulang ke Soekarno-Hatta, Jakarta, keesokan
malam, saya bertemu dan beramah-tamah dengan beberapa pegiat
blogosfer, walaupun lebih bersifat spontan.</p>

<p>Terima kasih kepada panitia yang telah mengundang saya mengikuti
acara narablog <acronym>ASEAN</acronym> kali ini. Sudah barang tentu, tindak lanjut
usai perhelatan yang penting dan menunggu di depan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2011/11/asean-blogger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Server Surel dari Lapangan</title>
		<link>http://direktif.web.id/2011/11/kisah-server-surel/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kisah-server-surel</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2011/11/kisah-server-surel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2011 10:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[email]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[server]]></category>
		<category><![CDATA[surel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Berkesempatan bertemu dengan tim teknis dari salah satu penyelenggara layanan Internet di Bandung, hari Rabu lalu, saya mengulang pertanyaan lama, Masih adakah klien mereka yang menyediakan server surel sendiri? Seperti saya duga sebelum bertanya, jawaban mereka sama dengan kondisi yang &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2011/11/kisah-server-surel/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berkesempatan bertemu dengan tim teknis dari salah satu
penyelenggara layanan Internet di Bandung, hari Rabu lalu, saya
mengulang pertanyaan lama, <q>Masih adakah klien mereka yang
menyediakan server <acronym title="surat elektronik">surel</acronym> sendiri?</q></p>

<p>Seperti saya duga sebelum bertanya, jawaban mereka sama dengan
kondisi yang pernah saya tulis <a href="http://arc03.direktif.web.id/arc/2010/05/teknologi-gmail" title="Teknologi di Dapur Gmail: Bagaimana Yang Lain?">tentang server
surel</a>.</p>

<p><span id="more-91"></span></p>

<ol>
<li><p>Pengelolaan server surel sendiri itu lebih repot, dari sisi penyediaan <abbr title="Sumber Daya Manusia">SDM</abbr> hingga urusan tambahan antisipasi terhadap gangguan seperti <i>spam</i>, <i>scam</i>, virus. Saya ingat server kantor kami: di saat-saat terakhir masih mengurus surel sendiri, kesibukan tingginya justru memindai pesan yang akan datang atau yang sudah masuk.</p></li>
<li><p>Pengalihan urusan server surel ke pihak ketiga (Gmail lagi!) dianggap lebih murah. Ini seperti <a href="https://plus.google.com/u/0/100267411930603824933/posts/YbAEc75Eiph">pertimbangan Riyogarta</a>, membayar untuk ukuran penyimpanan lebih besar pun masih terjangkau dan lebih efisien dibanding poin (1).</p></li>
</ol>

<p>Selain itu ada faktor tambahan: surel memang sudah mulai kurang
populer dibanding dulu. Frekuensi kedatangan tidak seramai dulu,
terutama untuk keperluan personal, karena beberapa penyampaian pesan
sudah digantikan oleh jejaring sosial atau mikroblog.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2011/11/kisah-server-surel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyongsong Hari Blogger Nasional</title>
		<link>http://direktif.web.id/2011/10/hari-blogger/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=hari-blogger</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2011/10/hari-blogger/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 14:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Tiga hari mendatang, 27 Oktober, Hari Blogger Nasional (dapatkah disebut &#8220;Hari Narablog Nasional&#8221;?). Saat dicanangkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Mohammad Nuh, di tahun 2007, Pesta Blogger pertama, saya membayangkan: sebenarnya tanggal tsb. diperoleh dari upaya &#8220;mendekati Hari Sumpah Pemuda&#8221;, &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2011/10/hari-blogger/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga hari mendatang, 27 Oktober, Hari Blogger Nasional (dapatkah disebut &#8220;Hari Narablog Nasional&#8221;?). Saat <a href="http://www.detikinet.com/read/2007/10/27/173146/845629/447/menkominfo-27-oktober-hari-blogger-nasional" title="Menkominfo: 27 Oktober, Hari Blogger Nasional">dicanangkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika</a>, Mohammad Nuh, di tahun 2007, Pesta Blogger pertama, saya membayangkan: sebenarnya tanggal tsb.  diperoleh dari upaya &#8220;mendekati Hari Sumpah Pemuda&#8221;, dan jadilah tanggal 27 Oktober 2007 hari Sabtu &#8212; libur akhir pekan yang cocok untuk perhelatan besar. Tidak terlalu mengherankan juga, karena banyak peristiwa penting di dunia ini terjadi &#8220;begitu saja&#8221; dan menjadi peringatan berikutnya.</p>

