Penjahit dan Pengembang Aplikasi: Konsumen

[Betha Sidik](http://www.plurk.com/betha) sudah mengomentari di awal bahwa pengembang aplikasi
yang meniru penjahit, dengan istilah tailor-made, padahal
cetusan saya berawal dari beberapa kali mengalami kejadian penjahit
salah memperkirakan waktu pengerjaan pesanan. Pertama, saya bandingkan
dengan keluhan serupa yang dialami ibu — mewakili konsumen yang
memerlukan produk spesifik atau agak sulit didatangkan ke gerai
produk jadi. Kedua, saya amati jenis penjahit yang “punya
kecenderungan terlambat” dan “punya kecenderungan tepat waktu”.

Penjahit dan pengembang aplikasi

Sekelompok konsumen pakaian lebih suka memilih hasil “yang
benar-benar pas dengan bentuk tubuh” dan untuk itu mereka datang ke
penjahit. Kendati sudah “dikecewakan” berkali-kali karena pesanan
mulur dari waktu yang dijanjikan, mereka tetap datang lagi. Sebagian
karena terpaksa, tidak ada penjahit lain; sebagian lagi masih
bertimbang-timbang untuk ganti penjahit lain, lebih-lebih jika
langganan yang suka telat ini dianggap “lebih senior”. Keluar dari
zona kemapanan, menghadapi tantangan berupa penjahit baru dapat
berisiko modal bahan pakaian rusak dan waktu terbuang, sementara ada
batasan baju tersebut harus dipakai untuk keperluan tertentu.

Jika ada beberapa pilihan penjahit, tetap ada untung-rugi antara
satu dengan yang lain, seperti: “rapi pada jahitan tapi jangan
diharapkan untuk desain baru” atau “seperti tergantung mood,
jika pas enak hasilnya bagus, dan sebaliknya”. Konsumen memiliki
beberapa pilihan dan biasanya disesuaikan dengan prioritas hasil
jahitan yang diharapkan. “Tidak ada penjahit yang sempurna”,
pembenaran yang dapat diangkat. Nobody is perfect.

Business Is Service

Situasi lain yang mendorong konsumen datang ke penjahit berkaitan
dengan pengadaan seragam untuk kelompok. Situasi pertengahan ini
menjadi tanggung dan dapat merepotkan jika harus dicari satu per
satu di toko baju, selain keunikan identitas. Jalan tengah yang
diambil: bahan yang sudah terukur sama diberikan kepada konsumen
untuk dijahitkan sendiri atau dilakukan penyeragaman ukuran juga,
mirip dengan produk pabrik, lewat satu tim penjahit. Bagian ini
kondisi pertengahan antara gaya industri pabrik dan seni tim
penjahit.

Terakhir, pertimbangan lain yang mendorong konsumen tetap memilih
datang ke penjahit, yakni opini sentimental. Ada teman yang “tidak
tega” melihat nasib penjahit digempur industri pakaian jadi,
sehingga dia akan tetap datang membuat baju ke penjahit, setelah
observasi ke sejumlah tempat. Misalnya pun “tidak ada yang
sempurna”, dalil, “yang paling sedikit kekurangannya” akan
memotivasi dia untuk harus tetap memilih penjahit daripada membeli
langsung ke toko. Kendati saya tidak termasuk dalam kelompok ini
untuk urusan baju, saya acungkan jempol sebagai salah satu bagian
dari kemauan kita mengisi ranah produksi. Dapat dilihat juga
kemampuan kolektif menjahit menjadi berkurang karena peran penjahit
bergeser dari memproduksi pakaian menjadi “sekadar” tukang potong
atau tukang permak celana/pakaian jadi.

Saya mengomentari konsumen tukang jahit terlalu jauh? Coba ganti
paparan di atas dengan suasana di lingkungan teknologi informasi,
sepertinya fenomena konsumen tsb. mirip.

Bagaimana dengan sisi penjahit? Akan saya tulis berikutnya, insya
Allah.

4 Comments

    1. Pertama, pasang Linux dulu. Selanjutnya, bayangkan penjahit sebagai pengembang aplikasi dan konsumen pakaian sebagai konsumen perangkat lunak.

  1. saya kira penjahitnya sudah bekerja keras lembur siang malam apalagi menjelang ajaran sekolah baru dan sebentar lagi lebaran

Comments are closed.