<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <title>#direktif</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/" />
    <link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://direktif.web.id/atom.xml" />
    <id>tag:direktif.web.id,2009-06-23://2</id>
    <updated>2010-03-09T06:14:16Z</updated>
    <subtitle>Catatan pengalaman ringkas di seputar teknologi informasi</subtitle>
    <generator uri="http://www.sixapart.com/movabletype/">Movable Type 4.261</generator>

<entry>
    <title>Korupsi yang Memprihatinkan</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2010/03/korupsi" />
    <id>tag:direktif.web.id,2010://2.644</id>

    <published>2010-03-09T06:02:40Z</published>
    <updated>2010-03-09T06:14:16Z</updated>

    <summary>Korupsi di Indonesia yang memprihatinkan.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Anotasi" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Di akhir tahun lalu kantor kami kedatangan tim survei yang dilakukan oleh teman-teman di Bandung High Tech Valley (BHTV). Kuesioner yang diajukan berasal dari salah satu instansi pemerintah daerah (saya lupa, Pemkot Bandung atau Pemda Jawa Barat). Pertanyaan terakhir tentang harapan pelaku bisnis terhadap iklim usaha, di Bandung secara khusus sebagai ibukota Provinsi Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya. Bos di kantor &#8212; ya, ini <abbr title="Usaha Kecil Menengah">UKM</abbr>, bos sendiri yang menjawab survei &#8212; merespon sudah bosan dengan korupsi.</p>

<p>Barangkali ini jawaban klise, namun saya tetap berharap dengan sangat bahwa tidak perlu menjadi pahlawan untuk lantang menolak korupsi, melainkan sepatutnya menjadi keniscayaan sehari-hari. Terutama bagi kami, para pelaku usaha kecil (jika Anda merasa tergerak, langsung ubah menjadi <em>kita</em>!). Korupsi sering menjengkelkan: sudah harus akrobat menyiasati hidup, masih juga dicekik di sana dan di sini dengan pat-gulipat angka. Bahkan pengalaman saya sendiri, secara pribadi, sering sebal dengan tipu-tipu recehan seperti permainan tanda tangan, daftar hadir, dan sejenisnya. Kesannya sepele dan semacam &#8220;menipu untuk kebaikan&#8221; (<i>white lies</i>), namun mana ada seperti itu? Lebih mengerikan lagi, jika kita menyepelekan suatu bentuk kemungkaran, dampaknya akan menjadi akut dan sudah berbatas sangat tipis dengan kejahatan yang lebih besar lagi.</p>

<p>Bukan, bukan saya sok suci, sudah imun dari hal buruk seperti korupsi. Justru sebaliknya, karena merasakan betapa mengerikan tinggal di negara yang seperti tidak peduli lagi dengan kebusukan lewat korupsi, seringkali masa depan terasa gelap. Seolah-olah kita menganggukkan setuju untuk semua kompromi terhadap keadaan di luar dan kemudian mencari berbagai pembenaran.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Kemarin sore teman-teman di Twitter mulai sedikit gaduh dengan kabar berulang bahwa <a href="http://in.reuters.com/article/worldNews/idINIndia-46740620100308?sp=true">skor indeks korupsi untuk Indonesia</a> masih mencengangkan (atau malah lumrah!). Tentu saja, mayoritas komentar tersebut &#8212; termasuk saya &#8212; mengarah pada gaya bahasa sinisme. Semacam ungkapan di buku-buku humor yang menggambarkan paduan antara kepahitan hidup dan kemauan untuk berontak. Karena tetap realistis melihat sedemikian besar kendala untuk membereskannya di lapangan, sinisme itulah barangkali penyegar jiwa. Saya juga yakin bahwa respon yang umum terhadap kelakar seperti itu adalah, &#8220;Jangan berputus asa akan harapan,&#8221; &#8220;Ayo kita coba perbaiki.&#8221; Sayangnya, harapan ini lekas kandas terhadap banyak kompromi. Satir-satir kelakar itu juga jika diinsyafi akhirnya kita harapkan menjadi introspeksi terhadap kita sendiri.</p>

<p>Walaupun saya menolak gagasan malu sebagai bangsa yang korup (&#8220;malu pada tabiat korupnya!&#8221;), yang sering membuat prihatin bahwa dalam lingkungan pekerjaan <abbr title="Teknologi Informasi">TI</abbr> korupsi tersebut dapat lebih brutal. Jika konstruksi bangunan megah dirobohkan masih menimbulkan gaung suara di mana-mana, menghancurkan satu aplikasi cukup dengan satu perintah, sekian menit, atau bahkan detik! Tanpa suara berarti, dan dilakukan dengan tangan dingin (karena di ruang khusus server bersuhu 18°C!).</p>

<p>Tidak perlu saya paparkan dengan rinci di sini, karena dalam banyak kasus malah cukup gamblang, walau seringkali tidak terjangkau oleh penegak hukum dan dilewatkan begitu saja secara etis.</p>

<p>Memprihatinkan. Mengerikan.</p>

<p>Kuesioner di atas saya juga tidak tahu bagaimana nasibnya: baik untuk respon pertanyaan teknis atau usulan yang bersifat motivasi seperti ihwal korupsi ini.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Jejaring Sosial dan Blog-Mikro</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2010/03/jejaring-sosial" />
    <id>tag:direktif.web.id,2010://2.643</id>

    <published>2010-03-08T23:55:19Z</published>
    <updated>2010-03-08T23:58:13Z</updated>

    <summary>Perbedaan antara jejaring sosial dan blog-mikro terlihat dari pijakan atau kecondongan yang dipilih oleh penyedia.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Anotasi" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Walaupun media sosial, yaitu media web yang digunakan untuk bersosialiasi dengan pengguna lain, terlihat mirip satu dengan yang lain, fasilitas utama yang disediakan oleh media tersebut membedakan dalam dua kelompok, <strong>jejaring sosial</strong> atau <strong>blog-mikro</strong>. Batasan dua kelompok ini relatif longgar dan untuk beberapa orang dianggap tidak penting dibanding ikut saja.</p>

<p>Jejaring sosial lebih mengutamakan fasilitas pertemanan dan mendorong penggunanya untuk bertemu dengan teman yang diharapkan. Facebook sebagai misal, meletakkan pertemanan sebagai sendi utama mobilitas layanannya. Mulai dari menampilkan teman yang sama dari dua pengguna, mencarikan teman yang cocok berdasarkan preferensi, menyarankan teman baru, hingga menyediakan aneka cara agar pengguna tetap saling menegur. Fasilitas tambahan seperti status yang mengalir, album foto, koleksi tautan, hingga grup, semua dikerahkan agar pengguna Facebook bersosialisasi dengan pengguna lain. Sebelumnya Friendster melakukan hal serupa. Jika Facebook berupa portal besar dan hampir &#8220;segala ada&#8221;, Koprol mengambil satu bagian: menghubungkan antarpengguna lewat lokasi.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Akan halnya blog-mikro yang lebih menekankan pada sesuatu yang dipublikasikan dalam format blog, hubungan antarpengguna lebih merupakan bonus. Twitter dan Plurk termasuk karegori ini. Disebut <em>mikro</em> karena berukuran relatif lebih ringkas dibanding blog yang sudah dikenal lebih dulu. Faktor jumlah huruf SMS pada mulanya menjadi pertimbangan, sehingga nuansa &#8220;mikro&#8221; tersebut terasa, namun bentuk lain seperti Tumblr dan Google Buzz menjadikan &#8220;bukan mikro&#8221; lagi. Barangkali blog-instan lebih tepat karena sifat mendasar di domain ini adalah tulisan yang ringkas namun efektif.</p>

<p>Beberapa layanan blog bersama, seperti halnya Multiply, WordPress.com, Vox, hingga yang berbasis foto seperti Flickr, menggunakan mekanisme seperti blog-mikro di atas, yaitu menambahkan jejaring sosial sebagai fasilitas untuk menambah penikmat karya yang dipublikasikan.</p>

<p>Dengan adanya perbedaan pijakan yang dipilih oleh sebuah layanan, rasanya kurang tepat jika Twitter dibandingkan dengan Facebook begitu saja, kecuali semata-mata dilihat dari jumlah pengguna mereka, misalnya.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Kesulitan Pengalihluaran</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2010/03/pengalihluaran" />
    <id>tag:direktif.web.id,2010://2.641</id>

    <published>2010-03-01T01:43:26Z</published>
    <updated>2010-03-01T01:46:28Z</updated>

    <summary>Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengalihluaran (outsourcing) pekerjaan di lingkungan TI.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Anotasi" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
        <category term="Pengalaman" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Catatan Budi Rahardjo tentang kesulitan pengalihluaran
(<a href="http://bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&amp;action=view&amp;phrase=pengalihluaran"><i>outsourcing</i></a>)
sempat dituliskan untuk milis Bandung High Tech Valley. Berikut
salinannya:</p>

