Kembali ke LaTeX yang Lebih Indah

Semula pertimbangan kolaborasi, Google Docs dipilih untuk penulisan
dokumen. Berbasis HTML
dan WYSIWYG,
ternyata malah menyulitkan dalam hal konsistensi tata-letak dokumen.
Cukup sulit memastikan bahwa setiap baris berukuran 1,5 dan tambahan
jarak setiap akhir paragraf. Akhirnya benar-benar macet dan menyerah
setelah bertemu dengan senarai bernomor bersarang (nested
numbered list
). Perlu editor sejati.

Google Docs

Tampilan di “Google Docs”

Pilihan terbatas: LibreOffice. Ini berdasarkan pengalaman pula,
mengendalikan gaya dalam dokumen (document style) di
LibreOffice terasa kurang lincah. Saya menggunakan cara yang lazim
digunakan, seperti memodifikasi gaya yang sudah ada agar berlaku
umum di semua bagian dokumen, selanjutnya membuat gaya turunan agar
tertib, tetap saja tidak konsisten di sana-sini. Perlu cara yang
lebih sungguh-sungguh dalam hal konsistensi.

LibreOffice

Tampilan di “LibreOffice”

Teringat kembali ke LaTeX, yang disebut sistem persiapan dokumen.
Bukan editor. Andalan saya tetap pada paket [vim-latexsuite](http://packages.ubuntu.com/quantal/editors/vim-latexsuite) di
Ubuntu (dan keluarga Debian). Apa dokumen hasil LaTeX tetap dingin
seperti laporan ilmiah? Intip-intip lewat Google, dapatlah situs
bagus [Latex Templates](http://latextemplates.com). Pilihan templat yang tersedia beragam,
masing-masing tersedia sekitar tiga pilihan, dan dokumen yang
dihasilkan sudah indah, fancy.

Stylish Article

Stylish Article di “Latex Templates”.

Memang belum mudah begitu saja menerapkan templat ke dokumen LaTeX,
perlu diotak-atik terlebih dulu agar fleksibel untuk pilih-pilih
templat yang sesuai. Namun, dalam hal konsistensi gaya teks, LaTeX
tetap konsisten dan mudah dikendalikan karena tag dalam dokumen di
bawah kendali.

vim-latexsuite

Penyuntingan berkas LaTeX di Vim

Atas dasar mirip kisah di atas, saya tidak suka menggunakan editor
visual HTML di CMS.

6 Comments

    1. Ya, gVim, supaya terintegrasi dengan clipboard sistem. Untuk menu dan perintah, tidak banyak berbeda dengan Vim.

  1. Sayang saya belum mencoba Latex, padahal sudah disarankan seorang dosen.
    Terimakasih ilmunya, Pak!

Comments are closed.