Layanan Berbagi Foto di Google

Kedatangan Google Plus juga disambut semarak di lingkungan narablog
foto (photoblogger). Karena Plus langsung diintegrasikan
dengan Picasa sejak awal peluncuran dan kemudian disadari bahwa
[pemasangan foto di Plus dapat disiasati agar tanpa batas](http://www.readwriteweb.com/archives/thanks_to_google_plus_picasa_gets_unlimited_storage_for_photos_and_videos.php “Thanks to Google Plus, Picasa Gets Unlimited Storage for Photos & Videos, Also Better Tagging”), tidak
mengurangi jatah ruang di Picasa, Google Plus menjadi alternatif
terhadap layanan berbagi-foto yang umumnya berbayar. Thomas Hawk
menuliskan [pembandingan yang dia lakukan](http://thomashawk.com/2011/07/google-vs-flickr-vs-facebook-vs-500px-vs-twitter.html “GOOGLE+ VS. FLICKR VS. FACEBOOK VS. 500PX VS. TWITTER”).

Fotoblog perlu porsi percakapan yang cukup dengan pengunjung
foto: suasana ini yang agak berbeda dengan fotografi profesional,
dan hal ini juga akan terbantu jika dilihat potensi Google Plus yang
dibekali pengguna Google.

Selain Plus, perlu diingat bahwa Google tetap menyediakan
[Panoramio](http://www.panoramio.com)
sebagai tempat berbagi foto dengan catatan layanan ini sudah sohor
dan kental dengan suasana “foto untuk peta” — jadi geotag salah satu
panglima. Di Panoramio tidak ada keterangan bahwa pemasangan foto di
sana mengurangi jatah ruang yang disediakan Google dan menarik
karena terhubung dengan Google Maps dan Google Earth. Galeri foto
tersedia lebih luas dari sekadar di halaman web Panoramio.

Kabar lain adalah [rencana Google dengan Photovine](http://mashable.com/2011/07/12/photovine/ “Google’s Photo Sharing Service Photovine Gets a Website”) — layanan foto
baru lagi. Dari halaman depan yang menampilkan foto di
ponsel (dan bukan kamera), [Photovine](http://www.photovine.com) akan membidik pemotret berbekal
ponsel dan ini berarti bersaing dengan Instagram yang memiliki
pengguna loyal dan memikat pendatang baru dengan foto bergaya
nostalgia. Foto berbasis ponsel-kamera atau kamera yang terpasang di
tablet akan memiliki gaya sendiri, yaitu pemasangan foto seketika,
menghilangkan proses pemindahan foto dari kamera ke media
komunikasi. Kendati kamera DSLR mutakhir [sudah dilengkapi dengan fasilitas Wi-Fi](http://www.gizmag.com/go/3220/ “Nikon 12.4 Mpx Digital SLR has Wi-Fi options”), kepraktisan memotret-dilanjutkan-mengunggah di ponsel-kamera
tetap lebih unggul. Cerita dari dua teman yang aktif memasang foto
di Instagram meyakinkan hal tsb. Nilai tambah “kedekatan sebagai
komunitas” penting dalam hal ini.

Betul, faktor komunitas: kecocokan pengguna Net sebagai komunitas
dengan layanan dapat mendului sekian feature teknis. Bukan
semata-mata tentang keberuntungan terhadap komunitas, sebaliknya,
fenomena dan perilaku komunitas yang dibidik perlu dipelajari
lebih serius.

2 Comments

  1. Tapi sayangnya google plus terlalu berat untuk dibuka..
    Apalagi tau sendiri kan koneksi internet di negara kita itu gimana..??
    Jadi makin lemot aja dan gak bisa menikmati 🙁

Comments are closed.