Interkoneksi Nasional (IIX) dan Akses Lewat Koneksi Seluler

Awalnya kami melihat koneksi dalam negeri, yang disebut IIX, cocok untuk layanan pemantauan. Digunakan di dalam negeri, mengandalkan koneksi seluler untuk akuisisi data, dan laporan diakses pengguna lewat koneksi ADSL, semisal Telkom Speedy. Ongkos akses lebarpita dalam negeri yang lebih murah, seperti halnya keuntungan industri permainan lokal yang diakses Warnet lewat “akses dalam negeri”, adalah nilai plus untuk meletakkan server (colocation) di salah satu simpul IIX. Hal ini sudah berjalan sekitar dua tahun.

Sampai akhirnya awal tahun 2011 ini: kami membuka layanan ini untuk klien (B2B) yang memiliki konsumen “rumahan”: datanglah pengakses layanan kami via telepon seluler. Setelah aplikasi untuk jenis peralatan ini disediakan, kabar dari klien kami: koneksi ke aplikasi kami di server sangat lambat, malah kerap gagal. Padahal berasal dari mesin yang sama dan server web yang sama pula dengan aplikasi yang diakses lewat jalur ADSL. Ada apa dengan rute untuk koneksi seluler?

Continue reading →

Lagi-lagi Google

Kemarin sore saya berkesempatan diundang makan malam teman pengembang aplikasi berbasis GIS. Di tengah pembicaraan bebas diselingi beberapa trik ringan optimasi untuk server Apache, model pengaksesan ke dua basisdata untuk aplikasi di atas Code Igniter, saya menceritakan “kedigdayaan” dan kepraktisan penggunaan layanan Google Apps untuk email yang telah membantu banyak organisasi.

Dia menambahi dengan pengalaman kerepotan salah seorang pengelola layanan email kantor yang disusun sendiri. Sejak penyiapan infrastruktur agar server email tsb. siap mengirim dan menerima, hingga kemudian komplain-komplain dari pengguna pasal kecepatan dan galat sistem. Saya pernah mendengar penuturan serupa di tempat lain, Pakai webmail di kantor sendiri kok malah lebih lambat? Belum lagi keterbatasan ukuran lampiran yang dapat dikirimkan.

Continue reading →

Pengelolaan Sampah di Kantor

Kantor kami kecil, dengan karyawan total dalam orde belasan dan menempati bangunan sewa di Dago Atas. Salah satu hal yang perlu disyukuri selain pemandangan indah di depan kantor ke Bandung bawah — kendati mulai terhalang bangunan yang menjulang, lahan terbuka cukup luas. Saya pernah bercocok tanam stroberi menggunakan polybag di musim kemarau lalu — walaupun akhirnya berantakan dan pupus di musim hujan-setahun lalu.

Sampah kegiatan kantor, ini yang mengusik pikiran. Jenis reguler tentulah kertas, plastik kemasan kopi dan kudapan. Selanjutnya sisa makan siang dan daun yang gugur dari pepohonan di sekitar. Terakhir aneka wadah makanan dan minuman, seperti botol, kaleng, kardus Tetrapack. Saya mulai pertama kali dengan pengumpulan wadah makanan dan minuman dengan alasan sederhana: sampah jenis ini paling mudah dipisahkan dan diambil pemulung. Tidak jauh dari kantor kami ada pusat pemulung dan selalu ada yang lalu-lalang di jalan depan kantor. Jadi bagian ini “hanya” perlu itikad: tetapkan tempat penampungan, saya pilih di bawah wastafel, setelah berjumlah kira-kira satu tas kresek, letakkan di depan pintu kantor. Dalam orde kisaran sejam, bungkusan tsb. sudah lenyap diambil pemulung. Yang penting sosialisasi kepada teman-teman di kantor agar meletakkan botol plastik (jenis ini terbanyak) di belakang, termasuk tangan dingin mengambil dari tempat sampah jika ada yang lupa atau tetamu. Karton, kardus, dan kertas dikumpulkan, diikat tali rafia dan mudah juga diserap para pemulung.

Continue reading →