Gawai Pencatat GPS

Salah satunya bermula dari melongok keriuhan teman-teman yang mewaspadai diri mereka dengan ungkapan “hilang akal,” termasuk tetangga ruang sebelah di kantor, sampailah saya di DealExtreme, toko kelontong gawai (gadget) bergaya Asia Timur. Dua bulan lalu saya tertarik penjelasan otomasi penambahan geotag ke foto yang dijadikan promosi Trackstick, perangkat penjejak (tracking) berbasis GPS. Selain akan memudahkan saya memandu penyetelan geotag untuk koleksi foto saya di Flickr, penyusunan peta perjalanan Kami Memotret Bandung akan menjadi lebih mudah.

Trackstick elegan: dari cara mereka berpromosi dengan sentuhan keperluan geotag foto hingga catu daya berupa baterai AAA yang mudah diperoleh. Peralatan ini termasuk kelompok pencatat (logger), bekerja dengan cara menyimpan informasi posisi dari GPS secara kontinu. Selanjutnya, untuk keperluan foto, informasi waktu yang tersedia di metadata foto digunakan sebagai acuan pencarian posisi hasil pencatatan dan posisi yang diperoleh ditambahkan ke metadata foto.

Continue reading →

Kisah Lama Koneksi Internet Kita

Sebenarnya ada apa sih, kok Internet di Indonesia masih juga mahal?

Akhirnya pertanyaan klise yang senantiasa diamini di forum-forum di ranah maya tsb. tercetus juga di obrolan kami dua hari lalu. Beberapa bulan sebelumnya sebagian dari peserta diskusi tsb. merasa cukup dengan kondisi yang ada (dan tentu saja bukan perbandingan dengan kondisi di mancanegara yang pernah dialami oleh sebagian dari peserta diskusi).

Seorang menimpali bahwa keadaan negara kita yang sedemikian luas, berpenduduk banyak, boleh jadi penyebab kesulitan perbaikan koneksi Internet. Setidaknya, menurutnya, tidak dapat dibandingkan begitu saja dengan Vietnam dan negeri-negeri jiran. Namun hal ini direspon balik: baiklah, memang kondisi tsb. tidak dapat diingkari, namun tidak dapatkan dilakukan perbaikan dalam ukuran lebih terbatas, Jakarta atau Bandung misalnya? Toh, di Jakarta juga belum terasa yang disebut “Internet layak” tsb. (ini klaim dalam diskusi, saya tidak melakukan penelaahan lebih memadai), lebih-lebih Bandung.

Continue reading →

Persilangan Pesan dan Surel di Facebook Mail

Akhirnya tawaran surel (surat elektronik, email) di Facebook datang kemarin, dengan demikian alamat surel saya menjadi empat, diurut secara kronologis pembuatan: di Yahoo! Mail, Gmail, Hotmail, dan Facebook. Semua versi gratis, kecuali untuk Yahoo! Mail saya sempat berlangganan setahun demi jatah ukuran kotak surat yang memadai sebelum Gmail mengubah paradigma surel berbasis web. Empat alamat surel lebih dari cukup buat saya, selain mengingatkan akhir abad lalu, sebelum saya akhirnya menggunakan klien surel berbasis terminal, Mutt di Debian, dasawarsa kedua abad ini ditandai dengan kedatangan surel yang berkurang drastis, disalip oleh volume notifikasi layanan Web dan selebaran komersial.

Saya ceritakan kepada anak kedua saya tentang surel dari Facebook ini, pertanyaan dia tampaknya mewakili sebagian besar pengguna Internet sekarang, Bukannya sudah ada Pesan di Facebook? Jadi perlu saya jelaskan ulang di sini bahwa dengan adanya surel di Facebook berarti pengguna Facebook yang sudah mendapatkan dan mengaktifkan layanan tsb. sekarang dapat mengirim pesan kepada semua pengguna Internet yang memiliki alamat surel kendati dia tidak memiliki akun Facebook.

Continue reading →

Godaan Alat-alat Bantu

Menjelang akhir dasawarsa 1980-an, saat pengolah kata mulai digunakan sejumlah terbatas pemilik komputer pribadi, saya ingat Kompas Minggu pernah menurunkan tulisan khusus tentang perangkat lunak tsb. Dengan foto monitor komputer menampilkan WordStar, tulisan utama di Kompas Minggu menyajikan kemudahan penggunaan pengolah kata, namun di sisi lain juga dipilihkan seorang penulis sohor yang menolak penggunaan pengolah kata. Dalih yang digunakan: aneka fasilitas pengolah kata menjadikannya sibuk mengotak-atik fasilitas tsb. dan mengurangi proses kreatif penulisan.

Jangan heran: mendapati sebuah alat bantu yang sangat memudahkan perataan paragraf di sisi kiri dan kanan sudah mencengangkan saat itu. Saya yang tidak pernah merasakan mesin ketik listrik — dan hanya berbekal cara yang diajarkan di mata pelajaran mengetik untuk mendapatkan paragraf rata kanan — seperti melompat jauh di depan WordStar. Ada hal benar yang disampaikan penulis di atas: kemudahan mengetik dan mengoreksi menjadikan proses “berpikir matang sebelum jari mengetik” berkurang. Yang penting ketik dulu. Mirip dengan penggunaan kamera digital hari-hari ini: bidik, jepret, jika perlu dikoreksi dapat diulang atau dipilihkan dari sekian jepretan; dan bahkan penyuntingan setelah sesi pemotretan pun menolong.

Continue reading →