Terbawa Undangan Awal Google Plus

Terbawa rombongan undangan awal dari [Willy
Permana](https://plus.google.com/107604051134289349695/), saya
[mendaftarkan diri](https://profiles.google.com/ikhlasulamal) di sela-sela acara buka-tutup penerimaan undangan
Google Plus. Seperti halnya acara kopdar, begitu datang uluk salam
teman-teman dengan teriakan, Lu lagi, lu lagi (4L)
berkumandang berjam-jam setelahnya. Lah, di tempat baru kok langsung
berharap dapat teman baru?

Tulisan tentang Google Plus sudah bertebaran di mana-mana, terutama
di situs-situs web mancanegara pengulas layanan baru. Ihwal konsep,
konsekuensi, hingga tip agar efisien menggunakan Plus, kian lengkap.
Jika ingin terima beres, ikuti saja koleksi tulisan dan tautan
[Pujiono JS](https://plus.google.com/111079521489176102553).

[Metafor yang ditulis Scobleizer](http://scobleizer.com/2011/07/01/why-yo-momma-wont-use-google-and-why-that-thrills-me-to-no-end/ “Why yo momma won’t use Google+ (and why that thrills me to no end)”) menurut saya jenaka untuk diterima dan cukup representatif
menggambarkan perbedaan mendasar dunia geek dan “pengguna
pada umumnya.” Kendati ide pengelompokan peserta diskusi terlihat
sederhana, tidak selalu mudah diterima begitu saja oleh pengguna
pada umumnya, termasuk juga di Facebook pun fasilitas penapisan
status mutakhir terlupakan oleh sebagian besar pengguna.

Apakah kompleksitas pengaturan diskusi lewat Lingkaran-lingkaran
(Circles) yang digunakan Plus bertentangan dengan keuntungan
Twitter yang sederhana (dan termasuk diyakini sebagai salah satu
faktor keberhasilannya)? Google Plus seperti menghadapi dua kubu
besar sekaligus, Facebook dan Twitter. Malah menurut sebagian
penggemar baru Google Plus, layanan ini antara lain sekali tepuk
juga menghadapi Flickr.

Penampilan materi Google Plus mengikuti gaya Facebook, yaitu rich
content
, tanpa batasan ukuran teks yang dimasukkan. Ini
akan lebih menyenangkan dibanding berdesak-desakkan ala mikroblog
(yang memang diniatkan sangat ringkas di awal). Pengelompokan teman
berdasarkan Lingkaran yang menjadi setelan penting di awal
dapat membantu memilah topik pembicaraan berdasarkan preferensi
teman, kendati sebagian orang malah ogah mengatur-atur hingga rinci.

Gaya Twitter yang sederhana dan mengalir terus — seperti
perpanjangan [IRC](http://en.wikipedia.org/wiki/IRC) dasawarsa lalu — tidak dapat dinikmati di Google
Plus dan hal ini boleh jadi membuat pengguna Twitter enggan pindah.
Segmentasi yang biasanya juga berdampak ke faktor budaya dan gaya
pengguna akan mengarahkan jenis hiruk-pikuk pasar yang terjadi dan
ini mengurangi kebisingan yang tidak perlu.

6 Comments

  1. paling engga saya ketemu mas Amal di fb, twitter, plurk. g+ menyusul entar saya tambah ke lingkaran geek ya, hehehe

  2. Tulisannya khas Mas Amal sekali πŸ™‚ saya belum terbawa lingkaran Google+ I guess, I'm not an early adopter.

  3. Untuk hak fotografi, flickr mungkin gagal dari sisi jejaring sosial dan ke-musafir-an. Tidak seperti Instagram yang cukup berjaya walaupun masih tergolong eksklusif.

Comments are closed.