Kisah Server Surel dari Lapangan

Berkesempatan bertemu dengan tim teknis dari salah satu penyelenggara layanan Internet di Bandung, hari Rabu lalu, saya mengulang pertanyaan lama, Masih adakah klien mereka yang menyediakan server surel sendiri?

Seperti saya duga sebelum bertanya, jawaban mereka sama dengan kondisi yang pernah saya tulis tentang server surel.

  1. Pengelolaan server surel sendiri itu lebih repot, dari sisi penyediaan SDM hingga urusan tambahan antisipasi terhadap gangguan seperti spam, scam, virus. Saya ingat server kantor kami: di saat-saat terakhir masih mengurus surel sendiri, kesibukan tingginya justru memindai pesan yang akan datang atau yang sudah masuk.

  2. Pengalihan urusan server surel ke pihak ketiga (Gmail lagi!) dianggap lebih murah. Ini seperti pertimbangan Riyogarta, membayar untuk ukuran penyimpanan lebih besar pun masih terjangkau dan lebih efisien dibanding poin (1).

Selain itu ada faktor tambahan: surel memang sudah mulai kurang populer dibanding dulu. Frekuensi kedatangan tidak seramai dulu, terutama untuk keperluan personal, karena beberapa penyampaian pesan sudah digantikan oleh jejaring sosial atau mikroblog.

7 Comments

  1. AFAIK, tergantung siapa yang ditanya mas. Kalau untuk perusahaan kecil dengan beberapa belas staff mungkin jawaban diatas bisa berlaku tapi untuk perusahaan diatas 20 staff, pengelolaan email server sendiri jauh lebih baik.

    Soal SDM, ya disini masalahnya. Soalnya dikelola pihak providerpun tidak menjadi jaminan pengelolaannya lebih bagus daripada dikelola sendiri

    BTW, ini tanggapan dari orang yang punya hajat soal email server sendiri, hehehe…

    1. Terima kasih, saya memang tidak menyelenggarakan survei yang cukup kredibel, baik dari sisi jumlah kuesioner atau kualitasnya. Namun sebagai gambaran profil kasar responden:

      1. Untuk penyelenggara layanan Internet, mereka bergerak di lapis tengah, sedikit di atas SOHO. Jadi kira-kira di lapis itu pula konsumen mereka.
      2. Pengalaman yang saya tulis sebelumnya malah di perusahaan besar, yang semula mengandalkan server surel sendiri. Jumlah karyawan ribuan dan tersebar di sekitar tiga lokasi di Pulau Jawa. TI di perusahaan tsb. digunakan sebagai alat bantu utama.

      Kira-kira begitu.

  2. Kalau peusahaan berkelas bintang masih menggunakan surel gratisan, nanti ceritanya sama kaya' kasus anggota DPR yang melancong (bukan kunjungan kerja) ke Australia. Malah jadi bahan cemoohan orang banyak 🙁

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    1. Hehe, sebenarnya berbayar pun masih sangat murah. Seperti pertimbangan Riyogatra: hanya $5/tahun, super murah dan bebas menggunakan nama domain sendiri jika diperlukan. Memang ada pertimbangan lain yang dapat kritikal, seperti kerahasiaan dokumen.

      Salam balik hangat dari Bandung. 🙂

  3. Sekarang yang dibutuhkan bukan hanya email tapi collaboration suite, spam dll urusan opisboy, yang jadi pertanyaan bos-bos adalah sync contact, sync calendar, bisa diakses dengan mudah dari device apapun yang mereka bawa.

  4. Mas Saya malah berpikir untuk membuat server surel sendiri untuk perusahaan kantor yang kurang dari 20 orang ini, tapi masih pikir2 karena cukup lumayan juga biaya investasinya. Kalo perusahaan ini makin berkembang sepertinya harus dipaksakan unutk bikin sendiri server surel ini.

    1. Ikhlasul Amal 4 February 2012 at 11.33

      Betul, untuk kantor kecil, menyediakan infrastruktur server surel sudah berongkos lumayan (pengadaan perangkat keras, koneksi kontinu, anti-spam/virus/malware, hingga SDM). Lebih praktis pakai layanan Gmail, misalnya pun nanti berkembang, dan masuk berbayar, rasanya masih terjangkau. Saya bukan bermaksud promosi Gmail, tapi faktanya seperti itu.

Comments are closed.