Pengelolaan Sampah di Kantor

Kantor kami kecil, dengan karyawan total dalam orde belasan dan menempati bangunan sewa di Dago Atas. Salah satu hal yang perlu disyukuri selain pemandangan indah di depan kantor ke Bandung bawah — kendati mulai terhalang bangunan yang menjulang, lahan terbuka cukup luas. Saya pernah bercocok tanam stroberi menggunakan polybag di musim kemarau lalu — walaupun akhirnya berantakan dan pupus di musim hujan-setahun lalu.

Sampah kegiatan kantor, ini yang mengusik pikiran. Jenis reguler tentulah kertas, plastik kemasan kopi dan kudapan. Selanjutnya sisa makan siang dan daun yang gugur dari pepohonan di sekitar. Terakhir aneka wadah makanan dan minuman, seperti botol, kaleng, kardus Tetrapack. Saya mulai pertama kali dengan pengumpulan wadah makanan dan minuman dengan alasan sederhana: sampah jenis ini paling mudah dipisahkan dan diambil pemulung. Tidak jauh dari kantor kami ada pusat pemulung dan selalu ada yang lalu-lalang di jalan depan kantor. Jadi bagian ini “hanya” perlu itikad: tetapkan tempat penampungan, saya pilih di bawah wastafel, setelah berjumlah kira-kira satu tas kresek, letakkan di depan pintu kantor. Dalam orde kisaran sejam, bungkusan tsb. sudah lenyap diambil pemulung. Yang penting sosialisasi kepada teman-teman di kantor agar meletakkan botol plastik (jenis ini terbanyak) di belakang, termasuk tangan dingin mengambil dari tempat sampah jika ada yang lupa atau tetamu. Karton, kardus, dan kertas dikumpulkan, diikat tali rafia dan mudah juga diserap para pemulung.

Mana Teman Lembur Nanti?

Hati-hati dengan kertas sisa dokumen konfidensial, tagihan kartu kredit misalnya. Kelompok ini dirajang dengan mesin otomatis berukuran kecil dan hasil rajangan ternyata dapat digunakan untuk pelindung kemasan pengiriman robot mainan usaha salah satu teman kantor. Setelah diketahui manfaat tambahan yang ini — dan ybs. malah meminta tambahan rajangan — kemungkinan sampah kertas sebagian akan dimasukkan ke mesin perajang. Kertas lain disatukan dengan koran dan pengumpul koran siap menerima.

Langkah kedua: sampah plastik saset. Termasuk kelompok ini: saset kopi, camilan, dan wadah isi ulang bahan-bahan dapur. Saya mendapat informasi dari Budi Widyanto, teman orang tua di Sekolah Alam Bandung, tentang aktivitas pengrajin saset kemasan. Semula saya berencana dititipkan lewat dia, karena kelompok yang dibina berada di Buah Batu, cukup jauh. Sudah terkumpul hingga dua zak besar, agak repot juga melakukan koordinasi pengambilan dari kantor kami. Akhirnya dari pameran lingkungan di ITB saya mendapat keterangan usaha serupa di dekat kampus Unisba, Jalan Tamansari. Beres, dua zak besar sudah diekspor ke pengrajin di Balubur dan dekat Unisba tsb.

Terakhir, sampah organik. Ini tantangan berikutnya, karena selama ini terkadang masih dibakar di belakang kantor oleh tukang sapu. Akan halnya sisa makan siang baru inisiatif individu dalam bentuk ditanam secara sporadis di lahan sebelah. Rencana berikutnya adalah pengolahan berdasarkan rujukan dan dilihat sebagai peluang bisnis kompos untuk peningkatan penghasilan tukang sapu.

Bagian yang penting dari pengolahan sampah di tingkat pemilahan ini adalah sosialisasi. Bentuk yang dilakukan di kantor kami adalah pengumuman berkali-kali saat rehat makan siang — termasuk dalam bentuk kelakar-kelakar yang provokatif. Untuk keperluan itu pula sediakan tempat penampungan yang mudah diakses diikuti penjelasan yang jelas dan lengkap. Di dekat dispenser dipasang pengumuman jelas agar saset dikumpulkan di tempat sampah khusus dan jika ada yang lupa diingatkan dengan cara baik dan saset tetap dipindahkan ke tempat sampah khusus.

Penekanan lain adalah nilai ekonomis sampah, walaupun tidak selalu menjadi profit untuk kantor kami. Dengan memudahkan pemulung mendapatkan sampah sesuai spesialisasinya, itu akan membantu pekerjaan mereka, yang tentunya berimbas ke penghasilan mereka.

Target yang besar dapat dijalani dengan bertahap, dengan demikian keberhasilan pada satu tahap akan memicu untuk melangkah ke tahap berikutnya yang lebih sulit. Sering kami bercanda, “dengan pemilahan sampah ini kita bersepakat menyelamatkan dunia yang fana.” Tentu saja semua tergelak-gelak, tidak menjadi masalah, yang penting selanjutnya ybs. tergerak memisahkan sampah buangannya.

8 Comments

  1. Salut dengan usaha memilah sampahnya, Mas Amal! Sekarang saya belum bisa memilah, namun sudah berusaha mengurangi penggunaan kantung plastik kresek.

    1. Ikhlasul Amal 5 April 2011 at 00.58

      Terima kasih. Baru rintisan, masih harus terus dikembangkan. 🙂

  2. hal-hal kecil berdampak besar… bisa dibilang, perusahaan ini lebih hebat dalam hal tanggung jawab sosial. dan yang paling penting adalah keberlanjutannya.

    1. Ikhlasul Amal 5 April 2011 at 01.00

      Betul, soal konsistensi atau istiqomah penting. Salah satu cara yang saya pakai adalah memasang target yang realistis dan bertahap dengan hasil sementara yang sudah dapat dinikmati. Dulukan yang mudah.

  3. Saya yang jadi TKI di Singapore, sudah lama disediakan 3 tempat sampah umum selain "garbage chute" untuk sampah biasa, yang bisa diakses dari masing-masing dapur. Sampah plastik, sampah kertas dan sampah kaleng aluminum adalah yang perlu dipilah dan setiap penghuni harus mendatangi tempat sampah tersebut, alias harus mengantar. Boleh dibilang suatu UU atau by-law, tapi UU ini bunyi bahwa pengelola yang harus menyediakan saran tempat sampah untuk recycle-ables. Jadi warga atau penghuni tidak atau belum wajib memilah sampah, lebih karena kesadaran.

    Tapi yang mungkin bisa ditiru, di kantor kami, sudah lama sampah-sampah kecil yang biasa ada di bawah atau dekat dengan meja karyawan, tiadakan. Hanya di daerah pantry, sampah umum dan sampah recycle-able. Jadi kalau mau membuang sampah, yang harus mengantar sendiri dan karena dilihat oleh yang lain, mau tidak mau, harus rajin memilah.

    1. Ikhlasul Amal 5 April 2011 at 01.01

      Terima kasih. Lain ladang, lain belalang; yang baik ditiru! 🙂

  4. Wah, postingannya ngasih pencerahan buat saya yang lagi bikin smacam pengarahan pemilahan sampah di kantor. saya lagi ribet bikin pengarahan untuk area pantry, terutama perihal nasi bungkus, styrofoam bekas wadah makanan,heuheu.. maklum, tugas divisi lingkungan 😀

    Salam Kenal, Kyky ^__^v

  5. Wah, sangat menginspirasi sekali. Lanjutkan gerakan pengolahan sampah, harus ditularkan ke masyarakat luas agar lingkungan kita menjadi asri.

Comments are closed.