Kantong Tanaman untuk Kelola Sampah

Tulisan ini diniatkan sebagai kelanjutan tulisan tahun 2011 tentang
[pengelolaan sampah di kantor](http://direktif.web.id/2011/04/pengolahan-sampah/).
Jika di tulisan sebelumnya kantor kami disebut memiliki lahan luas di
belakang, sehingga saya dapat mengubur sampah organik dengan rotasi
terhadap beberapa galian, sejak satu setengah bulan lalu kantor kami
pindah ke lokasi baru yang berbeda sama sekali: lahan kosong terbatas.

Sampah tetap diproduksi dari kegiatan kantor. Tradisi lama untuk sampah
saset camilan atau minuman harus dipertahankan: tempat sampah khusus
sudah disiapkan sejak awal di lokasi baru. Bersama dengan kertas,
jenis ini sudah terdefinisi jelas, tinggal diteruskan. Karena tidak
memiliki pepohonan lagi sekarang, sampah daun kering jauh lebih sedikit.
Sampah sisa makanan berjumlah tetap, hanya saja sekarang kami tidak
memiliki binatang yang menghabiskan sisa makanan tsb. –sebelumnya
penjaga kantor memelihara ayam dan sisa makanan habis dilahap ayam.

Salah seorang kenalan dekat menceritakan inisiatifnya menggunakan
komposter untuk sampah buangan dapur di rumahnya. Semua tinggal
dimasukkan ke dalam tong komposter, diciprati cairan pemercepat
pembusukan, dan kira-kira 3 bulan kemudian setelah komposter penuh,
pupuk kompos hasilnya dapat dipanen. Ini solusi praktis, di beberapa
toko penyedia komposter, Kencana Online misalnya untuk Bandung, tersedia dengan
harga kisaran Rp 700 ribu untuk ukuran sedang. Harga yang
layak dibandingkan manfaatnya; walaupun buat yang suka kerajinan,
membuat sendiri wadah komposter juga dimungkinkan dengan memanfaatkan
tong bekas.

Sudah hampir ditetapkan untuk pesan komposter, sekelebat terpikir bahwa
sampah sisa makanan relatif cepat terurai hancur dibanding dedaunan.
Bagaimana jika saya siapkan kantong tanaman (polybag) dan sisa makanan tsb. diaduk dengan
tanah? Menarik juga sebagai percobaan.

Kantong Tanaman untuk Tempat Sampah

Kantong Tanaman untuk Tempat Sampah

Segera saya siapkan: satu kantong tanaman berukuran sedang dapat digunakan untuk
sampah makan siang dua hari. Agar bercampur dengan tanah, dibuat
berlapis sisa makanan dan lapisan tanah. Ukuran tanah secukupnya sampai
dengan bau sampah makanan tidak terasa; hal ini bertujuan agar tidak
mengundang lalat. Dengan cara ini, setiap tiga sampai empat hari saya
siapkan kantong tanaman baru dan saya letakkan berjajar agar mudah diketahui
kantong tanaman yang lebih awal. Dari percobaan yang baru saya lakukan satu
setengah bulan, tiga pekan sudah cukup untuk menghancurkan sampah sisa
nasi atau sayuran, yang lebih lama daun pisang. Untuk mempercepat
penguraian, isi kantong tanaman diaduk-aduk agar lebih merata, sekaligus untuk
melihat kondisi sampah, sudah terurai atau belum.

Gangguan tentu ada dan tidak terduga buat saya. Pada pengadaan kantong tanaman
keempat, keesokan paginya ditemukan berantakan dan bagian bawahnya robek
hasil dikoyak-koyak. Dugaan terkuat diserang tikus yang tergoda bau sisa
makanan, apalagi di kantong tanaman terdapat lubang-lubang pembuangan air. Untuk
mencegah hal ini, kantong tanaman ditambahi agar rangkap; ternyata beberapa hari
kemudian, serangan tikus masih berulang. Langkah terakhir yang dicoba:
di antara dua lapis kantong tanaman tersebut diselipkan kertas bekas, dengan
tujuan bau sisa makanan di dasar kantong tanaman tidak mudah terhidu dari luar.
Untuk sementara, serangan tikus dapat diatasi.

Rencana berikutnya jika kantong tanaman sudah banyak dan yang lebih awal sudah
jadi pupuk kering, akan dilakukan rotasi: isi kantong tanaman ditaburkan sebagai
pupuk kompos ke tanaman dan kantong tanaman siap untuk digunakan dari awal.
Seharusnya tidak terlalu repot mengatur perputaran sampah ini.

Pengolahan sampah seperti ini sangat mudah, hampir tidak perlu bekal
teknis khusus, melainkan ketelatenan dan antusiasme membantu pengelolaan
lingkungan. Hanya diperlukan waktu 15 menit/hari untuk mengangkut
sampah dari dapur sampai dengan menguruk dengan tanah. Jika volume
sampah dapur terlihat banyak, bantuan zat pemercepat penguraian
seharusnya dapat membantu. Saya belum pernah menggunakan zat tambahan
seperti itu, jadi belum dapat membandingkan.

Rencana lain jika dengan cara ini ternyata tidak efektif sudah
disiapkan, yaitu pembelian tong komposter seperti semula. Nanti saja,
setelah tiga bulan misalnya, akan dievaluasi. Yang ada sekarang
dikerjakan dulu.