“Indonesia Dot Com” di Akhir Tahun

Kompas Minggu terakhir untuk tahun 2010 kemarin berisi koleksi tulisan “renungan akhir tahun” tentang Indonesia masa kini berkait dengan era media digital. Bre Redana yang memang memiliki spesialisasi tulisan kehidupan dan gaya hidup urban mengawali dengan Menuju Indonesia.com di halaman depan dan menorehkan catatan “Selamat Tahun Baru” dengan gayanya di Dunia Artifisial. Sebagai kelengkapan, paparan dari sisi sosial budaya dicetuskan di Robohnya Batas Kita oleh Sarie Febriane dan Putu Fajar Arcana, aspek bisnis dengan pendekatan contoh kasus yang membumi di Rendang Pun “Berselancar” di Internet, dan tidak tertinggal fiksi mini yang menjadi metafor pengaruh Twitter di penutup dasawarsa pertama abad ini, Kembali pada Komunalitas.

Karena ini ihwal media, dengan slogan akbar, media itu sendirilah pesannya (medium is the message), penjelasan beberapa pakar lewat literatur dan wawancara melengkapi kajian urban kita tentang Indonesia masa depan. Pengertian “urban” pun sudah meluas di Pulau Jawa, karena seperti ditengarai Syumanjaya di tahun 1980-an, “Kota Jawa”, bukan pulau lagi. Suatu pulau dalam pengertian geografi yang mengakomodasi dunia nyata dan ranah maya dengan sama gaduhnya.

You Can't Beat The Feeling

Seperti banyak tulisan lain tentang media baru secara global, kita berada pada sisi positif, “perbaikan yang perlu disikapi dengan kehati-hatian,” atau sikap tanggung, “harap-harap cemas,” hingga yang lebih skeptis, “tunggu dan lihat.” Lebih spesifik untuk Indonesia, dengan dinamika aneka kesetimbangan baru di dalamnya, tampaknya media baru sudah terlihat berkontribusi di bagian kulit, sedangkan di bagian dalam, bagian pengalaman kebudayaan, proses tarik-ulur masih akan berlangsung antara bagian yang merupakan hakikat dengan sifat artifisial dan kesementaraan.

Bagian kulit yang merupakan infrastruktur di negeri ini banyak dibantu oleh kemudahan media baru. Ongkos publikasi lebih murah, pekerjaan lebih praktis dilakukan, dan jaring-jaring penghubung dengan lebih seketika membantu banyak urusan publik. Beberapa kemacetan penyelenggaraan infrastruktur oleh pemerintah terbantu atau digantikan dengan swadaya digital masyarakat. Seperti gurauan terhadap film-film, “Polisi datangnya terakhir,” demikian pula yang terjadi dalam percepatan penyelenggaraan infrastruktur ini.

Kulit infrastruktur ini yang lebih dulu terasa oleh penjaja rendang, pengorganisasi bantuan masyarakat untuk korban bencana, ojeg atau sopir taksi yang sekarang berponsel, hingga penulis amatir seperti saya. Wajar juga jika ulasan pada sisi ini sering dibenturkan terhadap peran pemerintah, karena penyediaan infrastruktur seharusnya tanggung jawab pemerintah, sebagai representasi amanat kita hidup berjemaah. Dengan kata lain: kegemilangan media baru membantu masyarakat Indonesia saat ini dipengaruhi pula oleh peran pemerintah yang masih berada pada fase booting sistem operasi.

Sebaliknya, masyarakat Indonesia tetap harus rendah hati, tetap perlu berintrospeksi, jika sudah dikaitkan dengan kondisi dalam kita sendiri. Bagian ini biasanya berkaitan dengan kondisi sosial, budaya, dan dalam bisnis pun perihal peta langkah kemajuan kesejahteraan kita bersama sebagai bangsa. Kita masih harus banyak membaca secara runut, tidak cukup hanya melompat-lompat di dunia hiper. Kita perlu bersikap dan bertindak nyata di jalan, lebih dari sejumlah ajakan dan orasi kebaikan di papan status jejaring sosial. Dengan sekian belas juta warga negara ini berstatus sebagai konsumen di ranah maya, semua yang telah kita belanjakan tentulah ada pertanggungjawabannya terhadap manfaat bersama.

Inilah media baru kita, keniscayaan yang kita hadapi bersama: jika kosmetik memoles kulit, harapan dan doa agar kekayaan hati lebih baik membawa langkah kita.

Catatan: artikel di Kompas edisi daring dapat dibaca dengan melakukan log masuk terlebih dulu.

3 Comments

  1. Saya pernah dengan ucapan seseorang (dan sy sepenuhnya sepakat): ketika politik dari A hingga Z masuk ke TV dan disaksikan banyak orang, secara terus menerus, maka mereka pun merasa telah "berpolitik". Mungkin ini jg paralel dgn para activist socmed yg lantang ngetwit tp gentar beraksi kongrit (walau bukan berarti ti berkicau di twitter itu bukan tindakan).

  2. wah Mas Amal mengulas isu Kompas Minggu dengan mendalam. Dan tentu dengan gaya khas berdialektika-nya. 1/2 filosofis, 1/2 sastra, namun belum sampai seperti Yasraf ataupun Dewi Lestari 🙂

    Jadi, jangan lupa untuk terus membaca buku dan berbuat aksi di dunia nyata!

    1. Terima kasih.

      Betul sekali, saya sungguh bukan Tuan Yasraf atau Puan Lestari, agar para pembaca maklum adanya. 🙂

Comments are closed.