<p>Untuk kali ini, tahun 2011, Pesta Blogger, yang seharusnya dihelat
kelima kali, tidak ada. Sejak sekitar bulan Juli-Agustus lalu,
seingat saya bersamaan dengan Ramadan, terdapat perubahan besar:
Pesta Blogger berganti menjadi On|Off. Keributan sempat terjadi di
Twitter saat itu dan berlanjut dengan beberapa tulisan di blog yang
bersuasana sentimental. Sesuatu yang wajar, jika diingat kelompok
dan seksi sibuk yang telah mengupayakan Pesta-pesta sebelumnya dan
di banyak tempat, jika sudah berhubungan dengan penggalangan massa,
romantisme menjadi pengikat.</p>

<p><span id="more-79"></span></p>

<p>Sebenarnya boleh saja Hari Blogger Nasional tiga hari lagi
diperingati tanpa Pesta Blogger &#8212; lebih-lebih jika kita merasa
memaknai tanggal tersebut sebagai salah satu momentum. Memang tidak
akan ada perhelatan akbar seperti empat kali kesempatan yang lalu,
akan tetapi jika dianggap pertemuan dalam satu kota lebih akrab dan
hangat, mengapa tidak?</p>

<p>Persiapan terlalu dekat? Spontanitas dapat menggugah hati dan tidak
perlu terlalu terpaku tanggal juga. Bergeser barang satu hingga tiga
hari masih akan dimaklumi.</p>

<p>Kenangan indah yang tampaknya akan hilang adalah tradisi penyambutan
di Bundaran HI Jakarta, yang dinamai Muktamar Blogger. Kabarnya
tradisi ini muncul untuk menyambut teman-teman dari daerah yang
sudah datang di ibukota sehari sebelum acara Pesta Blogger.
Barangkali agar afdol, kontingen yang telah menginjak ibukota
diajak mengitari Bundaran HI. Saya sendiri belum pernah mengikuti
Muktamar, karena jemaah dari Bandung tetap dapat menikmati Pesta
Blogger di Jakarta dengan berangkat satu kafilah ba&#8217;da subuh.</p>

<p>Demikianlah, saya mendului mengucapkan selamat Hari Blogger
Nasional. Dirayakan bersahaja dengan meneguhkan semangat kita
berbagi lewat aneka media blog pun sudah merupakan perayaan yang
membawa kebaikan. Saya pribadi masih membuka diri untuk berbicara
menjelaskan blog, mengajak hadirin, dan menyemangati lewat
pertemuan.</p>

<p>Sebagai kenang-kenangan, saya tetap menyediakan <a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/sets/72157622554583761">kumpulan foto Pesta
Blogger</a>
dan <a href="http://www.flickr.com/groups/589879@N22/">grup Pesta Blogger</a> di Flickr. Sila gunakan grup tsb. jika ingin
mengumpulkan foto-foto perayaan Hari Blogger Nasional kali ini,
walaupun tanpa label <tt>pb2011</tt>. Pada perayaan tahun-tahun lalu
saya mengundang teman-teman pemasang foto untuk menjadikan
<tt>pb2011</tt> sebagai &#8220;tag panas&#8221; (Hot Tags) di Flickr, walaupun
hanya satu hari saja, dan berhasil.</p>

