Tentang Investasi

Ada yang menyebut sebagai “investor malaikat” (angel
investor
), ada juga “investor gila”. Intinya adalah pihak
investor yang jeli, mengendus potensi produk, dan berani nekat
menggelontorkan pundi-pundi. Venture Capital (VC) atau modal
ventura, istilah yang lebih resmi digunakan. Di awal-awal
ramai-ramai Ventura dua dasawarsa lalu, anggapan yang sudah muncul
untuk pengajuan dari sektor TI
adalah bahwa industri ini tidak layak disebut UKM karena berisi orang-orang yang
berpendidikan. Pengusaha tahu atau pedagang kelontong misalnya,
dianggap lebih tepat diayomi Ventura.

Setelah itu tetap ada kesulitan laten menjelaskan aset perusahaan
TI, yaitu penilaian terhadap aset dalam bentuk perangkat lunak.
Seperti dijelaskan di buku-buku teks, perangkat lunak yang terdiri
atas program, data, dan dokumentasi tidak selalu mudah dikonversi
dalam penilaian.

Bagaimana hari-hari ini? Di INAICTA 2011 lalu saya menyaksikan acara
seminar yang tampak menonjolkan peluang untuk perusahaan rintisan
(start-up). Ditampilkan beberapa teladan yang sudah mengalami
manis-asam gula-garam selama merintis usaha, termasuk inisiatif dari
pihak investor.

Usai acara saya berkesempatan mengobrol panjang dengan [Wisnu
Manupraba](https://www.facebook.com/wisnu.manupraba), teman dari Bandung juga, yang sekarang sedang sibuk
membesarkan [Ngomik](http://www.ngomik.com). Pengalamannya dengan pendanaan investor sbb.:

1. Dari sebagian kisah yang berlanjut baik, umumnya adalah untuk
individu atau kelompok baru yang belum mendapatkan bentuk. Dengan
demikian, tidak selalu mudah untuk tim yang sudah mapan atau
mulai memiliki kultur sendiri.
1. Calon investor yang dianggap prospektif mengajak diskusi produk
yang dibuat dan peluang ke depan; sedangkan yang sedikit konyol
langsung menanyakan berapa lama akan balik modal. Wisnu sendiri
lebih menghargai kelompok prospektif walaupun di akhir gagal
berkongsi.

Sebulan kemudian saya bertemu [Enda Nasution](https://www.facebook.com/endanasution) yang sekarang
membesarkan [Saling Silang](http://salingsilang.com) di acara
[Konferensi Narablog ASEAN](http://direktif.web.id/2011/11/asean-blogger/), yang
salah satunya mengangkat isu usaha rintisan untuk wilayah regional.
Saya tanyakan isu investor ini dan poin dari Enda:

1. Investor memang sedang datang dalam jumlah banyak ke Indonesia,
setelah isyarat (dan promosi) prospek bisnis TI di sini, terutama
gambaran potensi pengembang. Ini dapat menjadi boom dan
dapat berisiko jika ternyata kenyataan di lapangan berbeda.
1. Sejalan dengan penjelasan Shinta Dhanuwardoyo dari Bubu di
acara tsb. tentang pentingnya profil pendiri usaha rintisan —
bukan hanya gagasannya — Enda menjelaskan bahwa dalam
beberapa kasus kerja sama investor dan usaha rintisan malah dapat
berubah menjadi kepentingan investor untuk mengarahkan SDM
perusahaan tsb. mengerjakan rencananya. Jika hal ini
bertolak-belakang dengan gagasan yang semula diangkat, praktis
jadilah rekrutmen SDM secara kolektif — sudah dalam bentuk tim
pula. Hal ini menjadi logis dilihat dari kesulitan rekrutmen staf TI hari-hari ini, karena
jumlahnya di bawah kebutuhan.

Terakhir cerita dari [Rendy Maulana](https://www.facebook.com/rendy.maulana) yang dengan konservatif dia
sebutkan bisnis harus tetap bertumpu pada keuletan diri sendiri.
Sulit berharap kecocokan dari pihak lain, walau mungkin
jumlah pendanaan yang diperlukan bukan angka yang besar bagi pihak
lain tsb. Oh ya, Rendy ini [juragan tempat
hosting](http://www.qwords.com) yang awet
dengan bisnisnya, jadi barangkali dia lebih tepat mendudukkan
dirinya sebagai investor sekarang.

3 Comments

  1. walah..
    saya ngertinya cuma "bisnis harus tetap bertumpu pada keuletan diri sendiri"..

    eniwey seneng bisa berkunjung kerumah blogger pro..
    salam kenal pak *berihormat-bungkuk-bungkuk

Comments are closed.