Tanpa Ponsel dan Pencetak dengan Botol Tinta

Hujan ringan masih turun dan dengan sedikit kerepotan mengenakan jas hujan, ponsel diputuskan untuk ditinggal. Risiko paling jauh paling panggilan yang gagal diterima, pikir saya. Karena tidak terlalu sering menerima panggilan telepon, risiko tsb. saya anggap rendah; lagipula di luar jam kantor. Sampai di tujuan, sambil menunggu hujan reda dan instalasi pengendali (driver) untuk pencetak, barulah dampak lebih jauh tanpa ponsel terasa: saya tidak dapat masuk ke layanan yang saya gunakan, Google dan Facebook, karena di kedua situs tsb. verifikasi dua langkah saya aktifkan.

Wah, zaman sekarang! Kode dikirim ke ponsel dan tanpa kode tsb., tidak akan dapat diakses. Masak hendak meretas akun sendiri? Belum tentu juga saya sanggup. Sambil pikir-pikir layanan lain yang dapat saya manfaatkan sambil menunggu, ternyata sebagian akun saya di situs web lain pun mengandalkan log masuk (log in) bersama lewat Facebook atau Gmail, jadi tetap tidak mungkin jika pintu log masuk bersama tsb. tidak dapat dibuka.

Syukurlah akses ke blog ini dilakukan terpisah dan saya sedang hapal sandi untuk masuk. Lain kali perlu dipikir dulu ihwal konsekuensi lebih jauh dari meninggalkan ponsel.

Bonus kesialan di atas: tulisan di blog ini bertambah!

Sekarang tentang pencetak, Epson seri L110/L300. Sekitar empat tahun lalu saat membelikan pencetak untuk kelas, saya amati Epson datang dan punya gigi lagi di pasar. Di satu toko pencetak di Bandung Electronic Centre (BEC), Epson ditawarkan dengan pertanyaan setengah menantang: jika hendak pakai tinta botol, garansi hangus karena pencetak “dirusak” agar dapat dipasangi “sistem” atau “infus”, yaitu peralatan rakitan sendiri berupa botol dan selang. Tumpukan pencetak yang siap dirakit ulang oleh si penjual menggambarkan pembeli yang antre cara baru ini dan biasanya perlu waktu sehari untuk perakitan ulang.

Tentu Epson perlu iri melihat produk mereka dirusak penjual dan pembeli seperti tidak khawatir barang tanpa garansi. Kue Epson sebagian dilahap simpul baru di BEC. Hari ini tidak lagi: akhirnya Epson meresmikan pemakaian botol tinta tambahan tsb., sehingga “lebih terintegrasi” dengan pencetak dalam bentuk boks di sisi kanan berisi bilik-bilik berisi tinta warna yang diperlukan. Tidak perlu lagi menunggu rakitan toko, tidak ada lagi pertanyaan soal garansi hangus, dan Epson mengamankan kuenya sekaligus terlihat berpihak pada konsumen.

Tentang tinta yang digunakan, teman di kampus menceritakan adanya mekanisme validasi untuk memastikan tinta yang digunakan asli dari Epson dengan cara memasukkan kode yang tersedia di tinta ke perangkat lunak Epson. Saya belum tahu persis, jadi belum dapat saya ceritakan sekarang. Yang jelas teman tsb. berpendapat dengan legalisasi ala Epson ini, dia lebih yakin untuk membeli tinta orisinal karena antara harga dan keseluruhan penggunaan sistem pencetakan dinilai sepadan.

Ini memang hanya untuk printer di sini, pendapatnya. Ada benarnya, karena bisnis isi ulang tinta pencetak adalah khas Indonesia dan di sekitar tahun 2007 kami di BHTV pernah bertemu dengan pengusaha jasa isi ulang tinta pencetak yang menyebut kompleks usahanya sebagai technopark. Saya belum memeriksa merk lain yang mengikuti langkah Epson dengan memanfaatkan kondisi lokal seperti ini.