<p>Catatan: di situs web Pesta Blogger, <tt>pestablogger.com</tt>, jika
didatangi langsung akan diarahkan ke <tt>www.onoffid.org/</tt>,
namun tautan Pesta Blogger tetap disediakan sebagai bagian dari menu
di ON|OFF. Berjalinan dan berkelit, barangkali begitulah dalam hidup
ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2011/10/hari-blogger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2011-10-22</title>
		<link>http://direktif.web.id/2011/10/2011-10-22/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=2011-10-22</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2011/10/2011-10-22/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Oct 2011 01:57:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[#direktif]]></category>
		<category><![CDATA[AppFlower]]></category>
		<category><![CDATA[framework]]></category>
		<category><![CDATA[hack]]></category>
		<category><![CDATA[kerangka kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Kabar Kamis sore: AppFlower menarik digunakan sebagai kerangka-kerja di atas PHP dan ExtJS. Disebut &#8220;lebih tinggi&#8221; daripada kerangka-kerja semacam Code Igniter. Cocok buat saya? Hanya seorang pemrogram waktu-senggang atau mendadak datang minat. Sudah diunduh dalam format VMWare, VMDK, dicoba di &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2011/10/2011-10-22/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kabar <strong>Kamis sore</strong>: <a href="http://www.appflower.com">AppFlower</a> menarik digunakan sebagai kerangka-kerja
di atas <abbr title="PHP Hypertext Processor">PHP</abbr> dan ExtJS.
Disebut &#8220;lebih tinggi&#8221; daripada kerangka-kerja semacam Code Igniter.
Cocok buat saya? Hanya seorang pemrogram waktu-senggang atau
mendadak datang minat.</p>

<p>Sudah diunduh dalam format VMWare, VMDK, dicoba di komputer teman di
atas VirtualBox dan berjalan dengan baik. Belum diperiksa lebih
mendalam, tampilan pertama hanya berlaku untuk satu pengguna &#8211;
walaupun beberapa projek dapat dibuat olehnya. Apakah hal ini
berkait dengan lisensi atau ada konfigurasi untuk beberapa pengguna
simultan, belum tahu.</p>

<p>Basisdata terkenal didukung, baik keluarga Free Software atau
komersial, namun salah satu keperluan kami, DB2, malah belum. Nah!</p>

<p><span id="more-71"></span></p>

<p>AppFlower termasuk perangkat lunak berlisensi ganda: <abbr title="GNU Public License">GPL</abbr> untuk pekerjaan GPL juga dan
komersial untuk pekerjaan komersial. Namun dengan pembayaran per
pengembang, cukup aman untuk tidak membebani calon konsumen.</p>

<p><strong>Jumat sore</strong>: kecurigaan akan adanya penyusupan di subdirektori
tema WordPress blog ini akhirnya terbukti melumpuhkan <tt>#direktif</tt>. Sebelumnya,
ada laporan dari <a href="https://www.facebook.com/willypermana">Willy Permana</a> akan kejanggalan hasil tampilan Lynx,
ternyata memang terjadi kekacauan di dapur yang akan membelokkan
akses ke blog ini ke situs lain berisi merk obat-obatan liar jika
diakses dengan peramban non-grafis, termasuk bot Google. Hasil dari
halaman pencarian Google dan Google Webmaster mengindikasikan hal
tsb.</p>

<p><a href="http://direktif.web.id/wp-content/uploads/2011/10/facebook.com-2011-10-22-85120.jpg"><img src="http://direktif.web.id/wp-content/uploads/2011/10/facebook.com-2011-10-22-85120.jpg" alt="" title="Pembelokan akses untuk Lynx" width="510" height="305" class="aligncenter size-full wp-image-72" /></a></p>

<p>Setelah dicari-cari tak ditemukan tempat para pembokong bersembunyi,
akhirnya isi basisdata WordPress dibuatkan salinan, begitu pula subdirektori
terkait, dan instalasi WordPress baru. Demikianlah, jadi mohon
maklum jika tampilan berubah, karena memang mendulukan tulisan ini
dibanding mengatur dapur kembali. Begitu pula jika terdapat dokumen
atau foto belum ditampilkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2011/10/2011-10-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Informasi Geotag dan Metadata Foto</title>
		<link>http://direktif.web.id/2011/10/informasi-geotag/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=informasi-geotag</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2011/10/informasi-geotag/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 18:13:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[GPS]]></category>
		<category><![CDATA[logger]]></category>
		<category><![CDATA[metadata]]></category>
		<category><![CDATA[pencatat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini saya gagal mengisi informasi geotag ke metadata foto secara massal. Informasi koordinat pemotretan diperoleh dari pencatat log GPS Holux, digabungkan lewat aplikasi bawaan produk tsb., namun diabaikan oleh Flickr. Semula saya sangka pemutakhiran EXIF foto tidak tepat, mengingat &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2011/10/informasi-geotag/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama ini saya gagal mengisi informasi geotag ke
metadata foto secara massal. Informasi koordinat pemotretan diperoleh dari
<a href="http://direktif.web.id/a/2011/05/pencatat-gps">pencatat log <abbr title="Global Positioning System">GPS</abbr>
Holux</a>, digabungkan
lewat aplikasi bawaan produk tsb., namun diabaikan oleh Flickr.
Semula saya sangka pemutakhiran EXIF foto tidak tepat, mengingat
kemungkinan format JPEG kian kompleks dengan tambahan-tambahan yang
mengakomodasi kondisi saat ini.  Diperiksa lewat penampil foto dan
pembaca metadata foto, koordinat sudah tersedia.</p>

