“Masa Depan” untuk Pengembang

Jadi bagaimana cara menyiasati “masa depan” untuk seorang pengembang? Saya sempat berdiskusi ringan dengan salah seorang senior di Bandung. Saya jelaskan hasil percakapan saya tentang usaha rintisan yang saya peroleh dari beberapa acara terakhir.

Teman pengembang ini percaya bahwa jika dibuat produk yang bebas digunakan oleh banyak orang (taruhlah dengan lisensi “perangkat lunak bebas”) dan memang membawa manfaat bagi penggunanya, suatu saat si pembuat akan “memetik hasilnya”. Semacam panen yang merupakan kumulasi dari nilai produk yang telah dibuat dan bermanfaat tsb. Dari mana perhitungan tsb.? Ini lebih pada faktor keyakinan daripada perhitungan matematis suatu model bisnis; kendati, tidak tertutup kemungkinan sebenarnya suatu model bisnis yang mendekati keyakinan tsb. dapat disusun.

Ada dua hal penting di sini:

  1. Siasat yang perlu dipikirkan dan dijalankan selama masa bercocok tanam — sebelum musim panen tiba. Untuk pengembang junior barangkali tertolong oleh tingkat keperluan sehari-hari yang — mungkin — lebih sedikit. Oleh karena itu, jika keyakinan ini dijalankan saat masih kuliah misalnya, sangat mungkin pada saat ybs. lulus, hasil sudah dapat dipetik. Demikian pula di beberapa negara sosialis terdapat jaring pengaman sosial yang membantu warganya jika berpenghasilan kurang dari batas bawah. Di Indonesia? Mau tidak mau harus dipikirkan siasat menghadapi musim paceklik, lebih-lebih jika sudah ada tanggungan seperti keluarga.
  2. Seberapa besar hasil dari panen yang akan dipetik? Bagaimanapun, terbersit hitung-hitungan antara hasil dibanding pengeluaran secara keseluruhan. Kecuali memang sudah berniat memilih total menjadi pengusaha untuk diri sendiri, bersikap menghitung hasil berbekal kondisi saat ini dan melakukan langkah penting investasi tsb. adalah keniscayaan. Jawaban moderat adalah dengan membagi waktu agar keduanya tetap dapat diraih, namun tidak selalu semudah itu. Komitmen penuh pada dua rencana besar berpotensi “tanggung” dijalankan.

Saya berpendapat bahwa untuk keperluan pribadi dalam batas minimal, strategi secara khusus tidak terlalu diperlukan. Buat saja aplikasi yang bagus dan bermanfaat, niscaya akan ada cara “kita dibayar” suatu saat. Berapa batas minimal untuk hidup ini? Kami tertawa jika ukurannya adalah memiliki mobil mewah seperti Bentley; usulan teman pengembang tsb. adalah kesanggupan menyekolahkan anak-anak. Mohon diingat juga bahwa penyelenggaraan pendidikan yang ditanggung pemerintah Republik Indonesia adalah pendidikan dasar sembilan tahun. Di atas itu terdapat ekskalasi biaya, terutama untuk uang masuk. Tapi, baiklah, indikator ini dapat dijadikan pegangan terhadap keyakinan “tetap akan dibayar suatu waktu nanti”.

Pada sisi lain, jika yang diharapkan adalah hasil yang lebih besar, tampaknya tidak cukup sekadar meletakkan produk, digunakan oleh publik, dan uang datang. Perlu perubahan mendasar dari seorang pengembang aplikasi menjadi pengusaha. Matt Mullenweg di belakang WordPress adalah contoh nyata dari pengembang perangkat lunak bebas yang berubah menjadi pengusaha layanan berbasis produk yang dibuat dan sukses dengan perubahan tsb. Tim bisnis dibentuk, kerjasama digalang; titik ini sering disebut kritikal dalam proses pembentukan kewirausahaan.

Dengan demikian, sudah terlihat di sini tentang pilihan tetap sebagai pengembang atau beralih menjadi pengusaha. Dua hal yang berkaitan namun dapat berbeda cara pandang.

4 Comments

  1. Kiyaa… baru berkunjung kembali ke sini. Serem sekali bagian "kepala" blog ini, Mas Amal. Memang untuk berkembang, pengembang membutuhkan mereka yang mengerti bisnis.

    1. Ikhlasul Amal 3 January 2012 at 10.07

      Tampilan lama sempat terkena injeksi malware, jadi dikembalikan ke templat lama dan gunakan stok foto pribadi. 🙂

      1. Err… bagaimana bisa tahu terinjeksi malware? Saya kok merasa tenang-tenang saja ya selama ini. Sartika kernel 🙂

        1. Ikhlasul Amal 7 January 2012 at 10.55

          Tampilan untuk user-agent selain peramban grafis (misalnya Lynx) berbeda, diisi spam produk bermasalah seperti Viagra dll. Karena tampilan di Firefox misalnya, tidak ada masalah, saya semula tidak menaruh kecurigaan, sampai ada teman yang melaporkan dan saya lihat di laporan Google Webmaster memang ada masalah.

Comments are closed.