<ol>
<li>pihak pengalihluar ingin ada personil di tempat mereka secara
 fisik. Hal ini akan menyebabkan ongkos yang sangat mahal secara
 operasional, sehingga harga akhir akan lebih mahal dibanding
 dikerjakan sendiri.</li>
<li>pihak pengalihluar tidak memahmi kemauan mereka sendiri. Proses
 pengerjaan proyek menjadi lebih susah karena target bergerak
 terus. Oleh Pak Budi hal ini dimasukkan sebagai masalah
 manajemen proyek.</li>
<li>kesulitan mencari sumber daya manusia yang andal. Penulis kode
 mungkin relatif lebih mudah dicari, yang lebih susah manajer
 proyek yang andal (dengan harga yang terjangkau). Demikian pula
 analis lebih susah diperoleh.</li>
<li>persoalan di arus kas (<i>cash flow</i>), dalam hal ini
 pembayaran sering terlambat, sehingga menyulitkan perusahaan
 perangkat lunak lokal yang masih kecil tersebut.</li>
<li>kaidah siklus pengembangan (Systems Development Life Cycle,
 SDLC) yang dilanggar.</li>
</ol>

<p>Dikutip dari <a href="http://www.mail-archive.com/bhtv@paume.itb.ac.id/msg01286.html">arsip milis
BHTV</a>.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Tambahan pengalaman di lapangan <a href="http://www.mail-archive.com/bhtv@paume.itb.ac.id/msg01293.html">ditulis oleh Adi
Indrayanto</a>
dan <a href="http://www.mail-archive.com/bhtv@paume.itb.ac.id/msg01297.html">tambahan catatan dari
Setiabudi</a>,
yang membuka membuka usaha pengalihluaran berbasis kode Open Source:</p>

<ol>
<li>kontrak tidak termasuk ongkos kunjungan, dengan demikian biaya
 kunjungan ditanggung klien.</li>
<li>pembayaran dilakukan dua tahap, masing-masing 50%. Pembayaran
 akhir dilakukan setelah instalasi dengan jaminan perbaikan
 selama enam bulan.</li>
<li>alternatif penggunaan rekening bersama, untuk mengantisipasi
 klien yang khawatir ditinggal. Pengeluaran dari rekening
 tersebut dilakukan dengan kesepakatan bersama.</li>
<li>kelengkapan dokumen spesifikasi keperluan perangkat lunak
 (Software Requirements Specifications, SRS).</li>
<li>pemanfaatan perangkat lunak manajemen proyek untuk memantau
 perkembangan pekerjaan.</li>
<li>manajer proyek, dikaitkan dengan penggunaan perangkat lunak
 manajemen proyek di atas.</li>
</ol>

<p>Jika diamati, dalam hal manajerial ini kedisiplinan untuk mencatat
semua hal yang terjadi memang sangat penting, sehingga tidak terjadi
tarik-ulur yang merugikan antara pekerja alihluar dan pemberi
pekerjaan.</p>

<p>Terima kasih, Pak Budi dan Pak Setiabudi atas butir-butir yang
disampaikan.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Comic Februari: Komunitas Pengembang</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2010/02/komunitas-pengembang" />
    <id>tag:direktif.web.id,2010://2.640</id>

    <published>2010-02-26T01:06:22Z</published>
    <updated>2010-02-26T01:19:49Z</updated>

    <summary>Reportase pertemuan Comic Februari 2010, menghadirkan dua klub pengembang, Java Users Group (JUG) Bandung dan WordPress Bandung. Keduanya mewakili gaya yang berbeda.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Anotasi" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
        <category term="Pengembangan" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Selasa sore lalu, 23 Februari, dilangsungkan <a href="http://upcoming.yahoo.com/event/5422999">pertemuan Comic untuk
bulan Februari</a>.
Melanjutkan acara rutin yang sempat terhenti sejak bulan September
tahun lalu, Comic masih dilangsungkan di Ruang Sekar, salah satu
ruang di kompleks Kantor Telkom Divre&nbsp;III, Jalan Supratman
Bandung.</p>

<p>Tema yang dipilih untuk bulan Februari ini adalah komunitas
pengembang di Bandung. Setelah berdiskusi awal dengan Petra Barus,
saya mendapat kandidat teman-teman dari Java Users Group (JUG)
Bandung. Petra sendiri aktif di JUG Bandung. Saran berikutnya dari
Ismail Hasbullah, yaitu teman-teman di WordPress yang biasanya rajin
mendatangi WordCamp.</p>

<p>Saya menduga bahwa perbedaan Java dan WordPress &#8212; bahasa
pemrograman dan aplikasi jadi &#8212; akan mewakili dua kubu yang
berbeda. Lebih variatif jika dibanding Java bertemu <abbr title="PHP
Hypertext Processor">PHP</abbr> misalnya. Catatan: WordPress ditulis
di atas <abbr>PHP</abbr>.</p>

<p>Ternyata lebih dari perbedaan pengelompokan tadi, keadaan keduanya
pun menambah jenis perbedaan. JUG memiliki bentuk organisasi yang
sudah berwujud, setidaknya yang sekarang sudah memasuki periode
kedua, bahkan dilengkapi dengan motivasi dari Sun Community Manager,
<a href="http://alexbudiyanto.web.id/">Alex Budiyanto</a>. Tim WordPress &#8212; di
sisi lain &#8212; malah tidak merencanakan pembentukan klub lokal dengan
pertimbangan tulisan tentang WordPress sudah sangat banyak di Web,
termasuk diskusi di forum global mereka yang sangat aktif, sehingga
lebih praktis dan cepat mendapatkan informasi dari sana dibanding
menyediakan forum lokal baru.</p>
]]>
        <![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/4385277623/" title="Muhammad Ghazali by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4038/4385277623_ff035de30a.jpg" width="500" height="375" alt="Muhammad Ghazali" /></a></p>

<p>Begitu pula dengan orientasi teman-teman di WordPress yang sudah
lebih mengarah pada mengelola situs Web atau kelengkapannya yang
mendatangkan uang (<i>monetization</i>) dibandingkan kegiatan JUG
Bandung yang sekarang sedang mengedepankan sosialiasi Java dan
lingkungannya. Instalasi dan penggunaan WordPress terlalu mudah
bahkan untuk pengguna awam sekalipun dan didukung oleh banyak tempat
<i>hosting</i>, menempatkannya sebagai perangkat lunak Web paling
populer saat ini. Beranjak dari blog menuju aneka keperluan.
Sedangkan Java memerlukan persiapan yang lebih serius, sejak
penyiapan infrastruktur hingga siap dinikmati. Walaupun untuk
keperluan pengembangan, kelengkapan pustaka di Java adalah surga
tersendiri untuk pengembang.</p>

<p>Teman-teman yang datang mewakili WordPress juga pencetus kegiatan
baru yang baru diluncurkan bulan Februari ini juga: Forum Web Anak
Bandung (FOWAB). Saya belum dapat hadir pada acara mereka pertama
pekan lalu di Common Rooms, mudah-mudahan berikutnya saya
berkesempatan datang. Kabarnya, FOWAB mulai lengkap sebagai forum
&#8220;anak Web&#8221;, dari sisi teknis pengembangan hingga perancang Web,
bergabung di sana.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/4386045192/" title="Setyagus Sucipto by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4039/4386045192_462f6e73a1.jpg" width="500" height="375" alt="Setyagus Sucipto" /></a></p>

<p>Sisi &#8220;bukan hanya pengembang&#8221; yang dilibatkan untuk kegiatan dan
sosialiasi juga tercetus pada pertemuan. Dalam perspektif jangka
panjang dan sosialisasi acara, perlu dipertimbangkan penyelenggara
acara yang terampil dan tangkas menjual gagasan ke publik. Ini juga
diakui masih terasa adanya kecanggungan pada WordCamp terakhir.
Dapat menjadi masukan yang baik untuk JUG Bandung yang berencana
menyelenggarakan sejumlah acara tahun ini.</p>

<p>Teman-teman membayangkan sebuah perhelatan akbar dan hangat, seperti
halnya sejumlah konferensi perangkat lunak dan komunitasnya di luar
negeri. Tampaknya di negara kita baru muktamar <acronym
title="Organisasi Masyarakat">ormas</acronym> atau partai yang
memiliki suasana meriah bergaung ke banyak tempat. Di sisi lain,
sejumlah kegiatan pengembang yang sebelumnya marak dan mulai rutin
terlihat surut di lapangan. Tercatat acara komunitas Ruby di Bandung
yang disebut, &#8220;Jakarta.rb lebih ramai saat ini.&#8221; Bagaimana pula
dengan klub PHP dan Borland Delphi?</p>

<p>Bagian akhir diskusi berisi tukar pendapat tentang kemungkinan kerja
sama dengan pihak Telkom, dalam hal ini produk Internet mereka
Speedy, akan materi Web yang lebih mencerdaskan penggunanya. Pak
Soni dari Telkom memaparkan kutipan pertemuan dia dengan koleganya,
bahwa pengguna media digital saat ini terbagi dua, yaitu mereka yang
&#8220;terlahir sebagai generasi [era] digital&#8221; dan mereka yang datang,
bermigrasi, ke era digital. Ini perlambang dua generasi besar,
angkatan muda dan tua, melanjutkan tema-tema besar Samsul Bahri dan
Datuk Maringgih. Masukan dari dua pihak mempertemukan sejumlah
kendala yang dihadapi di lapangan, baik dari sisi aspek legal atau
pun sikap umum di sekitar kita yang memang masih kurang peduli
dengan perawatan layanan.</p>

<p>Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi. Rencana
kami untuk Comic Maret adalah seni visual di era digital. Informasi
lebih rinci akan disampaikan berikutnya, sekaligus ancang-ancang
saya untuk menyediakan rencana hingga tiga pertemuan mendatang.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Cabang-cabang Subversion</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2010/02/cabang-subversion" />
    <id>tag:direktif.web.id,2010://2.639</id>

