Perubahan Sudut Pandang: Cerita dari Mencetak Pasfoto

Untuk keperluan cetak pasfoto, saya merangkai susunan foto dalam tiga ukuran populer: 2 × 3, 3 × 4, dan 4 × 6 memenuhi bidang berukuran kertas foto 5R, 127 × 178 mm. Tujuan saya memang mendapatkan harga yang lebih murah. Cuci cetak foto “ukuran besar”, seperti 4R dan 5R, lebih murah dibanding paket pasfoto yang biasanya terdiri atas sekian helai pasfoto berbagai ukuran. Dengan hasil kolase yang saya buat, sehelai cetakan terdiri atas tiga ukuran dan memadai untuk beberapa keperluan yang terkadang meminta berbagai ukuran.

Pasfoto berukuran 5R Pada mulanya cara saya di atas tidak dipermasalahkan oleh gerai layanan cuci cetak foto. Saya berpendapat hasil yang ada di atas foto — baik itu langsung dari kamera atau luaran perangkat lunak olah digital — bebas saja bentuknya dan layanan yang saya perlukan adalah pencetakan. Cukup adil atau saya justru berkompetisi langsung dengan bisnis mereka?

Pada kesempatan kedua, saya diberi tahu oleh petugas penerima bahwa ongkos untuk foto saya mengikuti harga pasfoto di sana, bukan foto 5R. Dengan sedikit mengernyitkan dahi saya setujui. Baiklah, saya mengalah dalam hal harga yang dipilihkan, karena sebenarnya hasil cetakan masih “lebih menguntungkan” dibanding paket pasfoto di sana.

Barulah pada kedatangan ketiga, mereka menjelaskan bahwa saya harus mengikuti aturan paket cetak foto di sana. Yang berarti saya cukup menyerahkan foto asli dan nanti akan disusunkan kembali sesuai paket pasfoto. Saya jelaskan bahwa saya tidak berkeberatan foto 5R tsb. diikutkan harga paket pasfoto, namun tetap minta agar foto dicetak 5R karena cocok dengan keperluan. Memang akhirnya permintaan saya dipenuhi, namun mereka masih menambahi keterangan bahwa berikutnya jika mencetak di gerai tsb. perlu mengikuti ketentuan yang berlaku.

Sambil menunggu proses pencetakan, saya timbang-timbang: sebenarnya saya tidak taat aturan atau sedang menyelenggarakan persaingan langsung dengan bisnis mereka? Karena seharusnya mereka tidak perlu mengomentari atau mempermasalahkan isi foto tsb. dan tinggal mencetak. (Dengan catatan: foto-foto yang saya bawa tidak melanggar adab, kesusilaan, dan hal-hal yang berisiko di ruang publik.) Misalnya di gerai tsb. terdapat mesin pembaca flashdrive dan pelanggan mengatur sendiri pesanannya sampai dengan foto dicetak, tentu mesin pembaca tidak akan mempermasalahkan isi foto yang saya bawa.

Bagaimana jika berikutnya saya ganti datang ke gerai otomatis seperti itu? Masih agak menyangsikan karena saya tahu di gerai otomatis tsb. mereka juga berbisnis pembuatan paket pasfoto. Jadi, lagi-lagi saya dapat dipermasalahkan karena bersaing dengan bisnis utama mereka dan belum semua pelaku bisnis cukup berlapang dada bersaing langsung, bahkan dengan konsumen ecek-ecek seperti saya.

Kesimpulan cepat: berarti saya datang di tempat yang salah dengan ide tsb. karena langsung menohok bisnis mereka. Saya harus segera ganti haluan jika tetap ingin mempertahankan ide tsb. Aha, ini justru tantangan!

Seketika itu terpikir: berarti saya harus pindah mencetak foto bukan di gerai layanan cetak foto resmi, melainkan di pencetakan digital. Di Bandung, biasanya layanan tsb. satu tempat dengan fotokopi dan pencetakan dengan plotter. Ya, di sana konsumen lebih bebas mencetak bermacam-macam media dan ukuran, tidak dibatasi oleh aturan-aturan main cuci cetak foto. Kualitas pencetak sekarang pun sudah sangat bagus, lebih-lebih di atas kertas glossy.

Adil, kan? Saya tetap dapat melanjutkan keinginan saya dan tidak perlu melanggar aturan main bisnis. Kebetulan setelah cuci cetak foto saya perlu singgah di gerai fotokopi, langsung saya tanyakan. Hasilnya, lebih murah: pencetakan di atas kertas glossy Rp 8.000 untuk kertas berukuran A4, 210 × 297 mm². Wah, beberapa kali lipat luasnya!

Bagaimana pasal kualitas cetakan? Tentu, ini perlu dicoba untuk melihat hasil akhirnya. Yang jelas, saya pernah menanyakan perihal keawetan cetakan ke penjual pencetak sistem infus di Bandung Electronic Centre, jawabannya, Mungkin tidak seawet cetak foto dengan mesin khusus itu, namun jika nanti pudar atau rusak, ya cetak saja lagi. Kan jauh lebih murah!

Jawaban bagus, karena model bisnis dan beberapa paradigma yang mendukung bisnis tsb. sudah bergeser. Jadi yang penting, perlu digeser juga sudut pandang kita.

4 Comments

  1. Adham Somantrie 4 February 2011 at 06.30

    dulu saya suka mencetak untuk ukuran 2R dengan menggabungkan 2 foto dan dicetak di ukuran 4R (atau 3R)… sehingga jadi lebih ekonomis..

    tapi sialnya, jika kedua foto itu memiliki karakter warna yang berbeda, secara default foto itu akan "dikoreksi" kecerahan, kontras, dan keseimbangan warnanya. sehigga menjadi tidak optimal. karena ketiga parameternya adalah gabungan kedua foto.

    hal ini bisa diakali dengan melakukan koreksi sendiri, dan meminta agar foto tidak perlu dikoreksi lagi di studio foto atau tempat pencetakan foto.

  2. Whuakakakaka…. kartu Nikah saya, KTP saya, Kartu Jamsostek saya, semuanya saya cetak di kertas A4 biasa dengan printer yg juga biasa tapi warna. Dan semuanya LOLOS….

    Terkadang nekat itu perlu 😀

    1. Ikhlasul Amal 6 February 2011 at 04.53

      Heh? Ini tentang sudut pandang bisnis yang bergeser kok, bukan otak-atik dokumen agar lolos atau tidak. :p

  3. coba cari gerai lain lagi aja Mas Amal,.. siapa tau peraturannya tidak se-kolot yang ini.. bagaimanapun kan ini cuma perikatan antara penjual dan pembeli.. penjual kasih aturan.. pembeli bisa bernegosiasi,.. kalau penjual ga mau, pembeli bebas untuk mencari penjual lain…

    btw, keawetan hasil cetak? hmm.. sepertinya ga jauh beda.. kan mesin cetaknya juga hampir sama.. yang membedakan harusnya adalah kualitas tinta.. tapi, di negara kita ini, di tempat ekonomi biaya tinggi, dengan biaya usaha lazim menyertakan "duit preman", mayoritas paling pakai tinta isi ulang.. hehehe..

Comments are closed.