Terbawa Undangan Awal Google Plus

Terbawa rombongan undangan awal dari Willy Permana, saya mendaftarkan diri di sela-sela acara buka-tutup penerimaan undangan Google Plus. Seperti halnya acara kopdar, begitu datang uluk salam teman-teman dengan teriakan, Lu lagi, lu lagi (4L) berkumandang berjam-jam setelahnya. Lah, di tempat baru kok langsung berharap dapat teman baru?

Tulisan tentang Google Plus sudah bertebaran di mana-mana, terutama di situs-situs web mancanegara pengulas layanan baru. Ihwal konsep, konsekuensi, hingga tip agar efisien menggunakan Plus, kian lengkap. Jika ingin terima beres, ikuti saja koleksi tulisan dan tautan Pujiono JS.

Metafor yang ditulis Scobleizer menurut saya jenaka untuk diterima dan cukup representatif menggambarkan perbedaan mendasar dunia geek dan “pengguna pada umumnya.” Kendati ide pengelompokan peserta diskusi terlihat sederhana, tidak selalu mudah diterima begitu saja oleh pengguna pada umumnya, termasuk juga di Facebook pun fasilitas penapisan status mutakhir terlupakan oleh sebagian besar pengguna.

Apakah kompleksitas pengaturan diskusi lewat Lingkaran-lingkaran (Circles) yang digunakan Plus bertentangan dengan keuntungan Twitter yang sederhana (dan termasuk diyakini sebagai salah satu faktor keberhasilannya)? Google Plus seperti menghadapi dua kubu besar sekaligus, Facebook dan Twitter. Malah menurut sebagian penggemar baru Google Plus, layanan ini antara lain sekali tepuk juga menghadapi Flickr.

Penampilan materi Google Plus mengikuti gaya Facebook, yaitu rich content, tanpa batasan ukuran teks yang dimasukkan. Ini akan lebih menyenangkan dibanding berdesak-desakkan ala mikroblog (yang memang diniatkan sangat ringkas di awal). Pengelompokan teman berdasarkan Lingkaran yang menjadi setelan penting di awal dapat membantu memilah topik pembicaraan berdasarkan preferensi teman, kendati sebagian orang malah ogah mengatur-atur hingga rinci.

Gaya Twitter yang sederhana dan mengalir terus — seperti perpanjangan IRC dasawarsa lalu — tidak dapat dinikmati di Google Plus dan hal ini boleh jadi membuat pengguna Twitter enggan pindah. Segmentasi yang biasanya juga berdampak ke faktor budaya dan gaya pengguna akan mengarahkan jenis hiruk-pikuk pasar yang terjadi dan ini mengurangi kebisingan yang tidak perlu.

6 Comments

  1. Mas amal, saya di undang dong ke Google Plus, pengen mencoba juga nih

  2. paling engga saya ketemu mas Amal di fb, twitter, plurk. g+ menyusul entar saya tambah ke lingkaran geek ya, hehehe

  3. Tulisannya khas Mas Amal sekali πŸ™‚ saya belum terbawa lingkaran Google+ I guess, I'm not an early adopter.

  4. Untuk hak fotografi, flickr mungkin gagal dari sisi jejaring sosial dan ke-musafir-an. Tidak seperti Instagram yang cukup berjaya walaupun masih tergolong eksklusif.

  5. mohon undangan πŸ˜‰

  6. tolong undang saya ke google plus ya? thanks

Comments are closed.