    <published>2010-02-15T22:16:13Z</published>
    <updated>2010-02-15T22:20:51Z</updated>

    <summary>Kami masih menggunakan Subversion untuk kendali revisi (revision control) dokumen, baik kode perangkat lunak atau dokumentasi. Selain belum digunakan untuk banyak penulis, pekerjaan tersebut baru berpindah-pindah dari server Subversion di kantor dan komputer pribadi. Hubungan server dan klien Subversion dilakukan...</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Pengembangan" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Kami masih menggunakan <a href="http://subversion.apache.org">Subversion</a> untuk kendali revisi (<i>revision control</i>) dokumen, baik kode perangkat lunak atau dokumentasi. Selain belum digunakan untuk banyak penulis, pekerjaan tersebut baru berpindah-pindah dari server Subversion di kantor dan komputer pribadi. Hubungan server dan klien Subversion dilakukan lewat Apache dan modul WebDAV.</p>

<p>Mengikuti dokumen Subversion yang lengkap, <a href="http://svnbook.red-bean.com/"><cite>Version Control With Subversion</cite></a>, atau &#8220;Kitab Subversion&#8221;, saya mengusulkan penggunaan kode revisi <code>trunk</code> dan <code>branches</code> dalam perkembangan dokumen. Aturan sederhana:</p>

<ol>
<li><code>trunk</code> berisi cabang utama pengembangan yang berjalan terus. Pengambilan berkas kondisi terakhir (<code>checkout</code>) 
dilakukan dari cabang ini.</li>
<li><code>branches</code> berisi kumpulan salinan setiap titik tertentu pengembangan yang dianggap signifikan  (<i>milestone</i>). Setiap titik penting revisi tersebut diberi nama khas dan tetap disimpan di bawah <code>branches</code>. </li>
</ol>

<p>Pengembang yang ingin mengambil revisi tertentu dapat mengambil dari koleksi di bawah <code>branches</code>.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Pengaturan kewenangan:</p>

<ol>
<li>semua pengembang bebas membaca dan menulis di <code>trunk</code>. Keterangan pekerjaan pada saat mengembalikan (<code>commit</code>) ke repositori sangat dianjurkan.</li>
<li>manajer pekerjaan yang bertanggung jawab menetapkan sebuah versi dan menyalinkan ke bawah <code>branches</code> dengan nama tertentu. Di buku disebutkan nama ini dapat dilihat sebagai tag.</li>
</ol>

<p>Dapatkah kami tim pengembang cukup disiplin dan konsisten dengan aturan di atas? Ini juga perlu kendali!</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Melatih Diri dengan Hal-hal Keseharian</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2010/02/melatih-diri" />
    <id>tag:direktif.web.id,2010://2.638</id>

    <published>2010-02-15T05:44:39Z</published>
    <updated>2010-02-15T05:58:29Z</updated>

    <summary>Awal tahun menjadi penanda waktu yang mudah untuk memulai kegiatan baru. Ditambahi dengan komitmen dalam kerangka waktu tertentu, jadilah semacam awal latihan disiplin. Itu yang saya lihat di awal Januari tahun ini oleh beberapa teman Flickr. Foto-foto mereka ditandai dengan...</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Anotasi" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
        <category term="Pengalaman" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Awal tahun menjadi penanda waktu yang mudah untuk memulai kegiatan
baru. Ditambahi dengan komitmen dalam kerangka waktu tertentu,
jadilah semacam awal latihan disiplin. Itu yang saya lihat di awal
Januari tahun ini oleh beberapa teman Flickr. Foto-foto mereka
ditandai dengan nomor urut, misalnya <tt>#1</tt> dan setiap hari
muncul di daftar foto kontak di halaman depan Flickr. Saya mengikuti
dua teman waktu itu, koleksi foto <a href="http://www.flickr.com/photos/avianto/sets/72157623114413452/">Boy Avianto di New
York</a>
dan <a href="http://www.flickr.com/photos/chandramarsono/sets/72157623003753045/">Candra
Marsono di Jakarta</a>.</p>

<p>Setelah itu, saya menyadari gerakan foto 365 dalam setahun diikuti
oleh beberapa narablog dan dengan baik <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2010/01/06/proyek-1-hari-1-foto-selama-365-hari/">dimotivasi oleh Pitra
Satvika</a>.</p>

<p>Idenya sederhana: buatlah satu foto setiap hari dan pasang di blog.
Pelaksanaannya perlu kesungguhan tingkat tinggi. Saya pernah mencoba
sekitar bulan November tahun lalu, ternyata hanya bertahan sepekan,
dan saya hentikan. Belum siap.</p>
]]>
        <![CDATA[<p><a href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/IIBEJwOgpwoxI34c3F2Fuw?feat=embedwebsite"><img src="http://lh4.ggpht.com/_oIv1aI2i4SA/S3jgwoz92GI/AAAAAAAAAz4/y9mV5ixIvqQ/s400/archive.jpeg" /></a></p>

<p>Kesulitan yang saya rasakan bukan ihwal memotret, melainkan perlunya
menyisihkan suatu waktu yang khusus setiap hari untuk proses
pemindahan foto dari kamera digital ke komputer, dilanjutkan dengan
mengirimkannya ke Web. Ini berbeda dengan ritme saya yang condong,
&#8220;mengumpulkan potret sebanyak mungkin di kamera, kemudian
memindahkannya ke komputer, dan barulah mengirimkannya ke Flickr.&#8221;
Mungkin hanya perlu waktu limabelas menit per hari, namun jika terlupa
pada suatu hari, ya sudah&#8230; berarti terlewat.</p>

<p>Ada cara lebih praktis dengan memotret lewat telepon selular,
mengirimkan langsung lewat perangkat Internet telepon tersebut, dan
siap tayang di Web. Cara ini belum dapat saya pilih karena
keterbatasan peralatan.</p>

<p>Yang lebih penting sebenarnya meneguhkan diri sendiri untuk
berkomitmen. Ini menurut saya yang menarik dari latihan beraktivitas
blog. Sejak saya memulai #direktif, memasuki blog-foto di Flickr,
hingga menyelami blog-mikro seperti di Plurk, komitmen untuk
memasang sesuatu secara rutin sangat penting &#8212; jika kita ingin
aktif pada suatu kegiatan.</p>

<p>Di Flickr saya gagal mencoba foto harian, namun target yang saya
pasang <a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/archives/">sekitar
200&nbsp;foto/bulan</a>
berhasil memaksa saya tetap bertahan dengan blog-foto. Begitu juga
di Plurk: walaupun sederhana berupa pesan singkat, saya pernah
bereksperimen untuk <a href="http://direktif.web.id/arc/2009/10/blogmikro-mudik-lebaran">menulis reportase di
perjalanan</a>
dan memaksakan minimal tiga tulisan/hari (semacam penjaga karma,
namun tentu bukan bot!).</p>

<p>Masih ada tantangan?</p>

<p>Sayang saya terlambat: <a href="http://tech.groups.yahoo.com/group/id-perl/message/1892">Steven Haryanto mengundang pemrogram
Perl</a> untuk
bergabung di <a href="http://www.enlightenedperl.org/ironman.html">&#8220;Tantangan Blog Manusia Besi&#8221; (Iron Man Blogging
Challenge)</a>. Steven
menulis di bulan September tahun lalu di milis Id-Perl, Iron Man
mengajak sosialisasi Perl dengan cara yang mudah, berupa tulisan
dengan frekuensi cukup sering.</p>

<p>Oh, Perl, saya kian jarang menggunakan dan pengetahuan saya tidak
bertambah dengan signifikan, namun ide berkomitmen menulis tentang
pengembangan perangkat lunak atau pemrograman dalam konteks
keseharian sepertinya menarik diangkat. Satu tulisan per pekan
misalnya, dan benar-benar pengalaman aktual di lingkungan
pemrograman.</p>

<p>Sepertinya menarik. Tentang apa, alat bantu apa, atau bingkai kerja
(<i>framework</i>) apa?</p>

<p>Jangan terlalu dipikir dulu, seperti halnya memotret, jepret dulu
fragmen keseharian.</p>

<p>Inilah dunia blog, seperti yang selalu saya tekankan di acara
sosialiasi: berlatih disiplin dengan target yang terjangkau.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Google Buzz dan Pilihan Pengguna</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2010/02/google-buzz" />
    <id>tag:direktif.web.id,2010://2.637</id>

    <published>2010-02-12T00:47:19Z</published>
    <updated>2010-02-12T00:52:29Z</updated>

    <summary>Peluncuran produk baru Google selalu menimbulkan reaksi, apalagi dengan adanya jejaring sosial dan blog-mikro: cetusan komentar terlihat lebih spontan. Bagaimana komentar tentang Google Buzz yang kemarin mulai digunakan meluas? Berikut komentar yang saya baca dari beberapa kontak:...</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Alternatif" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
        <category term="Lapak dan Etalase" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Peluncuran produk baru Google selalu menimbulkan reaksi, apalagi
dengan adanya jejaring sosial dan blog-mikro: cetusan komentar
terlihat lebih spontan. Bagaimana komentar tentang <a href="http://google.com/buzz">Google
Buzz</a> yang
kemarin mulai digunakan meluas?</p>