<p>Jadi apa penyebab masalah ini?</p>

<p>Setelah sempat terabaikan, penasaran diulang dicari lagi dan di
salah satu forum Flickr disebutkan agar setelan pembacaan geotag
dari EXIF perlu diaktifkan agar dipakai oleh Flickr. Ah, benar-benar
kekhilafan sepele yang tak terduga disediakan pengaturannya di
setelan akun Flickr. Menu ini tersedia di &#8220;Your Account → Privacy
&amp; Permissions&#8221;.</p>

<p><span id="more-68"></span></p>

<p><a href="http://direktif.web.id/wp-content/uploads/2011/10/Screenshot-1.png"><img src="http://direktif.web.id/wp-content/uploads/2011/10/Screenshot-1.png" alt="" title="Import EXIF Location" width="380" height="76" class="aligncenter size-full wp-image-69" /></a></p>

<p>Jika penandaan lokasi ini hendak digunakan bersama oleh beberapa
fotografer, misalnya oleh peserta <i>photowalk</i>, dapat dilakukan
dengan cara:</p>

<ol>
<li><p>Pastikan tanggal dan jam kamera sudah diset benar sesuai server
jam dunia. Komputer yang dilengkapi dengan utilitas pengatur waktu
sistem atau layanan dari operator seluler dapat digunakan untuk
keperluan ini. Saya aktifkan fasilitas tanggal-jam otomatis di
ponsel dan operator XL menyediakan penyesuaian jam sistem ini.</p></li>
<li><p>Setelah sesi pemotretan, berkas hasil pembacaan dari pencatat
log GPS, dibagikan kepada para fotografer. Holux menghasilkan
berkas berekstensi <tt>ITM</tt> dan dapat dibuka dengan aplikasi
yang mereka sediakan. Seharusnya ada format yang lebih
umum/terbuka untuk digunakan, barangkali <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Keyhole_Markup_Language"><abbr title="Keyhole Markup Language">KML</abbr></a>? Ada masukan? Berkas
dan aplikasi ini yang akan menghubungkan antara log waktu dan foto
dengan cara menuliskan informasi koordinat ke semua foto yang
diproses.</p></li>
</ol>

<p>Flickr akan menggunakan informasi koordinat dari foto. Fasilitas
tambahan yang disediakan Flickr untuk menjaga privasi sebuah daerah
adalah adanya <a href="http://www.flickr.com/help/map/?search=fencing#29531249"><i>geofence</i></a>, yaitu daerah di atas peta yang diset
lebih privat dibanding setelan umum kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2011/10/informasi-geotag/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunitas Narablog di Kota-kota Besar</title>
		<link>http://direktif.web.id/2011/08/komunitas-narablog/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=komunitas-narablog</link>
		<comments>http://direktif.web.id/2011/08/komunitas-narablog/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Aug 2011 01:40:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[narablog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://direktif.web.id/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu sesi di acara XL Net Rally pada hari Sabtu, 23 Juli lalu, adalah kunjungan ke Toko Oen. Tempat ini disebut legendaris, walaupun demikian saya baru pertama kali mengunjungi Toko Oen. Di setiap kunjungan ke keluarga di Semarang beberapa &#8230; <a href="http://direktif.web.id/2011/08/komunitas-narablog/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu sesi di acara XL Net Rally pada hari Sabtu, 23 Juli lalu,
adalah <a href="http://direktif.web.id/a/2011/07/xlnetrally-2011-02/" title="XL Net Rally 2011 (02): Anjangsana di Semarang">kunjungan ke Toko Oen</a>. Tempat ini disebut legendaris,
walaupun demikian saya baru pertama kali mengunjungi Toko Oen. Di
setiap kunjungan ke keluarga di Semarang beberapa tahun lalu belum
pernah mendapat rujukan tentang toko tsb.</p>

