Godaan Alat-alat Bantu

Menjelang akhir dasawarsa 1980-an, saat pengolah kata mulai
digunakan sejumlah terbatas pemilik komputer pribadi, saya ingat
Kompas Minggu pernah menurunkan tulisan khusus tentang perangkat
lunak tsb. Dengan foto monitor komputer menampilkan
[WordStar](http://en.wikipedia.org/wiki/WordStar “‘WordStar’ di Wikipedia”),
tulisan utama di Kompas Minggu menyajikan kemudahan penggunaan
pengolah kata, namun di sisi lain juga dipilihkan seorang penulis
sohor yang menolak penggunaan pengolah kata. Dalih yang digunakan:
aneka fasilitas pengolah kata menjadikannya sibuk mengotak-atik
fasilitas tsb. dan mengurangi proses kreatif penulisan.

Jangan heran: mendapati sebuah alat bantu yang sangat memudahkan
perataan paragraf di sisi kiri dan kanan sudah mencengangkan saat
itu. Saya yang tidak pernah merasakan mesin ketik listrik — dan
hanya berbekal cara yang diajarkan di mata pelajaran mengetik untuk
mendapatkan paragraf rata kanan — seperti melompat jauh di depan
WordStar. Ada hal benar yang disampaikan penulis di atas: kemudahan
mengetik dan mengoreksi menjadikan proses “berpikir matang sebelum
jari mengetik” berkurang. Yang penting ketik dulu. Mirip dengan
penggunaan kamera digital hari-hari ini: bidik, jepret, jika perlu
dikoreksi dapat diulang atau dipilihkan dari sekian jepretan; dan
bahkan penyuntingan setelah sesi pemotretan pun menolong.

Beberapa hari ini alat-alat bantu dalam bentuk layanan web yang
disebut “berkaitan dengan produktivitas” menggoda. Kehadiran
iPhone/iPad, perangkat Android, dan dua peramban modern Firefox dan
Chrome, membuka peluang akan alat-alat bantu yang fleksibel
dijalankan di aneka lingkungan tsb. Berikutnya [konsep komputasi awan](http://id.wikipedia.org/wiki/Komputasi_awan “‘Komputasi awan’ di Wikipedia”)
(cloud computing) untuk penyimpanan data dan setelan pilihan
pengguna menjadikan cita-cita “komputer jaringan” ([network
computer
](http://en.wikipedia.org/wiki/Network_Computer “‘Network Computer’ di Wikipedia”)) terealisasi. Data kita tersimpan “entah di
mana” dan semua transaksi melintas seolah mengelilingi dunia.

Sangat praktis, itu pertama. Yang kedua: banyak fasilitas baru yang elok, terkoneksi antarlayanan, dan berlomba menjanjikan. Hanya untuk menulis catatan ringkas (ingat impian Borland di era [SideKick](http://en.wikipedia.org/wiki/SideKick “‘SideKick’ di Wikipedia”) yang memukau dunia dengan konsep [TSR](http://en.wikipedia.org/wiki/Terminate_and_Stay_Resident “‘Terminate and Stay Resident’ di Wikipedia”)?), di [Jolicloud](http://www.jolicloud.com) saya terbaca [Evernote](http://www.evernote.com), [Catch](http://catch.com), [SimpleNote](http://simplenoteapp.com), [SpringPad](http://springpadit.com), dan tentunya masih ada yang lain. Teknologi antarmuka yang lebih baru dan desain web yang terus berkembang menjadikan inovasi alat-alat bantu berukuran kecil dan berjalan ringan terus berkembang. Kendati muncul pertanyaan, Apa perbedaannya dengan Google Docs?, alat-alat bantu baru ini lebih menekankan pada kecepatan (karena mereka lebih ringan) dan kegunaan yang lebih spesifik.

Mengasyikkan kala membuat akun di banyak situs, menghubungkan satu
situs dengan yang lain (Facebook, Yahoo!, dan Google menjadi gerbang
otorisasi), berikutnya kesibukan ini tanpa terasa menyita waktu
tambahan dan yang perlu disadari juga: sebenarnya di situs yang mana
kita hendak “berkegiatan”? Rekaman kegiatan terpasang di salah satu
situs mini karena praktis, namun di sisi lain keinginan agar
terintegrasi dengan situs besar mengikuti kelengkapan layanan mereka
dapat menjadi dilema.

Buat saya masih ada tambahan godaan: situs-situs mini dan lincah itu
biasanya bertampilan elok pula. Misi mereka yang spesifik dan sempit
tampaknya memudahkan mereka untuk mempercantik diri lewat desain web
yang mengikuti arahan bakuan
W3C.

Baiklah, disyukuri saja semua kemudahan, lebih banyak pilihan, dan
keriangan ini. Jangan terlalu lama bongkar-pasang onderdil atau
uji-kemudi kendaraan baru, segera tetapkan jenis yang akan
dikendarai dan jelajahi dunia Web 2.0!

4 Comments

  1. Tulisannya khas Mas Amal sekali. Pada beberapa bagian saya kesulitan mengikutinya karena perbedaan zaman 🙂

    1. Loh, rasanya kita baru kemarin sore bertemu di salah satu ruangan di kampus di acara blog dan jurnalistik? Saya masih merasa perbedaan usia kita tidak signifikan, kok… 😉

      1. Err… Mas Amal gak salah orang kan? 😉 Err… barangkali karena kecepatan perubahan sebelum era GUI dan pasca GUI itu menjadi penanda batas usia kita.

Comments are closed.