“Netizen” di Jawa Barat: Sistem atau Barang?

Sehari setelah [Indonesia.com di Kompas](http://direktif.web.id/a/2010/12/indonesia-dot-com/), koran Jawa Barat, Pikiran Rakyat, mengangkat tema mirip, [Menuju Masyarakat Jabar yang Netizen](http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?kd_sup=6&date=2010-12-27). Berbeda dengan Kompas yang menampilkan tulisan bersifat renungan akhir tahun dan riak-riak perubahan-perubahan yang sudah terasa di masyarakat, Pikiran Rakyat mendudukkan pemerintah, pengamat, dan kabar dari lapangan. Wakil Gubernur, Dede Yusuf, diwawancarai, [Jawa Barat Menuju Masyarakat Digital](http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=169208) dan Cimahi sebagai maskot, [Cimahi, Pertama Menjadi “Cyber City”](http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=169222). Kesamaan kedua media adalah narasumber dari ITB: Kompas menampilkan pendapat kontemplatif Yasraf A Piliang, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain, Pikiran Rakyat menyuguhkan “bahasa infrastruktur” dosen Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika, Budi Rahardjo, [Jalan Panjang Menuju Jabar “Cyber Province”](http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=169217).

Jawa Barat kerap mengambil posisi sebagai perpanjangan ibukota. Secara geografis memang tidak perlu dibantah dan ini diperkuat oleh salah satu visi provinsi, “Menjadi mitra terdepan ibukota negara.” Terakhir, Wakil Gubernur menyatakan “sikap realistis” jika [ibukota negara dipindahkan ke Jawa Barat](http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=169276).

Jangan mudah terlena dengan menjadi perpanjangan Jakarta, boleh jadi
yang diperluas malah problematika permasalahan ibukota, alih-alih menyodorkan
sebuah terobosan baru, sebagai provinsi atau metropolis yang tidak
terjerembap pada galian permasalahan yang sama. Teknologi terbaru
yang diperkenalkan di Jakarta memang dalam orde hari akan muncul
pula di Bandung, ibukota Jawa Barat, tetap saja: yang datang berupa
kemudahan dan manfaat untuk masyarakat luas atau gadget seri
baru?

Sambil ancang-ancang menyongsong 2012, seperti yang dicanangkan oleh
Wakil Gubernur, sering terpikir: sebenarnya yang perlu
didatangkan itu sistem yang lebih baik atau suatu barang bla-bla-bla?

Kita perlu e-gov yang cakap, daring, terintegrasi, atau sistem
birokrasi yang lebih memudahkan rakyat, yang mendudukkan birokrasi
pada khittah-nya melayani publik?

Kita membangun halte yang bersolek di jalan utama kota — di Bandung
contohnya — atau sistem transportasi publik yang benar-benar
mengangkut masyarakat sesuai keperluannya?

Dan sekarang ramai-ramai e-KTP dipromosikan oleh Menteri Dalam
Negeri: ini tentang sekeping chip pengganti kertas cetakan
atau tertib administrasi baru yang juga memudahkan mobilisasi
warga negara ini sendiri?

Ah, retorika juga pertanyaan di atas; barangkali karena hampir
setiap bertemu para teknokrat, saya dengar jawaban untuk saat ini
ada pada kemauan kuat para pengambil kebijakan. Tak elok berputus
asa, pun kesungguhan masih berupa perca-perca terserak-serak tidak
rata.

4 Comments

    1. Terima kasih.

      Hmm, Sumedang, ya. Boleh, sambil mengobrol tentang fotoblog? πŸ™‚

  1. problematika? Kata ini sudah diadopsi tho Mas Amal? Saya suka gregetan saat membaca kata problem ditulis tanpa cetak miring oleh harian Kompas.

    Kata-kata penutup tulisan ini sangat Mas Amal sekali. Err… Ibukota tidak lebih baik dipindahkan ke Pulau Kalimantan?

    1. Terima kasih, Zaki. πŸ™‚

      Koreksi sudah diterima dan diperbaiki di atas. Problematika memang tidak ada di KBBI, yang ada problematik. Berarti saya harus terus lebih banyak memeriksa istilah.

Comments are closed.