<p>Berikut komentar yang saya baca dari beberapa kontak:</p>
]]>
        <![CDATA[<ol>
<li><strong>lebih menyenangkan karena jumlah karakter tidak dibatasi</strong>,
 berarti 140&nbsp;karakter yang dijadikan acuan blog-mikro &#8212;
 Twitter, Plurk, hingga Koprol &#8212; menyulitkan sebagian orang;</li>
<li><strong>sekali buka di Gmail dan aneka kabar terbaca</strong>. Facebook
 sudah mengumpulkan aneka jenis entri yang siap dipasang &#8212;
 ditambah lagi dengan integrasi dengan aplikasi, namun untuk
 sebagian fans email, terobosan Google mengintegrasikan ke Gmail
 terlihat sebagai swalayan komplit baru. Pengiriman pesan lewat
 email dan pesan Facebook sama kuat sekarang: sebagian pengguna
 mengamati aktivitas Facebook via email dan sebaliknya, sebagian
 pengguna perlu diberi tahu via Facebook bahwa email sudah
 dikirim.</li>
<li><strong>penyediaan tempat baru untuk foto misalnya</strong>, karena <a href="http://mail.google.com/support/bin/answer.py?hl=en&amp;answer=171454">Buzz
 menyediakan penyimpanan gambar</a> dan tidak rewel akan batasan
 ruang diberikan kepada pengguna. Tambahan: jika pun ruang
 gratis yang disediakan Google tidak cukup, <a href="http://mail.google.com/support/bin/answer.py?hl=en&amp;answer=165214">harga tambahan ruang</a>
 penyimpanan relatif murah.</li>
</ol>

<p>Bagaimana dengan Wave yang baru muncul dan belum sempat digunakan
optimal? Kendati Wave dan Buzz bukan dua jenis produk yang persis
sama, yang saya rasakan Wave &#8220;dapat kurang populer&#8221; dibanding Buzz
karena Wave dari awal sudah disediakan terpisah. Bandingkan dengan
Calendar, Docs, dan Picasa yang berusaha dicantolkan ke Gmail.</p>

<p>Gmail sendiri masih revolusioner. Lebih dari sekadar Webmail dengan
kapasitas penyimpanan berlimpah, teknik pengaksesan dan antarmuka
untuk menangani ratusan ribu email tetap belum berhasil disamai oleh
penyedia jasa email lain.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Promosi Flexi dan Telepon Genggam &quot;Tahu Diri&quot;</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2010/02/promo-flexi" />
    <id>tag:direktif.web.id,2010://2.636</id>

    <published>2010-02-08T21:22:05Z</published>
    <updated>2010-02-08T21:54:30Z</updated>

    <summary><![CDATA[Bermula dari salah satu poster yang dipasang di album foto Facebook tentang produk bundel telepon genggam ZTE S130 dan akses tiga merk sohor di Internet, yakni Yahoo! Messenger, Gtalk, dan Facebook. Harga paling murah Rp&nbsp;299.000, sudah termasuk voucher Rp&nbsp;25.000. Jika...]]></summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Anotasi" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Bermula dari salah satu poster yang dipasang di album foto Facebook tentang produk bundel telepon genggam ZTE S130 dan akses tiga merk sohor di Internet, yakni Yahoo! Messenger, Gtalk, dan Facebook. Harga paling murah Rp&nbsp;299.000, sudah termasuk voucher Rp&nbsp;25.000.</p>

<p>Jika dulu Internet direduksi menjadi &#8220;sekadar&#8221; Web, sehingga beberapa pengguna menguji koneksi dengan mengetikkan <abbr title="Uniform Resource Locator">URL</abbr> di peramban. <code>Ping</code> atau <code>traceroute</code> terlalu <i>geeky</i>. Terkadang juga lupa dipastikan komputer sudah mendapat alamat IP valid atau sudah merujuk ke <abbr title="Domain Name Service">DNS</abbr> yang tepat. Hari ini sudah lebih jauh: promosi &#8220;dapat digunakan untuk Facebook dan Twitter&#8221; jadi mantra pemikat. Bukankah jika perangkat sudah mendukung akses Web dan ada peramban berarti kedua situs tersebut dapat ditampilkan? Oh, itu cara pandang lama: tidak selalu keduanya diakses lewat peramban, aneka aplikasi Web yang bekerja lewat jalur <abbr title="Application Programming Interface">API</abbr> mendudukkan promosi tersebut pada posisi &#8220;yang lebih benar.&#8221;</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Kembali ke Flexi: saya akhirnya melihat sendiri produk bundel mereka di gerai Flexi di acara <abbr title="Institut Teknologi Bandung">ITB</abbr> Fair 2010. Memang menggoda: dengan modal awal pada kisaran bawah, kita dapat mengubah status Facebook dengan leluasa. Apakah Facebook memang hanya untuk acara ubah-ubah status? Menurut penjaga gerai tampilan Facebook ditampilkan utuh dan baik di layar ZTE merah bata tersebut. Agak sulit membayangkan foto sederhana seperti foto profil ditampilkan, sedangkan ukuran layar telepon genggam sangat sempit.</p>

<p>Itu yang menjadi kendali, pembatalan &#8220;main tunjuk&#8221; belanja bundel Flexi. Soalnya telepon genggam saya pun sama bututnya, Nokia seri populer 2626. Agak berat buat saya menambah ongkos &#8212;kendati murah&#8212; jika antarmuka akses Net lewat telepon genggam masih seperti sebelumnya.</p>

<p>Sayang, saya gagal masuk ke halaman akun sendiri di Facebook lewat perangkat demo ZTE promo bundel Flexi, gara-gara kesulitan mengetikkan salah satu karakter yang digunakan untuk sandi akses.</p>

<p>Memang sesuai harga: jika ingin tampilan layar lebih lapang dan jernih, ditambah tombol yang sudah akrab, harga dibrandol minimal empat kali lipat. <i>Ana rega, ana rupa</i>, kata orang Jawa: &#8220;harga membawa tampang.&#8221;</p>

<p>Apalagi yang menarik pada promo Flexi? Modem CDMA untuk USB komputer. Dengan modal awal Rp&nbsp;499.000, abonemen Rp&nbsp;50.000 untuk kecepatan maksimal 384&nbsp;kbps.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>OpenNTPd di Ubuntu</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2010/02/openntpd-di-ubuntu" />
    <id>tag:direktif.web.id,2010://2.635</id>

    <published>2010-02-07T11:29:30Z</published>
    <updated>2010-02-07T11:32:31Z</updated>

    <summary>NTP adalah syarat mutlak layanan yang perlu dipasang di setiap komputer. Baik hanya sebagai klien yang mengambil informasi waktu dari server NTP di luar, atau &#8212; dalam skenario di intranet &#8212; sebuah server NTP lokal disiapkan. Sebelumnya saya pasang ntpd...</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Pengalaman" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Network_Time_Protocol"><abbr title="Network Time Protocol">NTP</abbr></a>
adalah syarat mutlak layanan yang perlu dipasang di setiap komputer.
Baik hanya sebagai klien yang mengambil informasi waktu dari server
<abbr>NTP</abbr> di luar, atau &#8212; dalam skenario di intranet &#8212;
sebuah server <abbr>NTP</abbr>
lokal disiapkan. Sebelumnya saya pasang <code>ntpd</code> di Debian Lenny,
namun kali ini di Ubuntu Hardy Heron, dari daftar paket mereka,
disebut <a href="http://openntpd.org">OpenNTPd</a>. Seperti halnya <a href="http://openssh.org/">OpenSSH</a>, OpenNTPd perluasan dari
proyek OpenBSD yang elegan.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Untuk paket Ubuntu, tentu modul <code>aptitude</code> yang mengurus instalasi. Setelah terpasang dan siap diaktifkan, saya sesuaikan isi berkas konfigurasi, <code>/etc/openntpd/ntp.conf</code>, sesuai keadaan:</p>

<ol>
<li>telinga servis dibuka agar mendengar permintaan, paling mudah
<code>listen *</code>. Jangan disamakan begitu saja, kondisi intranet saya di
dalam dinding-api (<i>firewall</i>). Berikutnya, di log akan terlihat semua kemungkinan antarmuka dibuka, <code>localhost</code>, <code>eth0</code>, dan <code>eth1</code>. Termasuk format IPv6.</li>
<li>server <abbr>NTP</abbr> diarahkan ke penyedia di dalam negeri.  <a href="http://www.pool.ntp.org/zone/id">Daftar di <code>pool.ntp.org</code></a> membantu urusan ini.</li>
</ol>

<p>Jalankan OpenNTPd: <code>sudo /etc/init.d/openntpd start</code>.</p>

<p>Dari klien Ubuntu saya coba mulai memanfaatkan server
<abbr>NTP</abbr> yang sudah disediakan tersebut, masih gagal. Setelah diusut, OpenNTPd didesain untuk perubahan yang sangat berhati-hati terhadap jam sistem. Asumsi yang digunakan: jam komputer jangan diubah terlalu drastis karena akan mempengaruhi banyak servis lain yang bekerja berbasis jam sistem. Dalam beberapa keterangan di forum-forum disebutkan masa penyesuaian ini bervariasi dari sekitar belasan menit hingga orde jam. Selain setiap dilakukan penyesuaian hanya bergeser pada kisaran satu detik, masa tenggang antara satu penyesuaian dengan berikutnya cukup lama.</p>

<p>Cara pertama untuk penyesuian yang lebih cepat adalah dengan
menjalankan <code>openntpd</code> dalam modus non-daemon dan melakukan proses
sinkronisasi lebih cepat. Parameter <code>-d</code> dan <code>-s</code> dapat digunakan
untuk keperluan ini. Sinkronisasi dilakukan lebih sering, namun
tetap dengan perubahan bertahap dan lambat.</p>

