Kisah Lama Koneksi Internet Kita

Sebenarnya ada apa sih, kok Internet di Indonesia masih juga mahal?

Akhirnya pertanyaan klise yang senantiasa diamini di forum-forum di ranah maya tsb. tercetus juga di obrolan kami dua hari lalu. Beberapa bulan sebelumnya sebagian dari peserta diskusi tsb. merasa cukup dengan kondisi yang ada (dan tentu saja bukan perbandingan dengan kondisi di mancanegara yang pernah dialami oleh sebagian dari peserta diskusi).

Seorang menimpali bahwa keadaan negara kita yang sedemikian luas, berpenduduk banyak, boleh jadi penyebab kesulitan perbaikan koneksi Internet. Setidaknya, menurutnya, tidak dapat dibandingkan begitu saja dengan Vietnam dan negeri-negeri jiran. Namun hal ini direspon balik: baiklah, memang kondisi tsb. tidak dapat diingkari, namun tidak dapatkan dilakukan perbaikan dalam ukuran lebih terbatas, Jakarta atau Bandung misalnya? Toh, di Jakarta juga belum terasa yang disebut “Internet layak” tsb. (ini klaim dalam diskusi, saya tidak melakukan penelaahan lebih memadai), lebih-lebih Bandung.

Tampaknya kondisi “lebih baik” yang pernah dicapai tiga tahun lalu sudah perlu direvisi lagi.

Harga perangkat akses koneksi sudah turun berlipat-lipat. Modem seluler yang pada mulanya berharga pada kisaran Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta, hari ini sudah turun menjadi Rp 400 ribuan, bahkan lebih murah daripada harga modem dial up 64 kbps pada zamannya. Dengan kata lain: perangkat akses Internet kian terjangkau, ketersediaannya luas, namun janji operator akan koneksi yang disebut 3G atau pilihan ADSL masih bergeming seperti hari-hari awal kedatangan mereka.

Sebagai contoh, saya sudah menghubungi Telkom Speedy untuk menaikkan paket langganan kami. Produk di atasnya tersedia, namun setelah diperiksa staf lapangan, ternyata kondisi kabel telepon yang menuju daerah kantor kami masih meragukan untuk paket berkecepatan lebih tinggi tsb. Urunglah kami memperoleh harapan akan koneksi yang lebih baik, kendati paket koneksi tsb. sudah diiklankan.

Keperluan yang kian meningkat, bagaimana dengan keandalan? Ini bukan ihwal berfoya-foya dengan video atau konferensi daring empat kantor cabang berlainan lokasi, namun untuk penggunaan yang “sedikit meningkat” seperti Yahoo! Messenger yang sudah multi-guna atau Gtalk yang dijalankan di atas JavaScript Über Alles si Gmail, risiko terputus pada penggunaan di jam kerja hari-hari ini meningkat dibanding sebelumnya. Di grafik penggunaan koneksi terlihat baru terpakai seperempat atau sepertiga yang seharusnya diberikan; atau, jika pengunggahan menjadi penyebab, seharusnya jalur unggahan tidak merusak kualitas jalur unduhan. Belum diketahui persis hingga hari ini, termasuk gangguan laten yang pernah saya tulis.

Tentu tidak elok jika hanya memaki koneksi Internet yang mampet di negara kita, lebih-lebih dikaitkan dengan kemampetan dan kesemrawutan di banyak faktor pendukungnya. Boleh dikata semacam iri dan nyengir melihat album foto Mohammad Dhani Anwari, Pipa Internet Seluruh Dunya (perlu masuk ke Facebook dulu untuk menikmatinya).

2 Comments

  1. Saya termasuk orang yang kurang percaya bahwa negara kita itu "fakir bandwidth". Besarnya lebar pita dari/ke negara kita cukup besar. Saya tidak tahu persisnya, tapi dari beberapa akses yang saya peroleh, sudah "cukup" untuk kebutuhan sehari-hari mengakses dan memroduksi materi dari/ke luar negeri. Hanya saja masalahnya, porsi kue yang sampai ke penikmat akhir memang sangat kecil. Barangkali kita sendiri yang mesti instropeksi diri, apakah:

    • kita punya kemampuan untuk mengelola jalur Internet?
    • kita punya kemampuan untuk menikmati Internet dengan bijak?

    Pertanyaan pertama barangkali untuk penyedia jasa dan yang terakhir untuk pengguna jasa. Saya tidak mau mempertanyakan kompetensi para pengelola, tapi lebih ingin menyentil para pengguna. Sebelum berprasangka buruk, ada baiknya bila ada yang mengumpulkan data statistik tentang:

    • berapa jumlah data terkonsumsi karena "JorokPosting"*
    • berapa jumlah data (dan waktu dan produktivitas dan kesempatan!) terkonsumsi karena lebih senang berfoya-foya (lihat gambar2 aneh, diskusi2 tidak penting, dst) di beragam Forum
    • berapa jumlah data terkonsumsi karena mengunduh materi2 yang bukan haknya
    • berapa jumlah data yang mengalir dari/ke luar negeri padahal sebenarnya bisa diproksi dari dalam negeri
    • dst

    Dari situ bisa kita longok perbandingan berapa lebar pita tersedia dan berapa data yang terkonsumsi sia-sia. Oh ya, album yang saya buat di Fesbuk itu adalah arsip saya pribadi untuk nanti melihat seberapa perkembangan yang terjadi di tempat-tempat yang saya pernah kunjungi kalau nanti di kemudian hari mengunjungi tempat itu kembali. Bukan untuk pamer karena tidak semuanya berkecepatan tinggi. Hindari prasangka dan sikap iri yang menimbulkan dengki karena hanya membuat rugi diri sendiri (wés keren ngga itu, berima).

  2. Artikel yang menarik.. Makasih infonya.. Terus berkarya…:)

Comments are closed.