Presentasi “Keluarga dan Media Baru”

Minggu, 15 April, saya diundang untuk menyampaikan materi berkaitan dengan anak dan risiko pornografi. Penyelenggara acara adalah orang tua (lebih spesifik, “ibu-ibu”) Sekolah Alam Bandung dan merupakan bagian dari tema keorangtuaan (parenting). Ibu Erlyza Prasty yang mengontak saya pada awalnya, lewat Facebook. Bertempat di Rumah Bermain “Bumblebee”, Jalan Cipedes Tengah, Bandung, acara dimulai sesuai rencana, pukul 9 dan usai sekitar pukul 16.30. Saya menjadi salah satu dari tiga pembawa materi, bersama Ibu Rani Razak Noe’man dan Pak Aldino Adry Baskoro. Ibu Rani, dari Komunitas Cinta Keluarga, adalah penyaji materi berkaitan dengan keluarga dan belakangan ini lebih spesifik menangani sejumlah kasus dampak pornografi; sedangkan Pak Aldino guru kelas 6 di Sekolah Alam Bandung — saya sudah kenal baik sejak anak kedua saya duduk di bangku kelas 6.

Dikaitkan dengan pornografi, acara ini kesempatan kedua: di bulan Juni 2010 lalu, saya pernah diundang berdiskusi Cyber Ethics di forum Masjid Salman ITB bersama Danrivanto Budhijanto, staf ahli Kominfo. Setelah mendapat pengantar dari panitia lewat surel, saya berikan kata kunci yang tepat: “Internet Sehat”. Selain karena acara ini berlatar belakang akses Internet oleh anggota keluarga, manfaat Internet lebih berpotensi sebagai harapan daripada kemurungan “Internet sebagai media bermasalah untuk keluarga”.

Saya coba mengumpulkan bahan-bahan terkait dari situs Internet Sehat, namun tampaknya situs ini menjadi kliping berita media massa dan album foto kegiatan, sedangkan penjelasan dan bahan tulisan hampir tidak ada. Daripada mempermasalahkan aktivitas pihak lain, saya teringat koleksi infografis di Pinterest — situs jejaring sosial berbasis media grafis yang mulai dapat saya nikmati. Benarlah, lewat koleksi infografis beberapa teman atau lewat kata kunci “infographics”, tampil fakta yang disajikan dalam gaya poster, dalam jumlah banyak. Hal ini saya anggap sebagai kesempatan pertama merasakan langsung manfaat Pinterest.

Praktis perangkat lunak daring banyak membantu saya: presentasi disusun di Google Documents, koleksi tautan terkait saya sediakan di Springpad.

Materi pertama tentang kondisi nyata di Indonesia, yakni anak-anak dan ancaman nyata pornografi. Bu Rani memulai dengan globalisasi dan kompetisi yang kian ketat di masa mendatang, dengan kontradiksi risiko “generasi yang hilang” sebagai dampak buruk aneka media yang membawa materi buruk, terutama pornografi. Ilustrasi penjelasan diambilkan dari koleksi potongan acara televisi — sinetron, percakapan, hingga berita; tambahan lain yang menjadi sorotan adalah Internet, sebagai media baru. Sejumlah kasus nyata yang terjadi di masyarakat memang mengindikasikan terjadi pergeseran signifikan dari sisi kecepatan perolehan informasi — yang berarti juga memiliki risiko membawa materi yang tidak patut. Pergeseran ini sayangnya belum diimbangi “ketahanan” publik dalam bentuk pemahaman dan daya tapis.

Smartphone is getting smarter and cheaper, while most of its users stay not yet so smart enough.

Tiga jam kami mendengarkan paparan Bu Rani, termasuk beberapa simulasi untuk lebih menghargai anak-anak, melihat kelebihan dibanding kekurangan mereka, dan diakhiri dengan harapan besar agar orang tua bersungguh-sungguh, “berperang menghadapi kemunduran yang terjadi di negeri ini”. Termasuk sindiran tentang Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index) yang menempatkan Indonesia di bawah Palestina; dengan ungkapan lain: jika hendak berperang, di Indonesia lebih diperlukan, melawan musuh yang merusak dan tidak tampak. Catatan dari Wikipedia: Indonesia berada di peringkat ke-124 dengan tanda peningkatan, sedangkan Palestina di peringkat ke-114 dengan kondisi datar.

Jika dikatakan Indonesia lebih liberal daripada negara liberal sekalipun, yang lebih tepat adalah “di sini masih jahiliyah”.

Saya bawakan materi berjudul Keluarga dan Media Baru: Akses Internet dengan Sehat. Presentasi saya juga diawali dengan isu globalisasi yang sering diangkat sebagai pertanda gamblang abad XXI; untuk keperluan tsb. isu utama di awal abad ini diambilkan dari poin-poin di Wikipedia.