<p>Terakhir, jika ingin dilakukan perubahan jam sistem seketika,
gunakan <code>ntpdate</code>. Lumrah digunakan di klien dan hanya digunakan
untuk sekali sinkronisasi, jalankan <code>ntpdate</code> sekali di server dan
setelah itu biarkan OpenNTPd melakukan sinkronisasi sangat hati-hati
untuk selanjutnya.</p>

<p>Seperti dituliskan di manual <code>ntpdate</code>,</p>

<blockquote>
<p>Akan bermanfaat dalam banyak kasus untuk menyetel jam sistem
sebagai langkah awal sebelum menjalankan daemon <abbr>NTP</abbr>.</p>
</blockquote>

<p>Dengan demikian <code>ntpdate</code> dapat diletakkan di skrip yang dijalankan
saat kartu jaringan diaktifkan. Di keluarga Debian diletakkan di
<code>/etc/network/if-up.d</code>.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Kegagalan NetworkManager Gnome dengan IM2 di Lokasi Tanpa 3G</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2009/10/kegagalan-networkmanager-gnome" />
    <id>tag:direktif.web.id,2009://2.633</id>

    <published>2009-10-11T23:44:58Z</published>
    <updated>2009-10-11T23:52:59Z</updated>

    <summary>Mengandalkan NetworkManager Gnome untuk akses IM2 di Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, ternyata gagal digunakan. Tampaknya Vodafone Mobile Connect lebih baik dalam urusan ini.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Pengalaman" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Berbeda dengan persiapan yang cukup lengkap untuk blog-mikro di
perjalanan menggunakan ponsel, saya terlalu yakin mengandalkan Gnome
NetworkManager untuk laptop dan koneksi via IM2 selama mudik lebaran
akhir September lalu. Ternyata bermasalah!</p>

<p>Sebelum menaikkan versi Ubuntu di laptop menjadi 8.10, Intrepid
Ibex, saya masih berlama-lama dengan Gutsy Gibbon (7.10). Untuk
keperluan akses ke modem Huawei E320 berbulan-bulan saya percayakan
pada <a href="https://forge.vodafonebetavine.net/projects/vodafonemobilec/">Vodafone Mobile Connect</a>. Tidak ada masalah dan jauh lebih
nyaman dibanding menelisik sekian setelan di konfigurasi Wvdial.</p>

<p>Interpid lebih memudahkan lagi: saat instalasi untuk jaringan, saya
langsung ditanya lokasi negara, terpampang daftar penyedia layanan,
saya pilih Indosat, dan cukup mengganti nama titik-akses, Access
Point Name (<abbr>APN</abbr>), memasukkan identitas dan sandi akses,
beres. Kecuali sejumlah kegagalan akses yang langsung mengunci
sistem (dan belum terpecahkan hingga hari ini, walau jarang
terjadi), saya gunakan NetworkManager Gnome ini di Bandung dan
Jakarta. Tidak sempat diuji untuk koneksi di kondisi nyata &#8220;dunia
ketiga&#8221;, yaitu Daerah Tingkat II.</p>
]]>
        <![CDATA[<p><a href="http://picasaweb.google.co.id/lh/photo/CqMLZO9_0rdF4LqXqVZCVA?feat=embedwebsite"><img src="http://lh6.ggpht.com/_oIv1aI2i4SA/StJsbyR8LYI/AAAAAAAAAvg/SVllJXvIPKU/s288/network-manager.jpeg" /></a></p>

<p>Benarlah, sesampai di Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, sekitar
200&nbsp;km dari Surabaya, Jawa Timur, NetworkManager berusaha
mencari akses, gagal, mencari lagi, gagal, dan seterusnya seperti
itu. Saya pikir semula ada perubahan atau gangguan lagi dengan IM2
di daerah. Namun beberapa hari kemudian anak saya mencoba memasang
IM2 di telepon selulernya dan dapat digunakan. Dengan demikian
penyebab masalah bukan pada IM2, melainkan kegagalan NetworkManager
membuat koneksi.</p>

<p>Untuk lebih meyakinkan, saya pinjam laptop yang menggunakan Windows
Vista dan memang IM2 berhasil diakses. Ada apa dengan NetworkManager
Gnome? Dugaan saya: setelan yang digunakan NetworkManager tidak
mengantisipasi kondisi <abbr title="General Packet Radio Service">GPRS</abbr>.
Saya ingin membuktikan hipotesis
tersebut dengan memasang Vodafone Mobile Connect, namun dengan
kualitas koneksi di Kecamatan Balung, sangat tidak layak untuk
instalasi.</p>

<p>NetworkManager tidak menyediakan pilihan jenis koneksi, berbeda
dengan Vodafone Mobile Connect yang dilengkapi menu dari &#8220;3G Only&#8221;
hingga &#8220;GPRS Only.&#8221; Sekarang Vodafone Mobile Connect sudah saya
instal lagi dan berencana mencoba kondisi ini di kota kecamatan,
namun belum ada kesempatan.</p>

<p>Sebagai catatan tambahan: NetworkManager berhasil digunakan di Batu.
Apakah penyediaan layanan IM2 untuk Malang dan sekitarnya memang
berbeda dengan di Jember?</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Blog-mikro Selama Perjalanan Mudik Lebaran</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2009/10/blogmikro-mudik-lebaran" />
    <id>tag:direktif.web.id,2009://2.632</id>

    <published>2009-10-04T08:21:39Z</published>
    <updated>2009-10-04T09:55:47Z</updated>

    <summary>Pengalaman mencoba blog-mikro dengan peralatan terbatas selama perjalanan mudik lebaran 2009.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Pengalaman" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
        <category term="Weblog" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Pada liburan lebaran tahun 2008 lalu, saya sudah mencoba menulis
laporan perjalanan via blog-mikro. Eksperimen tahun lalu dilakukan
dengan Sony Ericsson K510i untuk rute perjalanan
Bandung-Mojokerto-Porong-Jember. Ongkos Rp&nbsp;10/<abbr
title="kilobyte">kB</abbr> untuk XL saat itu membuat saya iri
dibandingkan IM3 yang sepersepuluhnya.</p>

<p>Di tahun 2009 ini, semula saya tidak berencana mengulang eksperimen
tahun lalu, namun pada pertengahan Ramadan 1430&nbsp;<abbr
title="Hijriyah">H</abbr>, <a href="http://www.xl.co.id/tabid/176/language/id-ID/newsId/10388/Default.aspx">paket Rame
XL</a>
menggoda untuk dicoba. Saya pasang target:</p>

<ol>
<li>eksperimen dilakukan dengan ongkos layanan terjangkau,</li>
<li>alat bantu selama eksperimen memanfaatkan yang sudah tersedia,</li>
<li>materi mikro-blog berupa reportase subjektif,</li>
<li>kepraktisan dan keberlangsungan reportase dijadikan prioritas.</li>
</ol>
]]>
        <![CDATA[<h2>Persiapan blog-mikro di perjalanan</h2>

<p>Alat bantu yang saya gunakan telepon seluler (ponsel) Nokia 2626.
Pada mulanya saya menyangka seri tua 2626 ini tidak layak untuk
Internetan karena sangat &#8220;apa adanya.&#8221; Untuk pengujian, saya coba
berlangganan paket Rame XL harian dan menulis di tengah-tengah
kesibukan selama di Bandung. Ternyata masih layak digunakan.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/3159707631/" title="Ordinary Love Sign by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3107/3159707631_0582389817_m.jpg" width="240" height="180" alt="Ordinary Love Sign" /></a></p>

<p>Pemilihan 2626 adalah konsekuensi jangka panjang pertukaran ponsel
saya dengan milik Safira, anak kedua saya, yang saya beri kompensasi
menggunakan Sony Ericsson K510i untuk mencoba pemotretan dan
pengambilan video via ponsel. Selain alasan keuangan untuk tidak
mengganti dengan ponsel yang lebih baik dari sisi fasilitas, saya
ingin memberi teladan kepada anak-anak agar tetap produktif dengan
alat yang tersedia di sekitar.</p>

<p>Paket XL yang digunakan untuk eksperimen saya pindahkan ke langganan
bulanan, Rp&nbsp;20.000 untuk 30 hari pemakaian dengan jatah
40&nbsp;<abbr title="Megabyte">MB</abbr>. XL menyediakan beberapa
paket, sila disesuaikan dengan keperluan. Hasil pengamatan saya:
untuk pemakaian kira-kira 10 hari selama mudik, saya menghabiskan
hampir 6&nbsp;<abbr>MB</abbr>. Laporan lain dari R. A.  Natakusumah
(Rully): <a href="http://www.plurk.com/p/23eapt">dia menghabiskan pada kisaran
1&nbsp;MB/hari</a>. Penghematan yang
saya lakukan: gambar dinonaktifkan dari peramban, selain hemat
ongkos, hemat waktu unduh, juga karena layar 2626 hanya layak untuk
teks terbatas. Rully menyebut gambar diaktifkan. 2626 juga belum
mendukung halaman Web dinamis, praktis saya hanya bermain-main
dengan <abbr title="Hypertext Markup Language">HTML</abbr>, <abbr
title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr> sekadarnya, dan
pemuatan-ulang (<i>reload</i>) halaman berkali-kali.</p>