<p>Sambil menikmati hidangan traktiran XL, saya bercakap-cakap dengan
perwakilan komunitas narablog Semarang, <a href="http://loenpia.net">Loenpia</a>, dan satu lagi
undangan dari Surabaya. Loenpia disebut cukup aktif: dari sekitar
seribu anggota yang terdaftar di milis mereka, dengan persyaratan
yang longgar termasuk tidak harus berdomisili di Semarang,
partisipan aktif di kegiatan-kegiatan berkisar dua puluh orang. Jika
dapat bertahan dengan jumlah sekitar itu per kegiatan, itu sudah
bagus sebagai komunitas. Jika pun berganti-ganti peserta kegiatan
justru bagus, berarti aktivis beragam.</p>

<p><span id="more-66"></span></p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/6006637325/" title="Meet and Talk with Bloggers at &quot;Toko Oen&quot; by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm7.static.flickr.com/6138/6006637325_fee079af86.jpg" width="500" height="333" alt="Meet and Talk with Bloggers at &quot;Toko Oen&quot;"/></a></p>

<p><a href="http://www.daengbattala.com">Amril T Gobel</a> yang bulan-bulan lalu
sempat berkeliling ke beberapa kota mengikuti acara
<a href="http://idblognetwork.com">IdBlogNetwork</a> menyebut antusiasme
kegiatan menulis blog masih terlihat di kota-kota besar kita,
umumnya di ibukota provinsi. Di ujung timur ada <a href="http://angingmamiri.org">Anging
Mamiri</a> di Makassar, salah satu kota blog
awal yang mencuat di luar &#8220;sabuk kota kreatif&#8221; Jakarta, Bandung,
Yogyakarta, dan Denpasar.</p>

<p>Di Sumatra saya ingat beberapa <a href="http://adha.ms/p/298/merdeka-20-deklarasi-awakmedan/">tulisan Adham Somantrie tentang Awak
Medan</a> saat
dia harus tinggal di Medan saat mengerjakan proyek,
Palembang dengan Wongkito, komunitas Bandar Lampung saya kenal lewat
<a href="https://plus.google.com/102873330251083192868">Geri Sugiran A.S.</a>, narablog yang mondar-mandir Bandar
Lampung-Sukabumi, kota asalnya. Amril juga sempat menyebut aktivitas
di Padang, Sumatra Barat, yang sempat menjadi tanda tanya saya
mengingat kota ini salah satu ikon besar sastra klasik negeri ini.</p>

<p>Bagaimana dengan Bandung? Saya amati sifat kota migran dengan
mahasiswa sebagai basis kegiatan blog masih terasa, setidaknya dari
regenerasi komunitas blog di Bandung. Sejak Bandung Blog Village
(BBV) kemudian Batagor, aktivitas menjadi semarak saat partisipan
berada masa yang tepat untuk bertemu sebagai mahasiswa dan langsung
menurun drastis begitu mereka harus meninggalkan Bandung. Angkatan
berikutnya tidak selalu dapat melanjutkan &#8220;masa yang tepat&#8221; tsb.
Untuk sekarang, saya sempat mendengar Bloofer (Blog of Friendship)
dan kabarnya ada juga kegiatan di luar Kota Bandung, barangkali dua
Kabupaten Bandung di sekitar.</p>

<p>Yang lebih riuh terdengar adalah pertemuan komunitas Koprol, yang
tampaknya mendapat tempat berbasis kampus, semisal Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI) di Utara, Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri di Timur, Institut Teknologi Telkom di Selatan. Sentimen
kelompok urban yang diangkat Koprol menjadi potensi acara-acara
mereka berskala nasional.</p>

<p>Untuk Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jaya, tampak lebih terwakili
kawasan Jabodetabek, jika diperhatikan kegiatan komunitas di Bekasi
dan Depok. Jakarta adalah tempat mencari nafkah, sedangkan menulis
blog dan berkumpul tetap dilakukan di tempat tinggal, yaitu daerah
sekitar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://direktif.web.id/2011/08/komunitas-narablog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