Penekanan berikutnya yang saya angkat adalah faktor skala: saat ini kita, sebagai penduduk Indonesia dan warga dunia, berhadapan dengan angka-angka yang luar biasa besar, terutama berkaitan dengan jumlah penduduk dan aktivitas yang dihasilkan, yang sudah tentu membawa dampak terhadap jumlah pengguna dan frekuensi akses media baru. Hal ini termasuk tanggapan saya terhadap pernyataan yang sering saya dengar, seperti, “sekarang ini maksiat kian banyak dan merajalela”. Perlu kita sadari: seberapa banyak dibanding peningkatan jumlah manusia sebagai pelakunya; dan juga seberapa luas dibanding jelajah manusia yang juga kian luas. Demikian pula tentang kualitas persoalan: perlu digunakan acuan sebagai indikator untuk pernyataan peningkatan.

Proses dan kemajuan lebih penting diangkat daripada status kondisi, untuk hal ini saya ajukan sejumlah inisiatif dan langkah praktis berkaitan dengan akses media baru yang baik di lingkungan anak-anak, baik di rumah atau di sekolah. Saran dan langkah-langkah praktis yang ditulis di sejumlah situs web dan pengalaman saya bersama anak-anak dikelompokkan dalam kategori ini. Saya ulang pula ajakan untuk tertib, taat aturan main, dan bersikap jujur di ranah maya, karena seharusnya urusan akhlak baik yang benar berlaku untuk semua orang dan di semua tempat. Hal-hal seperti ini diangkat sebagai “apresiasi terhadap anak”, bukan pengawasan yang berlebihan.

Terakhir adalah langkah praktis pengenalan alat bantu yang mendukung. Penting disadari bahwa alat bantu bekerja sesuai fungsinya dan bukan “obat segala penyakit”. Fungsi mereka membantu langkah orang tua dan pendidik menjalankan misinya, dengan demikian bukan bersikap “terima beres” pada alat bantu. Nawala Nusantara dan pengaya (add-on) di peramban Firefox saya tampilkan sebagai teladan. Sila juga dibandingkan dengan jenis atau merk lain.

Pornografi sudah jelas bukan sahabat anak-anak.

Acara sehari tsb. ditutup dengan pemaparan pandangan dan pengalaman Pak Aldino, yang telah melakukan langsung sehari-hari di kelas 6. Salah satu prestasi Pak Al adalah menghentikan seorang siswa dari kecanduan menonton sinetron; kami beri aplaus untuk kesabaran dan ketekunannya menangani kasus per kasus yang ditemui.

Diawali dengan rujukan yang dijadikan acuan di kelas, sehingga terdapat definisi tegas namun tetap mengakomodasi kondisi sekitar tentang aurat misalnya, yang dijadikan titik-pangkal diskusi dan penanganan pornografi di kelas. Metode yang digunakan pun bervariasi antara mencegah dan mengatasi, isu bersama sekelas atau kasus yang melibatkan hanya satu-dua siswa.

Ditambah keterangan kepala sekolah yang juga hadir, mereka bersepakat bahwa terjadi ekskalasi ekses dari akses Net dalam periode dua-tiga tahun terakhir. Tampaknya hal ini berkorelasi terhadap jejaring sosial yang kian marak, pun teknologi ponsel yang meningkat, sedangkan harga kian terjangkau. Ponsel KW pun sudah canggih! Termasuk secara spesifik Blackberry disebut dalam beberapa ilustrasi.

Sekali lagi, alat tetaplah alat, Bukan alat ini yang kalian (anak-anak) anggap salah, tetapi kalian sendiri yang harus memahami penggunaan alat, demikian pesan di kelas yang diulang oleh Pak Aldino. Beberapa kasus persinggungan anak dengan pornografi juga terjadi dari orang tua yang lalai, kurang peduli, atau memang tidak paham persoalan atau teknologi. Ini dapat menggelisahkan jika diingat beberapa kasus yang sudah terjadi karena keteledoran tsb.

Acara diakhiri dengan ajakan bersama untuk memerangi kemunduran ini dan orang tua sebagai benteng utama untuk keluarga. Saya ucapkan terima kasih kepada panitia yang telah menggagas dan melaksanakan pemaparan dan diskusi bersama: sebagian yang saya kenal tampak aktif di media sosial, dengan demikian dapat lebih aktif menyuarakan ide dan ajakan.

Bahan presentasi juga saya sediakan di Google Documents, sedangkan dalam penyusunannya, saya memanfaatkan beberapa dokumen, dan saya tulis dalam bentuk senarai di Springpad. Sila digunakan jika diperlukan dan saya tunggu masukan-balik dengan tangan terbuka.