<p><a href="http://www.plurk.com/user/ikhlasulamal">Plurk</a> dipilih sebagai
media blog-mikro setelah saya bandingkan dengan
<a href="http://twitter.com/ikhlasulamal">Twitter</a>,
<a href="http://facebook.com/ikhlasulamal">Facebook</a>, dan
<a href="http://koprol.com">Koprol</a>. Keuntungan Plurk: modus musafir (ini
istilah dari <a href="http://adhamsomantrie.com">Adham Somantrie</a> untuk
<i>mobile mode</i>) mereka ringan dan pengelolaan <i>cookies</i>
untuk penanganan sesi (<i>Remember me</i>) lebih lama. Twitter dalam
modus Web di ponsel saya kurang menguntungkan dalam penanganan sesi:
sangat merepotkan jika setiap hendak menulis entri saya harus
mengisikan nama-pemakai dan sandi-masuk. Kabarnya, Twitter lebih
mudah digunakan di ponsel dengan aplikasi dari pihak ketiga, namun
mohon diingat: yang saya pakai Nokia 2626.</p>

<p>Facebook ditampilkan dengan baik, namun sesuai jenisnya, jejaring
sosial, ia terlalu riuh untuk acara blog-mikro di perjalanan.
Alhasil, Facebook diakses di perjalanan hanya untuk melihat
kemungkinan adanya pesan dari teman-teman. Koprol gagal diakses di
2626, blok tengah halaman setelah pemasangan entri selalu gagal
ditampilkan dan entri tidak dimutakhirkan. Saya hanya sempat
mengakses Koprol via laptop selama di Batu, sekaligus mengusulkan
nama kotamadya baru tersebut.</p>

<p>Agar tidak kecewa karena gagal menulis entri blog-mikro di
perjalanan, sebelum berangkat mulailah mencoba menggunakan ponsel
untuk menulis entri barang dua atau tiga hari. Termasuk
persiapkan setelan konfigurasi yang sesuai untuk edisi musafir.</p>

<p>Perbekalan lain yang penting tentulah pengisi ulang baterai
(<i>charger</i>) ponsel. Pemakaian akses Net bisa berkelanjutan dan
baterai kehabisan daya lebih cepat dibanding biasanya. Kondisi
paling aman memang membawa baterai cadangan, seperti yang umum
dilakukan para pemotret sebelum berburu foto di lapangan. Pengalaman
saya di salah satu restoran di Cirebon: mereka menutup stopkontak
listrik, sehingga saya gagal mengisi baterai ponsel di sana.</p>

<p>Ritme penulisan entri juga perlu diatur agar hemat baterai. Terlalu
bernafsu menulis banyak hal di sebuah lokasi dan kehabisan baterai
setelah itu akan mengganggu kontinuitas. Demikian juga saya hindari
menjawab semua pertanyaan di komentar Plurk untuk menghemat baterai
atau memang tidak perlu dijawab. (Salah satu pertanyaan di Plurk
selama di perjalanan yang tidak perlu dijawab: <q>sedang berada di mana
sekarang?</q> Pembaca yang baik sepatutnyalah mencari sendiri
jawaban tsb. dari entri-entri sebelumnya.)</p>

<h2>Entri Blog-mikro</h2>

<p>Apa yang dituliskan di perjalanan?</p>

<p>Pelancong adalah saksi mata yang menulis lewat blog-mikro untuk
beragam pembaca, baik yang diam di tempat atau para musafir lain.
Fakta di lapangan adalah bagian paling penting yang acapkali
dinanti oleh pembaca secara langsung. Kemacetan atau gangguan di
perjalanan merupakan dua contoh reportase penting. Seperti halnya
beberapa radio yang mengandalkan berita pelapor, yakni para pengguna
jalan, blog-mikro dapat menyajikan liputan di depan mata penulisnya.
Jika berkesempatan mendengar berita di radio, informasi tambahan di
sana dapat dijadikan acuan pembanding untuk juga dituliskan.</p>

<p>Kendati demikian, menulis laporan pandangan mata terus-menerus dapat
membosankan, baik buat si pelapor pun pembaca. Di sinilah perlunya
sentuhan lain yang menjadi <i>feature</i> perjalanan. Biasanya saya
angkat pengetahuan atau pengalaman tambahan yang saya ketahui
tentang daerah tersebut: sejarah, kisah, legenda, figur, slogan,
lelucon, keunikan, hingga kejanggalan yang secara sekilas terlihat.
Pengetahuan kita dari berbagai rujukan akan membantu penulisan
tentang sebuah lokasi menjadi lebih beragam.</p>

<p>Hindari bagian-bagian yang bersifat ofensif atau pendapat yang
terlalu subjektif, apalagi generalisasi yang berlebihan. Alih-alih
menuding buruk sebuah kota yang dilewati hanya karena melihat
sampah menumpuk di sana misalnya, kita dapat mengganti dengan usulan
atau ilustrasi dari kota lain yang punya pengalaman mengelola
sampah. Ingat, warga kota yang kita lewati pun sangat mungkin
membaca tulisan kita.</p>

<p>Entri kegiatan yang sangat personal &#8212; apalagi berulang-ulang &#8212;
seperti, &#8220;macet lagi,&#8221; &#8220;ah, panas sekali,&#8221; dengan cepat membosankan
pembaca. Anak saya saja pernah bertanya mengapa ada penulis
blog-mirko yang bercerita hendak mandi atau baru saja keluar
dari toilet. Mainkan improvisasi, sebarkan sikap optimis dan
gembira, niscaya perjalanan Anda lebih awet diikuti teman.</p>

<h2>Terima kasih semua</h2>

<p>Akhirnya saya ucapkan terima kasih kepada banyak teman yang telah
mengikuti tulisan saya sepanjang perjalanan. Saya menyadari belum
berhasil menulis lengkap karena sedang lelah, tertidur (hingga
sempat <a href="http://www.plurk.com/p/22scsp">ponsel saya terlempar di dalam
bus</a>), atau menikmati liburan itu
sendiri. Terkadang terasa lucu juga tatkala beranjangsana ke salah
satu rumah saudara, saya sibuk mengetik entri sambil mendengarkan
anggota keluarga sedang mengobrol.</p>

<p>Rully mengusulkan agar selain tulisan ada foto perjalanan. Saya juga
memotret untuk keperluan blog-foto, namun tidak diniatkan langsung
dipasang di perjalanan, melainkan dikumpulkan terlebih dulu dan baru
diunggah setelah kembali di Bandung. Betha Sidik menyarankan <a href="http://www.plurk.com/p/22d7mc">adanya
foto edisi jalanan</a> (hasil tangkapan ponsel misalnya), sebagai
tambahan hasil bidikan kamera. Saran yang menarik, sayangnya Nokia
2626 tidak dilengkapi kamera. Jadi untuk saat ini &#8212; sampai saya
sanggup berinvestasi ponsel yang lebih baik &#8212; cukup, &#8220;Teks sebagai
panglima.&#8221;</p>

<p>Gara-gara terlalu intensif mengirim tulisan saat di Malang, menurut
Betha Plurk menghukum saya dengan mengurangi karma. Terima kasih,
Plurk belum menyadari keperluan seperti ini. Bagi saya sendiri pun
karma bukan segalanya.</p>

<p>Catatan: jumlah entri selama perjalanan mudik lebaran 2009 belum
diketahui, namun koleksi entri dapat dilihat sejak <a href="http://www.plurk.com/m/u/ikhlasulamal?offset=1253266038&amp;last_offset=1253327074">18
September</a>
hingga <a href="http://www.plurk.com/m/u/ikhlasulamal?offset=1254105450&amp;last_offset=1254200284">28
September</a>.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Fasilitas Komentar Pembaca di Media Daring Perlu Diperbaiki</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2009/08/komentar-pembaca" />
    <id>tag:direktif.web.id,2009://2.630</id>

    <published>2009-08-16T04:14:35Z</published>
    <updated>2009-08-16T05:18:52Z</updated>

    <summary>Fasilitas komentar menjadi bagian anti-klimaks atau mengganggu dari artikel di media massa daring (&quot;online&quot;).</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Anotasi" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Pada mulanya, seperti banyak situs Web informasi saat itu, media
dalam format daring (<i>online media</i>) menampilkan berita searah.
Situs Web berita &#8212; yang memang pengembangan dari edisi cetak,
kecuali Detik.com &#8212; benar-benar memindahkan bentuk di atas kertas
ke layar. Pada era perubahan halaman Web menjadi lebih benar secara
semantik, perubahan besar yang terjadi adalah perbaikan penggunaan
kode <abbr title="Hypertext Markup Language">HTML</abbr> mereka.
Salah satu pendorongnya adalah ketinggalan telak pada hasil
pencarian Google yang lebih awal memberi bobot signifikan pada
aspek semantik Web.</p>

<p>Fasilitas komentar pembaca termasuk belakangan dipasangkan di media
daring. Barangkali karena di edisi cetak respon dari pembaca sudah
diakomodasi di rubrik <cite>Surat Pembaca</cite>, dengan gaya yang
berbeda dibanding komentar di halaman Web. Akhirnya komentar per
halaman &#8212; untuk berita, rubrik, opini, berita foto &#8212; ditambahkan.
Seingat saya, Gatra Online yang lebih awal mulai menyediakan tempat
komentar per halaman berita.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Sekarang komentar pembaca sudah merupakan sesuatu yang lazim
dijumpai. Mayoritas media daring menyediakan dan tampaknya mendapat
apresiasi dari pembaca. Apalagi di era Web 2.0 saat ini, respon
balik merupakan mantra yang menunjukkan kepedulian sebuah situs
terhadap pengunjungnya.</p>

