Menemani Pemasar Produk

Dalam beberapa pekan terakhir ini saya ikut menemani teman
memasarkan produk kantor kami, sebuah aplikasi untuk pengelolaan
Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan tempat pemasaran kami di
perusahaan menengah ke bawah atau UKM,
keadaan pertama yang kami temui adalah produk untuk penjualan (POS)
paling dulu dipenuhi, karena pintu gerbang kedatangan pelanggan dan
pendapatan; dilanjutkan dengan aplikasi akuntansi, sekali lagi
tentang duit. SDM setelah itu, jika karyawan sudah meningkat,
kesejahteraan perusahaan membaik, dan syukur-syukur kesadaran penuh
pemilik usaha akan aset penting berupa SDM.

Hal kedua yang menarik adalah perwakilan perusahaan yang kami temui
saat presentasi. Jika kami disambut oleh perwakilan divisi
kepegawaian atau SDM, boleh dikata diskusi lebih lancar karena
antara tim pemasar kami dan calon pembeli sama-sama perlu.
Tawar-menawar biasanya terjadi pada fasilitas yang disediakan
aplikasi dan relevansi terhadap keperluan urgen calon pembeli.
Terlalu lengkap terkadang tidak menyelesaikan masalah (memberangus
nyamuk menggunakan meriam?), jika kurang tentu mengecewakan, harga
dapat sangat jatuh. Tarik-ulur ini pada penyesuaian, fleksibilitas,
dan layanan migrasi serta purna-jual.

Yang dapat menjadi lebih sulit jika yang dihadapi perwakilan dari
divisi Teknologi Informasi (TI), lebih-lebih jika ybs. dianggap
lebih mengerti perkomputeran dan memiliki porsi besar dalam
penentuan. Lebih sulit karena evaluasi yang dilakukan sering
menjadi terlalu jauh dan condong pada kaitan dengan teknologi
mutakhir. Sebagai contoh, yang klasik kami dengar pertanyaan: apakah
aplikasi ini sudah berbasis Web? Bukan karena divisi kepegawaian
benar-benar memerlukan, melainkan karena web itulah yang dianggap
pencapaian tertinggi teknologi sekarang dan pemeliharaan di komputer
klien nyaris nol. Tidak ada instalasi ulang, yang tentu saja
memudahkan pekerjaan divisi TI.

Aplikasi adalah web, tidak peduli ada model antarmuka
master-detail yang perlu query kompleks atau interaksi
dengan papan ketik intensif operator di lapangan. Kata akhirnya,
Lah, Google atau Facebook bisa menyediakan seperti itu.
Seharusnya kami tersanjung dipadankan dengan mereka, sambil meringis
membayangkan teknologi yang perlu diantisipasi. Belum tentu mereka
siap juga, terutama untuk pemeliharaan nanti.

Bagaimana hal ini diatasi? Perlu dipelajari siapa saja yang
sebenarnya akan menggunakan layanan dari aplikasi tsb. Operator di
divisi kepegawaian jelas sepanjang hari, selama hari kerja (mungkin
hingga lembur), habis-habisan di depan aplikasi tsb. Kualitas
informasi ditentukan oleh kualitas data masukan mereka dan sangat
jarang mereka berada di luar kantor selama pemasukan data. Bahkan di
kantor pun, kelompok ini biasanya duduk manis di meja kerjanya.

Barulah kelompok pembaca laporan, para manajer di atasnya, yang
perlu akses dari tempat-tempat yang berbeda, pun perangkat kerja
mereka (gadget) juga lebih canggih. Yang mereka lihat adalah
laporan akhir dan risalah. Koreksi pun minim, malah mungkin
disampaikan dengan cara lain, misalnya disebutkan secara lisan atau
lewat surel. Karena kelompok manajer ini penting dipuaskan dari
pengadaan perangkat lunak, aplikasi semacam dashboard
berbasis web cocok disediakan untuk mereka. Ini relatif mudah
dibanding jenis aplikasi entri data kompleks.

Jadi divisi TI merepotkan saat pengadaan aplikasi? Buat kami yang
membuat dan menjual memang betul merepotkan. Namun saya juga sadar,
terakhir membeli ponsel juga mensyaratkan adanya GPS, walaupun kenyataannya dalam sepekan
paling dipakai sekali-dua kali, atau malah lebih jarang lagi.

2 Comments

Comments are closed.