Penjahit dan Pengembang Aplikasi: Konsumen

Betha Sidik sudah mengomentari di awal bahwa pengembang aplikasi yang meniru penjahit, dengan istilah tailor-made, padahal cetusan saya berawal dari beberapa kali mengalami kejadian penjahit salah memperkirakan waktu pengerjaan pesanan. Pertama, saya bandingkan dengan keluhan serupa yang dialami ibu — mewakili konsumen yang memerlukan produk spesifik atau agak sulit didatangkan ke gerai produk jadi. Kedua, saya amati jenis penjahit yang “punya kecenderungan terlambat” dan “punya kecenderungan tepat waktu”.

Penjahit dan pengembang aplikasi

Sekelompok konsumen pakaian lebih suka memilih hasil “yang benar-benar pas dengan bentuk tubuh” dan untuk itu mereka datang ke penjahit. Kendati sudah “dikecewakan” berkali-kali karena pesanan mulur dari waktu yang dijanjikan, mereka tetap datang lagi. Sebagian karena terpaksa, tidak ada penjahit lain; sebagian lagi masih bertimbang-timbang untuk ganti penjahit lain, lebih-lebih jika langganan yang suka telat ini dianggap “lebih senior”. Keluar dari zona kemapanan, menghadapi tantangan berupa penjahit baru dapat berisiko modal bahan pakaian rusak dan waktu terbuang, sementara ada batasan baju tersebut harus dipakai untuk keperluan tertentu.

Jika ada beberapa pilihan penjahit, tetap ada untung-rugi antara satu dengan yang lain, seperti: “rapi pada jahitan tapi jangan diharapkan untuk desain baru” atau “seperti tergantung mood, jika pas enak hasilnya bagus, dan sebaliknya”. Konsumen memiliki beberapa pilihan dan biasanya disesuaikan dengan prioritas hasil jahitan yang diharapkan. “Tidak ada penjahit yang sempurna”, pembenaran yang dapat diangkat. Nobody is perfect.

Business Is Service

Situasi lain yang mendorong konsumen datang ke penjahit berkaitan dengan pengadaan seragam untuk kelompok. Situasi pertengahan ini menjadi tanggung dan dapat merepotkan jika harus dicari satu per satu di toko baju, selain keunikan identitas. Jalan tengah yang diambil: bahan yang sudah terukur sama diberikan kepada konsumen untuk dijahitkan sendiri atau dilakukan penyeragaman ukuran juga, mirip dengan produk pabrik, lewat satu tim penjahit. Bagian ini kondisi pertengahan antara gaya industri pabrik dan seni tim penjahit.

Terakhir, pertimbangan lain yang mendorong konsumen tetap memilih datang ke penjahit, yakni opini sentimental. Ada teman yang “tidak tega” melihat nasib penjahit digempur industri pakaian jadi, sehingga dia akan tetap datang membuat baju ke penjahit, setelah observasi ke sejumlah tempat. Misalnya pun “tidak ada yang sempurna”, dalil, “yang paling sedikit kekurangannya” akan memotivasi dia untuk harus tetap memilih penjahit daripada membeli langsung ke toko. Kendati saya tidak termasuk dalam kelompok ini untuk urusan baju, saya acungkan jempol sebagai salah satu bagian dari kemauan kita mengisi ranah produksi. Dapat dilihat juga kemampuan kolektif menjahit menjadi berkurang karena peran penjahit bergeser dari memproduksi pakaian menjadi “sekadar” tukang potong atau tukang permak celana/pakaian jadi.

Saya mengomentari konsumen tukang jahit terlalu jauh? Coba ganti paparan di atas dengan suasana di lingkungan teknologi informasi, sepertinya fenomena konsumen tsb. mirip.

Bagaimana dengan sisi penjahit? Akan saya tulis berikutnya, insya Allah.

4 Comments

  1. Kok saya gak ngerti di paragraf kedua dari terakhir ya?

    1. Ikhlasul Amal 1 July 2012 at 16.26

      Pertama, pasang Linux dulu. Selanjutnya, bayangkan penjahit sebagai pengembang aplikasi dan konsumen pakaian sebagai konsumen perangkat lunak.

  2. saya kira penjahitnya sudah bekerja keras lembur siang malam apalagi menjelang ajaran sekolah baru dan sebentar lagi lebaran

  3. Penjahit juga manusia. Bisa juga berbuat salah. Namun harus selalu menyenangkan konsumen.

Comments are closed.