<p>Sayangnya, komentar pembaca di media daring cenderung
tak-beridentitas jelas dan materi yang disampaikan di komentar lebih
banyak tidak relevan terhadap isi halaman tsb. dan disajikan dengan
kasar. Generalisasi berlebihan, prasangka, simpulan tergesa-gesa,
dan &#8212; lebih buruk lagi &#8212; memaki dan mengata-ngatai, terlihat
mencolok. Secara umum kondisi komentar masih lebih baik di blog:
penulis komentar menunjukkan jati dirinya dalam bentuk tautan ke
blog ybs. dan penulis blog banyak yang masih menyempatkan waktunya
untuk menjadi moderator yang baik. Ingat masa-masa ketika Priyadi
Iman Nurcahyo sedemikian telaten menulis jawaban panjang dan
berkali-kali di komentar blognya? Saya belum pernah melihat hal
seperti itu dilakukan oleh tim redaksi media massa.</p>

<p>Saya menyayangkan artikel bagus yang sudah disusun reporter atau tim
redaksi menjadi anti-klimaks dengan adanya komentar asal-asalan di
akhir berita. Pembaca pun &#8212; setidaknya saya &#8212; kehilangan
<i>mood</i> setelah membaca komentar serabutan di bagian bawah.
Akhirnya, saya batasi untuk tidak perlu membaca komentar dan lebih
baik menunggu tulisan berikutnya yang berkaitan dengan berita tsb.</p>

<p>Saran saya: jika memang tidak ada rencana mengolah komentar dari
pembaca menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, lebih baik fasilitas
komentar ditiadakan saja. Seperti disinggung di atas, saya belum
melihat itikad tim redaksi media massa untuk menanggapi komentar
tsb. dalam bentuk komentar juga atau menjadi artikel baru seperti
yang lazim dilakukan oleh narablog.</p>

<p>Jika pun tetap dipertahankan dengan pertimbangan tertentu, ada
baiknya komentar dari pembaca dipisah dari halaman berita dan baru
akan ditampilkan jika pembaca berniat mengunjunginya. Saya lihat
Detik.com sudah melakukan hal ini: komentar tersedia di halaman
terpisah. Selain keuntungan secara estetika, pemisahan tersebut
memperbaiki pengolahan mesin pencari agar tidak mencampuradukkan
berita yang sudah matang dengan komentar sambil lalu. Malah jika
perlu, akses ke komentar tidak diikutkan ke bot mesin pencari,
dengan demikian hanya bagian yang lebih relevan &#8212; yaitu artikel itu
sendiri &#8212; yang diakses oleh bot mesin pencari.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Comic Agustus 2009: Blog Foto yang Menawan Hati</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2009/08/blog-foto" />
    <id>tag:direktif.web.id,2009://2.629</id>

    <published>2009-08-05T23:23:55Z</published>
    <updated>2009-08-06T05:47:10Z</updated>

    <summary>Semangat berbagi blog-foto yang tercetus di acara Comic Agustus kemarin sore.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Anotasi" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
        <category term="Pengalaman" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
        <category term="Weblog" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Setelah rencana berkali-kali yang gagal dilaksanakan di grup Bandung
Photoblogger Flickr, akhirnya pelaku blog-foto di Bandung bertemu di
acara Comic untuk bulan Agustus. Acara dilaksanakan kemarin sore di
Ruang Sekar, Kantor Telkom Jalan Supratman. Tema yang diangkat untuk
acara diskusi santai ini adalah <a href="http://upcoming.yahoo.com/event/4141860/"><cite>Photoblogging: Jurnal lewat
Foto</cite></a>, dibawakan
oleh <a href="http://ericsetiawan.com">Eric Setiawan</a> dan <a href="http://budisukmana.com">Budi
Sukmana</a>. Budi
menyampaikan presentasi pengantar selama 15&nbsp;menit dilanjutkan
dengan tanya-jawab dan obrolan, termasuk godaan Lomografi oleh <a href="http://byputy.com">Puti
Karina Puar</a>.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/3792842269/" title="What Is Photoblog? by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3465/3792842269_13b1eb4e2f_m.jpg" width="240" height="180" alt="What Is Photoblog?" /></a></p>

<p>Bertambah lengkap dengan kedatangan <a href="http://dickyjphotography.wordpress.com">Dicky Juwono</a>, provokasi untuk
menyediakan blog-foto kali ini &#8220;menyentuh perasaan.&#8221; Hal ini
terlihat dari aliran diskusi di Twitter satu jam setelah presentasi
yang berisi cetusan keinginan hadirin untuk mulai &#8220;menenteng kamera
ke mana-mana&#8221; &#8212; sebuah motivasi khas blog-foto.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Percakapan dimulai oleh pertanyaan <a href="http://picasaweb.google.com/bungbr">Budi Rahardjo</a> tentang cara
menyimpan foto, pertanyaan teknis penyebab tambahan &#8220;hilang akal&#8221;
pemesanan media penyimpanan tambahan, selain perangkat pemotretan
yang mengiurkan. Praktis pada percakapan mengalir berikutnya hadirin
merambah tema klasik analog atau digital, menjadi profesional atau
tetap amatir, mengikuti teknik fotografi yang berat atau menekankan
suasana berbagi. Ya, ini <i>photoblogging</i> dengan semua semangat
blog yang menyertainya.</p>

<p>Termasuk untuk saya sendiri yang menjadi bertimbang rasa antara
&#8220;blog dilengkapi foto&#8221; (seperti blog ini) atau menyediakan blog-foto
tersendiri &#8212; yang menyediakan ruang lebih lega untuk foto dan
minim teks. Demikian juga dengan koleksi saya di Flickr: apakah
perlu dibuatkan situs blog yang disebut independen tersebut?</p>

<p>Pertanyaan yang menggelitik dan mengasyikkan. Sama seperti memilih
objek yang dipotret: melewati beberapa fase yang menurut saya tetap
menyenangkan. Pada proses itu juga akhirnya faktor
&#8220;bersenang-senang&#8221; (<i>having fun</i>) lebih dominan: mengatasi
kendala peralatan &#8212; jenis kamera sangat tidak penting, memotret
dapat dilakukan di nyaris semua tempat, dan unsur kedekatan yang
terbawa oleh perasaan pemotret dapat mengatasi teori fotografi yang
cukup kompleks. Sebagai klimaks: <i>blur adalah fitur</i>.</p>

<p>Benar, menyenangkan!<br />
Bersedia diundang di acara blog-foto berikutnya dan sudah siap
membawa kamera? Anda ditunggu.</p>

<p>Terima kasih untuk semua yang telah berpartisipasi pada acara Comic
Agustus kemarin sore.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Speedy di Bandung (Respon untuk Arie)</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2009/08/speedy-bandung" />
    <id>tag:direktif.web.id,2009://2.628</id>

    <published>2009-08-04T14:21:46Z</published>
    <updated>2009-08-04T14:30:08Z</updated>

    <summary>Pemakaian Speedy di Bandung berdasarkan pengalaman di rumah dan di kantor.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Anotasi" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Arie Kusuma Atmaja menanyai saya <a href="http://twitter.com/ariekeren/status/3110520868">ihwal Speedy di
Bandung</a>. Betul,
saya pengguna Speedy sejak periode awal mereka membuka layanan
Internet di Bandung. Dimulai dengan keperluan Internet di rumah,
setelah itu di kantor. Praktis pada pemakaian pertama tanpa gangguan
yang berarti &#8212; kecuali sempat tersedak ringan saat Paket Personal
dipakai melebihi kuota dan dipaksa pindah ke paket yang lebih
tinggi. Berikutnya, pemakaian Speedy di kantor yang sempat melewati
liku-liku mencari solusi dengan menerka-nerka.</p>

<p>Saya sempat menuliskan <a href="http://www.google.com/cse?cx=013811215969828555991%3A48t3lwwl8zk&amp;ie=UTF-8&amp;q=speedy&amp;sa=Search">permasalahan Speedy secara sporadis di
Plurk</a>,
sebagai gumam tukang awas modem di kantor (secara resmi disebut
&#8220;administrator jaringan lokal&#8221;) terutama pada musim hujan lalu.
Indikasi paling mencolok saat itu adanya interupsi di modem (semacam
kejutan, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Voltage_spike"><i>voltage
spike</i></a>?) setiap kali
kilat menyambar jauh di sana.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Untuk kasus di atas dilakukan &#8220;pemancingan&#8221; dengan cara menelepon
bebas &#8212; yang penting pesawat telepon menjadi pemicu. Kemudian
secara tidak sengaja salah seorang teman membiarkan gagang telepon
terbuka, yang tentu saja berakibat faksimili tidak bekerja di jalur
telepon tersebut. Cara-cara tsb. memang &#8220;brutal&#8221;.</p>

<p>Penggantian modem dengan merk yang lebih meyakinkan pada awalnya
dianggap solusi yang memadai, ternyata tetap saja putus sesaat itu
masih terjadi. Petugas Telkom datang dan mengukur tegangan di dalam
rumah (yang diterima modem) merosot drastis dibanding dari kabel
Telkom. Kami ganti dengan kabel baru. Tetap saja.</p>

<p>Solusi terakhir yang diusulkan teman atau teknisi Speedy (saya lupa
persisnya) akhirnya mengatasi kebuntuan solusi yang selama ini
terjadi: catu daya modem dipasang lewat <abbr title="Uninterruptible Power Supply">UPS</abbr>.
Ternyata cara ini yang benar-benar tokcer! Setidaknya hingga saat
ini.</p>

<p>Dengan demikian, gangguan yang disebabkan kejutan arus listrik
penyebab utama persoalan Speedy pada musim hujan lalu.</p>

<p>Setelah itu praktis koneksi Internet lewat Speedy di kantor lancar.
Gangguan yang lebih ringan memang masih terjadi, seperti kecepatan
berkurang drastis pada suatu saat, terutama di jam kerja.
Pengunggahan juga kerap mengganggu koneksi secara keseluruhan.
Solusi yang kami gunakan dengan memasang HTB di server, namun belum
diukur secara pasti perubahan yang terjadi. Yang jelas: saya unggah
foto di Flickr pagi sebelum aktivitas kantor dimulai atau
setelahnya.</p>

<p>Apakah dengan demikian Speedy sudah lancar jaya di Bandung? Tentu
gegabah jika saya simpulkan demikian. Pembaca yang bersedia
menuliskan dalam bentuk komentar di bawah ini dapat mewakili kondisi
masing-masing, dengan catatan: mohon dihindari generalisasi
berlebihan atau kesimpulan tergesa-gesa.</p>

<p>Saya memahami koneksi Internet yang lebih baik tentu lebih
memuaskan, setimpal dengan ongkos yang telah dibelanjakan. Namun
toh, Internet bukan segalanya. Seperti beberapa kali dengan lantang
saya cetuskan di blog-mikro: dengan dana terbatas yang dimiliki
pemerintah saat ini, saya memilih pendidikan dan infrastruktur fisik
dibanding royal dengan akses Internet. Hanya dua ratus meter dari
kantor saya masih banyak lubang di jalan, penerangan jalan yang tak
layak, dan ruang publik yang memprihatinkan.</p>

<p>Kita sebagai pengguna layanan <abbr title="Teknologi Informasi">TI</abbr>
tentu lebih elok jika berlapang dada mendulukan kepentingan sektor
lain yang lebih penting dibanding komunikasi global. Wah, kok jadi
melebar ke mana-mana?</p>

<p>Sependek yang saya kenal dengan Arie: dia menaruh harapan pada
perubahan negeri ini ke arah yang positif, jadi tak terlalu
melenceng jika bercakap dengannya kita menunjukkan semangat dari
sisi yang lebih luas.</p>

<p>Sila teman-teman memberi masukan akan koneksi Speedy di Kota
Bandung. Selain Arie, staf &#8220;tukang kawat&#8221; Telkom tentu gembira
dengan masukan yang datang dari lapangan.</p>

<p>Terima kasih.</p>
]]>
    </content>
</entry>

<entry>
    <title>Layanan Pemendek URL dan Siteous</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://direktif.web.id/arc/2009/07/siteous" />
    <id>tag:direktif.web.id,2009://2.626</id>

    <published>2009-07-31T03:03:42Z</published>
    <updated>2009-07-31T04:18:19Z</updated>

    <summary>Pemeriksaan terhadap kode pengalihan yang dihasilkan Siteous, layanan pemendek URL dalam negeri.</summary>
    <author>
        <name>Ikhlasul Amal</name>
        
    </author>
    
        <category term="Alternatif" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
        <category term="Lapak dan Etalase" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
    
    
    <content type="html" xml:lang="en" xml:base="http://direktif.web.id/">
        <![CDATA[<p>Saya kenal dan mulai menggunakan jasa pemendek <abbr title="Uniform Resource Locator">URL</abbr>
<a href="http://direktif.web.id/arc/2004/07/tinyurl-memendekkan-uri">lima tahun
lalu</a>, TinyURL. Saat itu
TinyURL diperlukan untuk membantu penulisan <abbr>URL</abbr> dalam email. Selain
memang tidak nyaman melihat <abbr>URL</abbr> yang super-panjang (apalagi saat itu
tautan permanen yang rapi belum populer seperti sekarang), beberapa
klien email memenggal <abbr>URL</abbr> di dalam pesan email dengan semena-mena,
tidak jarang menjadi cacat dan gagal digunakan.</p>

<p>Hari-hari ini jasa pemendekan <abbr>URL</abbr> laris-manis, antara lain
disebabkan oleh popularitas blog-mikro yang memang berlomba
meringkas pesan sepanjang ukuran <abbr title="Short Message Service">SMS</abbr>.
Secara logis, <abbr>URL</abbr> yang pertama harus dibuat
super-pendek, karena dia diperlukan oleh komputer, bukan manusia.
Pengguna dan klien alat bantu Twitter terlihat paling getol
menampilkan variasi layanan pemendek <abbr>URL</abbr>. Untuk produk dalam negeri,
dengan sedikit kegaduhan, akhirnya <a href="http://siteo.us">Siteous</a> yang
ditulis dan dikelola <a href="http://adhamsomantrie.com">Adham Somantrie</a>, diluncurkan.</p>
]]>
        <![CDATA[<p>Seperti situs yang diasuh Adham lainnya, tampilan minimalis dan rapi
di halaman depan cukup mengundang. Dalam catatan saya, Adham
termasuk salah satu penulis blog yang peduli bahasa Indonesia,
sehingga saya berharap kepedulian terhadap cara penulisan &#8220;di sini&#8221;
yang benar dapat dicontohkan di Siteous. Saya gunakan Siteous dua
kali dan berjalan dengan baik. Saatnya memeriksa lebih jauh
mekanisme Siteous.</p>

<p>Salah satu rujukan tentang layanan pemendek <abbr>URL</abbr> saya peroleh dari
koleksi di Delicious, <a href="http://searchengineland.com/analysis-which-url-shortening-service-should-you-use-17204"><cite><abbr>URL</abbr> Shorteners: Which Shortening Service
Should You Use?</cite></a>, oleh Danny Sullivan, penulis dunia mesin
pencari. Danny menyediakan tabel layanan pemendek <abbr>URL</abbr> dan dengan
mudah dapat dilihat fasilitas dan kelebihan masing-masing, di
samping sedikit catatan kekurangan yang mungkin muncul.</p>

<p>Siteous tentu belum muncul di tabel tersebut, oleh karena itu
analisis yang menarik berkait dengan kode pengalihan
(<i>redirect</i>) yang diberikan oleh layanan tersebut. Angka sakti
<code>301</code> dan <code>302</code> tentu sudah jamak di lingkungan pengembang Web.</p>

<p>Intinya: <code>301</code> lebih menghargai situs tujuan pengalihan karena
bermakna &#8220;dipindahkan permanen&#8221; dibanding <code>302</code>, bermakna
&#8220;dipindahkan sementara.&#8221; Kode ini dijadikan acuan oleh mesin pencari
berkaitan dengan &#8220;kesungguhan&#8221; sebuah halaman Web dialihkan ke
lokasi lain. Dengan kata lain, jasa pemendek <abbr>URL</abbr> harus ikhlas
meyakinkan mesin pencari bahwa <strong>lokasi sesungguhnya sebuah <abbr>URL</abbr>
adalah setelah pengalihan</strong>. Bukan lokasi sementara.</p>

<p>Bagaimana dengan Siteous?</p>

<p>Saya gunakan juga saran Danny dengan memeriksa Siteous lewat <a href="http://www.rexswain.com/httpview.html">HTTP
Viewer</a> yang disediakan Rex Swain. <abbr>URL</abbr> yang saya coba:
<code>http://Siteous/DOm</code> yang akan dialihkan ke halaman di Yahoo!
Upcoming: <code>http://upcoming.yahoo.com/event/4141860/</code></p>

<p>Hasil yang dilaporkan HTTP Viewer: Siteous menggunakan kode
pengalihan <code>302</code>,</p>

<pre><code>HTTP/1.1·302·Moved·Temporarily(CR)(LF)
Date:·Fri,·31·Jul·2009·02:20:48·GMT(CR)(LF)
Server:·Apache/2.2.11·(Unix)·mod_ssl/2.2.11·OpenSSL/0.9.8e-fips-rhel5·DAV/2·mod_bwlimited/1.4(CR)(LF)
X-Powered-By:·PHP/5.2.9(CR)(LF)
location:·http://upcoming.yahoo.com/event/4141860/(CR)(LF)
Content-Length:·0(CR)(LF)
Connection:·close(CR)(LF)
Content-Type:·text/html(CR)(LF)
(CR)(LF)
</code></pre>

<p>Pemeriksaan di atas dilakukan Jumat, 31 Juli 2009, 09.20.</p>

<p>Sebagai calon pengguna loyal, lewat tulisan ini saya mengusulkan
kepada pengelola Siteous agar kode pengalihan di atas diganti
menjadi <code>301</code> dengan demikian kami sebagai pengguna lebih sreg
menggunakan jasa pengalihan Siteous. Dalam hal model bisnis pun
rasanya tidak ada persoalan dengan penggunaan <code>301</code>.</p>

<p><a href="http://direktif.web.id/files/httpview-siteo-us.html">Salinan laporan lengkap dari HTTP
Viewer</a>
disediakan di arsip #direktif dengan penambahan kode Google
Analytics untuk keperluan statistik.</p>
]]>
    </content>
</entry>

</feed>
